60 Persen Dari 1.253 Koperasi Di Bojonegoro Aktif, Selebihnya Aktif Tapi Perlu...

60 Persen Dari 1.253 Koperasi Di Bojonegoro Aktif, Selebihnya Aktif Tapi Perlu Pembinaan Dan Pendampingan

210 views
0
SHARE

Kabarone.com Bojonegoro – Sebenarnya keberadaan koperasi sangat membantu perekonomian warga Bojonegoro. Apalagi kabupaten yang dikenal dengan legenda Angling Dharma, merupakan daerah pusat lumbung pangan dan energi. Sehingga koperasi seharusnya dapat menaungi berbagai kegiatan perekonomian warganya.

Dari data yang diperoleh wartawan Kabarone.com, Rabu (25/7) dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkopum) Bojonegoro, menyebutkan ,”Dari total 1.253 Koperasi yang ada di Bojonegoro 60 persen aktif, selebihnya aktif tapi perlu pembinaan dan pendampingan”, kata Wawan Setiawan dari Bidang Kelembagaan Koperasi Dinkopum Bojonegoro.

Sedangkan yang membubarkan diri terdapat 66 koperasi, jumlah itu dari data yang tercatat di 2016. Untuk dua tahun setelahnya masih dalam proses pemantauan Dinkopum.”Namun tetap ada yang membubarkan dalam dua tahun ini, seingat saya belum lama ini ada koperasi serba usaha di Kecamatan Kedewan, yang dalam rencana pembubaran,” jelasnya.

Kondisi itu semua karena usaha maupun kegiatan koperasi mengalami kembang kempis. Tentang pembubaran bukan dilakukan Dinkopum, namun langsung oleh Kementerian Koperasi. Dikarenakan kementerian yang berwenang, beberapa faktor yang menyebabkan koperasi bubar maupun tidak aktif. Diantaranya mengalami kebangkrutan.

Kehabisan modal atau pengurusnya tidak mampu mengelola koperasi. Seperti salah satunya, bubarnya Koperasi Unit Desa (KUD) Margomulyo Kecamatan Balen Bojonegoro, menurut Kepala Desa Margomulyo Nadif Ulfa, dikarenakan tidak mampunya pengurus.”Tapi karena, KUD itu berada di desa kami. Dalam waktu secepatnya kami bangkitkan kembali,” katanya.

Terpisah Ketua KUD Kapas Bojonegoro Ruslan mengakui koperasinya belum bubar. Namun kondisinya sangat memprihatinkan, usaha yang dulunya sangat membantu warga. Saat ini hanya menarik pembayaran rekening listrik saja.”Semestinya pemerintah, mulailah kembali peduli dengan koperasi di desa,” katanya.

Dia menegaskan Dinkopum Bojonegoro sangat tidak memperhatikan nasib koperasi. Seharusnya berusaha melakukan pembinaan khususnya memberikan pelatihan pengelolaan modal koperasi hingga pemasaran.”Apalagi bicara modal, kami ini sudah tidak direspon. Termasuk juga oleh perbankan,” tegasnya.(pur)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY