Sebutan Jateng Kandang Banteng, Begini Tanggapan Pak Dirman

Sebutan Jateng Kandang Banteng, Begini Tanggapan Pak Dirman

65 views
0
SHARE

Kabarone.com, Semarang – Calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said ingin memecahkan mitos politik, bahwa Jawa Tengah adalah kandang banteng. Hal tersebut semakin didorong karena kondisi Jawa Tengah tidak juga berubah, soal kemiskinan utamanya.

Di hadapan pemuda dari Cilacap dan relawan Masjid, masyarakat dan jamaah pendukung Sudirman Said, pasangan Ida Fauziah tersebut mengatakan dirinya tidak nyaman dengan sebutan Jawa Tengah adalah kandang banteng.

“Jawa Tengah harus dikembalikan pada martabatnya, yakni sebagai tempatnya manusia seutuhnya,” kata pak Dirman, Minggu (28/1) di markas Perjuangan Merah Putih, jalan Pamularsih 95, Semarang.

Memang, terdapat setidaknya 17 bupati/walikota di Jawa Tengah. Semarang, Solo, Banyumas, Purbalingga, Brebes, Boyolali misalnya.

“Kekuatan itu ada batasnya. Saya sowan ke beberapa kiai, dapat pesan, Allah akan memberi pertolongan pada orang baik, sebagaimana setan akan memudahkan pekerjaan orang tidak baik,” kata dia.

Pemimpin yang baik, lanjutnya, jika memberi perhatian yang diarahkan serius kepada kelompok marginal, jika demikian kelompok di atasnya pasti ikut. Yang bawah difasilitasi, yang di atas perlu sedikit diawasi.

“Kemiskinan di Jawa Tengah sangat tinggi. Akhir 2017 mencapai 13, 58 persen atau 4,577 jiwa. 15 kabupaten masuk zona merah, artinya 20 persen penduduk di 15 kabupaten tersebut hanya mampu menghidupi dirinya dengan biaya di bawah Rp 10.000 per hari,” kata dia.

Pak Dirman mengatakan bahwa perubahan hanya bisa diraih jika pemimpinnya yang memulai. Pak Dirman mengatakan, jika pemimpinnya, kepala kantornya memecahkan persoalan sungguh-sungguh, bawahannya ikut. Jika gubernurnya bermedsos terus bawahannya ya begitu.

“Tidak banyak yang tahu, bahwa selain jumlah keluarga miskin tersebut, masih terdapat 15.229.994 jiwa yang terjebak kategori belum sejahtera. Ini cukup mengkhawatirkan,” kata dia.

Kepada relawan yang hadir Pak Dirman berpesan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan dimulai dari sekitar, dengan jalan musyawarah dan gotong royong.

“Saya tidak akan menyuarakan permusuhan, namun perubahan. Memang jalan semakin menanjak, namun kawan yang bergabung juga semakin banyak,” tandas dia. (Amr)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY