Diduga Abaikan PMK Tahun 2014 tentang Standar Tarif JKN, Oknum Rumah Sakit...

Diduga Abaikan PMK Tahun 2014 tentang Standar Tarif JKN, Oknum Rumah Sakit Patut Diberi Sanksi

104 views
0
SHARE

Kabarone.com, Lamongan – Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat atau JKN-KIS telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan kian terbuka. Tidak ada lagi hambatan biaya ketika berobat.

Namun, dalam pelaksanaannya masalah-masalah teknis yang muncul pada implementasi program. Antrean berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan, rujukan yang menyulitkan, sulitnya mencari ruang perawatan intensif, obat yang tidak tersedia, hingga kartu peserta yang tak bisa digunakan menjadi kasus yang masih saja ditemukan dimasing-masing rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan BPJS.

Hal ini terjadi dan ditemukan di Rumah Sakit Muhamadiyah Lamongan (RSML) yakni, menolak R-F (60) pasien pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk melakukan operasi penyakit tumor kepala, pihak rumah sakit beralasan kartu KIS milik pasien yang ingin operasi tersebut tidak bisa di gunakan di rumah sakit tersebut.

Menurut keterangan dari pihak keluarga pasien saat dikonfirmasi wartawan, ia mengatakan, sekitar dua minggu lalu pihaknya ingin mengajukan agar bapaknya di lakukan operasi di RSML dengan menggunakan kartu KIS, namun di tolak oleh pihak rumah sakit dengan alasan kuota KIS sudah habis, dan baru bisa di gunakan lagi di bulan mei 2019.

” Sebelumnya, bapak saya sudah berobat di rumah sakit tersebut, untuk menjalani pengobatan gejala stroke selama satu bulan lebih, ketika di lakukan scane kepala ternyata bapak saya mengidap penyakit tumor di kepala, kemudian saya mengajukan agar di lakukan operasi pada RSML, ketika saya ingin mengajukan operasi bapak saya, salah satu staf di RSML mengatakan bahwa untuk kouta KIS bapak saya sudah tidak bisa di gunakan lagi,” unjarnya pada Jum’at (16/11/2018).

Lebih lanjut, pihak rumah sakit menyarankan agar ayahnya di lakukan operasi tumor kepala sebagai pasien umum tidak memakai KIS agar segera bisa di tangani dan di lakukan operasi bedah.

” Petugas rumah sakit swasta tersebut mengatakan biaya yang harus di keluarkan untuk operasi berkisar antara 30 juta hingga 40 juta Rupiah, selama masa operasi. Namun, sebagai pihak keluarga mengeluhkan karena terkendala dengan biaya yang tidak sedikit di keluarkan untuk biaya operasi.

Kami sempat kebingungan dan putus asa, akhirnya melalui teman saya di sarankan agar bapak saya di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lamongan, yang kemudian saya di suruh meminta rujukan dari puskesmas dimana sesuai alamat tempat tinggal agar secepatnya mendapatkan rujukan ke RSUD Lamongan,” terangnya.

Sebelum bapaknya di lakukan operasi di rumah sakit daerah tersebut, Ia mengatakan sempat bertanya ke salah satu dokter terkait dengan kuota KIS yang sudah habis untuk Rumah Sakit Muhamadiyah Lamongan, dokter tersebut mengatakan hanya sebuah alasan saja.

” Ditirukan oleh keluarga pasien R-F, “Pernyataan salah satu dokter di rumah sakit daerah tersebut. KIS itu tidak ada limit plafonnya untuk berobat, karena KIS sudah di subsidi oleh pemerintah pusat, kalau tidak menerima pasien KIS berarti rumah sakit yang disebut tidak menghiraukan PMK tahun 2014 tentang standar tarif Jaminan Kesehatan Kasional (JKN),” jelasnya.

Dijelaskan, saat ini bapak saya sudah selesai operasi tumor kepala, dan sudah di bawa pulang ke rumah seminggu yang lalu,” alhamdulilah operasi berjalan lancar tidak ada kendala apa-apa selama kurang lebih seminggu, kondisi bapak saya juga semakin membaik tiap harinya,” kata pria dengan satu anak tersebut.

Sedangkan perwakilan manajemen Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) Fifi saat dikonfirmasi menjelaskan, ia menepis kabar bahwa pihak rumah sakit memberlakukan aturan kuota perawatan bagi pasien Kartu Indonesia Sehat (KIS).
”Pasien atas nama R-F dianjurkan pulang karena memang kondisi kesehatannya telah membaik,” kata Fifi.

Ditambahkan oleh Fifi selaku costumer servis, kuota KIS tidak ada limitnya, pasien apa saja bisa rawat di RSML, mengenai dengan kuota KIS yang habis mungkin itu bisa saja, karena untuk kamar pasien biasanya di agendakan supaya tidak over kapasitas. Hal ini terjadi mungkin bukan di rumah sakit ini saja yang menerapkan hal seperti itu, rumah sakit Dr Soetomo pun sudah menerapkan hal serupa, itu untuk mengantisipasi agar tidak sampai over kapasitas,” jelasnya.

Masih dengan Fifi, ” Mengenai kejadian tersebut ia menepis bahwa pasien pemegang KIS tidak bisa di rawat di RSML. Mohon diklarifikasi terlebih dahulu siapa nama pasiennya, rekam medisnya apa, yang menyampaikan kalau kuota KIS habis itu petugas apa, kalau bisa keluarga pasien suruh komplain ke rumah sakit, selanjutnya nanti akan kita sampaikan ke kepala bagian rumah sakit,” pungkasnya. (ful)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY