Imron Ichwani, Anak Tukang Bubur Dilantik Jadi Taruna Akmil

Imron Ichwani, Anak Tukang Bubur Dilantik Jadi Taruna Akmil

60 views
0
SHARE

Kabarone.com, MAGELANG – Imron Ichwani, pemuda asal Purbalingga secara resmi dilantik menjadi Prajurit Taruna oleh Marsekal TNI Hadi Tjahjanto S.I.P bersama dengan 775 Prajurit dan Bhayangkara Taruna lainnya di Stadion Sapta Marga, Kampus Akademi Militer (Akmil) Magelang, Kamis (1/11).

Akan tetapi sayang di hari bahagianya itu, sang ayah tidak bisa hadir karena harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Anak dari Sugeng Suroso yang berprofesi sebagai penjual bubur ayam beralamatkan di Jalan Cempaka RT 03/06 Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga ini menyampaikan bahwa menjadi Taruna Akmil merupakan cita-citanya sejak kecil.

Imron merupakan salah satu calon taruna yang sempat viral di Media Sosial dan You Tube yang diunggah di akun resmi TNI AD. Bahkan dalam kurun waktu 3 bulan, video tersebut telah mencapai 8,3 juta viewer di salah satu channel YouTube.

Saat ditanya tentang latar belakang keinginannya menjadi taruna Akmil, Imron menyampaikan bahwa hal tersebut merupakan salah satu keinginannya dari masa kecil.

“Keinginan tersebut semakin kuat, ketika ada sosialisasi di sekolah dari Ajenrem 071 Wijayakusuma. Kemudian langsung daftar dan alhamdulillah bisa lolos dari mulai tahap daerah sampai dengan pusat,” ucap Imron.

Anak ketiga dari enam bersaudara itu tinggal di rumah yang mungil dan sang ayah menghidupi keluarganya (delapan orang) hanya dari hasil jualan bubur yang hanya berpenghasilan sekitar 50 ribu sehari.

Namun demikian dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan tidak menyurutkan Imron dan keluarganya untuk mewujudkannya menjadi Taruna Akmil.

“Saya berusaha belajar dengan keras agar mewujudkan cita-cita tersebut, dan alhamdulillah semasa SMA masuk di SMA 1 Purwokerto serta saat ikut seleksi pusat masuk dalam kelompok calon unggulan,” terang Imron.

Ketika ditanya alasan mengapa bisa masuk calon unggulan, Imron menyampaikan bahwa dimungkinkan karena prestasinya semasa di sekolah.

“Waktu SMA, saya mendapatkan nilai sepuluh pada ujian nasional matematika, dan juga pernah ikut olimpiade matematika tingkat provinsi serta aktif di OSIS dan Paskibra,” jelas Imron.

Menurut Rudi, kakak dari Imron, bapaknya tidak bisa hadir saat wisuda karena diopname selama 2 bulan sakit hepatitis. Dengan sakitnya sang bapak, maka menurut Rudi, perekonomian keluarga sekarang menjadi tanggungjawabnya sebagai kakak tertua.

“Bapak tidak bisa ikut karena sakit hepatitis, sehingga tinggal di rumah. Tadi kita berangkat bersama nenek, ibu dan om Bowo serta saudara naik mobil yang dicharter sehari sekitar 700 ribu, tapi lumayan karena kenal, harganya bisa turun,” ujar Rudi.

Selain keluarga, saat wisuda juga turut hadir teman-teman sekolah Imron.Namun sangat diaayangkan acara wisuda prajurit taruna dan pelantikan yang penuh dengan suasana gembira dan haru itu, Imron tidak didampingi oleh ayah tercinta lantaran sakit.

“Tapi, tidak apa-apa, karena setidaknya nenek, Ibu dan saya serta om bisa hadir bersama Imron walau sebentar,” pungkas Rudi yang sehari-hari bekerja menjadi tukang servis handphone ini. (Dispenad/Amr)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY