57 views
0
SHARE

Kabarone.com, Jakarta – Setiap orang tua pasti ingin mendidik anaknya agar kelak menjadi anak yang baik dan sukses. Namun banyak orang tua masih kurang memahami cara atau tindakan yang tepat dalam mendidik anak. Mendidik anak paling ideal dilakukan di masa emasnya (golden age) yakni usia 0-6 tahun. Paul Meier menyatakan bahwa sampai dengan usia 6 tahun, 85% karakter anak telah terbentuk. Menurut Benyamin S Bloom juga menyatakan hal yang sama yaitu 50% potensi anak terbentuk sampai usia 8 tahun.
Masa mendidik anak adalah hal yang tidak dapat diulang, maka dari itu perlunya orang tua mengetahui panduan dalam mendidik anak.

Dikutip dari buku Dewi Iriani “101 Kesalahan dalam Mendidik Anak”, berikut 4 kesalahan mendidik anak yang sering dilakukan orang tua:

1. Orang tua tidak kompak
Dalam hal mendidik anak banyak dilema yang dihadapi orang tua, ketika Bunda membuat peraturan untuk anak. Namun Ayah berdalih agar anak diberi sedikit kelonggaran. Contoh kasus misalnya, Ayah sepulang kerja memberikan es krim kepada Dinda. Bunda melarang dinda makan es krim karena peraturan dirumah menjelang malam tidak boleh makan makanan yang banyak mengandung gula. Ayah yang tak tega anaknya merengek terus akhirnya mengizinkannya.
Dari ilustrasi di atas tertanam dipikiran anak bahwa ibunya adalah seorang yang jahat dan banyak mengatur sedangkan ayah dalam pandangannya sosok orang yang baik karena membolehkan apa saja. Sehingga anak akan patuh hanya pada ayah saja.

Perlu diketahui anak belum memahami konsep baik-buruk. Ketika ayah membiarkan anak melanggar peraturan yang dibuat bunda, akibatnya ketika besar anak tumbuh menjadi pribadi yang labil/sering bimbang. Diharapkan orang tua kompak dalam proses pengenalan konsep baik-buruk tesebut.

2. Selalu mencari kesalahan
Pada saat anak tersandung bangku misalnya, bunda biasanya mengatakan kalau bangkunya nakal, kodoknya lari atau memukul bangku tak bersalah itu, agar menghibur anak supaya tidak menangis. Hati-hati dengan kebiasaan mencari kambing hitam dari setiap kesalahan anak. Maka ketika dewasa pribadi yang suka menyalahkan orang lain akan melekat pada anak. Solusinya, bicaralah terus terang kesalahannya dan beri pemahaman.

3. Pelit memberikan uang jajan
Sering kali diabaikan orang tua,memberikan uang jajan dengan jumlah sedikit, bahkan adapula orang tua yang sengaja tidak memperkenalkan uang pada anak, khawatir kalau si anak kecanduan jajan. Menurut Psikolog Dra. Sri Rahayu Astuti, MS., mengatakan bahwa dari segi pendidikan uang jajan ternyata bisa memupuk rasa percaya diri anak karena dia merasa sejajar dengan teman-temannya. Tetapi jika orang tua pelit memberikan uang jajan pada anak. Efek sosial anak pada teman-temannya yaitu anak cenderung ditinggalkan temannya. Jangan lupa juga orang tua memberi pemahaman kondisi keuangan keluarga. Supaya anak tidak terlalu banyak menuntut dan tidak semua kemauan anak diikuti.

4. Banyak mengatakan “jangan”
“Jangan main hujan nanti sakit nak”
“Jangan berlari nanti kamu jatuh”
“Jangan main kotor-kotoran”
Mungkin perkataan diatas sering orang tua ucapkan pada anak. Tujuannya memang untuk melarang anak,dan itu sah-sah saja. Namun kata “jangan” dibutuhkan anak hanya saat masih kecil dan frekuensinya semakin dikurangi ketika usia anak bertambah. Alasan terlalu menghambur-hamburkan kata “jangan” bukan hanya membuat anak kesal juga anak menganggap orang tua merusak kesenangannya. Alhasil anak tidak patuh lagi.
Sebagai alternatif ubahlah kata “jangan” dengan kata lain yang sama artinya atau kata “jangan” diganti dengan kata “boleh,tetapi…..” untuk menghindari anak tidak tertekan kemauan orang tua. Misal kalimat “mainnya jangan bertengkar ya!” Ubah dengan “mainnya sama-sama ya!”. Maka dari itu orang tua harus pandai mencari alternatif kata “jangan” tersebut. (S.M)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY