Polres Lhokseumawe Kembali Menangkap Pelaku Penyebar Hoax

Polres Lhokseumawe Kembali Menangkap Pelaku Penyebar Hoax

90 views
0
SHARE

Kabarone.com, Lhokseumawe – Tim Sat Reskrim Polres Lhokseumawe kembali menangkap seorang mahasiswi penyebar berita bohong (hoax) di media sosial terkait dugaan kasus pelecehan seksual yang di lakukan pimpinan Pasantren AN.

Ada pun pelaku yang kembali diamankan yakni JM (21) mahasiswi asal Kabupaten Biureun, Provinsi Aceh. Sementara itu, sebelumnya polisi juga telah menangkap tiga orang tersangka dengan inisial, IM (19) HS (29) NA (21), Minggu (21/7).

Saat ini Polres Lhokseumawe telah mengamankan empat tersangka terkait kasus penyebaran berita bohong terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum Pimpinan dan salah seorang guru di salah satu Pasantren di Kota Lhoksuemawe, Aceh. 

Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang dalam konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Minggu (21/7/2019) menjelaskan, JM ditangkap di Banda Aceh. Polisi masih memburu satu orang lainnya yakni MS. 

Sembari menambahkan, awalnya JM mendapatkan informasi tersebut dari MS melalui chat pribadi. Kemudian meneruskan ke dalam grup WhatsApp yang bernama Bidadari Surga,” papar Indra. 

Semantara MJ diketahui adalah orang yang pertama meneruskan informasi tersebut ke Grup Bidadari surga, dari grup itu lantas menyebar ke berbagai plaform media sosial, sehingga pesan tersebut beredar lagi keluar grup melalui NA, IM, HS.

“Lanjutnya, NA dapat informasi lagi dari grup whatsapp  yang dikirimkan oleh JM dan mengirimkan informasi itu ke grup WhatsApp TPA AL-Ikhlas,” ungkapnya.

Lebih lanjut kasat juga mejelaskan, IM mendapatkan informasi tersebut dari grup TPA AL-Ikhlas yang dikirim oleh NA dan kemudian menyebarkan informasi tersebut ke grup

“Lalu, HS mendapatkan informasi tersebut dari grup WhatsApp Santri Sidratul Muntahar yang dikirim kan oleh IM dan menyebarkan ke grup Facebook Anak Rantau,” jelasnya. 

Akibat menyebar berita hoax tersebut, tersangka dikenakan Pasal 15 Jo Pasal 14 Ayat (1) dan (2) Tentang Hukum Pidana Subs Pasal 45 A Ayat (2) UU RI Nomor 11/2008 sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 

“Ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar,” ujarnya. 

Sebelumnya, Polres Lhokseumawe menangkap oknum pimpinan Pasantren An (singkatan) di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh beserta dengan seorang guru mengajinya (keduanya pria), beberapa waktu lalu telah ditahan di Polres Lhokseumawe.

Keduanya ditahan atas dugaan telah melakukan pelecehan seksual terhadap santri pria (sesama jenis) berumur antara 13- 14 tahun.

Sementara seiring waktu berjalan, melalui sejumlah media sosial muncul tulisan yang berisikan kalau pimpinan Pasantren An tidak bersalah dan pihak kepolisian terlalu memaksakan kasus ini.

Sehingga menurut pihak kepolisan, akibat tersebarnya tulisan tersebut bisa menggiring opini masyarakat, dan ini akan sangat mengganggu proses penyidikan. Atas dasar tersebut sehingga polisi melakukan pengusutan.(Fadhil)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY