BPIP Gelar Seminar Pancasila Dengan Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia

BPIP Gelar Seminar Pancasila Dengan Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia

95 views
0
SHARE

Kabarone.com, Jakarta – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjalin kerjasama dengan Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) pada Seminar Pancasila yang bertema kan “Gali Mutiara Pancasila dan Tumbuh Kembangkan Semangat Gotong Royong Bersama Organisasi Masyarakat di Kawasan Jabotabek” yang di laksanakan di Hotel Acacia, Jakarta (31/08/19)

Dalam seminar tersebut Irene Camelyn Sinaga, A.P., M.Pd. ( Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP) sebagai keynote Speaker mewakili Plt. Kepala BPIP menyampaikan apresiasi adanya seminar tersebut, karena BPIP masih minim SDM dan terbatas anggaran sehingga dirinya berharap acara kerjasama seperti ini harus sering dilaksanakan untuk mensosialisasikan Pancasila, “saya sangat apresiasi kepada ISRI dalam acara ini ” ungkapnya. Selain itu juga Irene menyampaikan pentingnya gotong royong yang merupakan pribadi bangsa Indonesia.

Tidak hanya Irene dalam acara tersebut juga Dr. Ir. Moh. M.C. Soenhadji, M.Sc. IPU. AER. ACPE. (Ketum DPN ISRI) dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa seminar ini sangat penting agar kita lebih memahami peranan penting Pancasila dalam bernegara dan berbangsa terutama mempraktekan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari, “ISRI berkomitmen akan terus melaksanakan diskursus seperti ini agar jiwa dan pribadi Pancasila tetap ada di Indonesia dalam kemajuan teknologi saat ini” jelasnya.

Dalam acara tersebut menghadirkan narasumber Dr. Hajono, SH., M.CL ( Ketua Dewan Kehormatan DPN ISRI ), Irene Camelyn Sinaga, A.P., M.Pd. ( Direktur Pembudayaan BPIP), Drs. Bambang Yudoyono, M.si., ( Wakil Ketua Dewan Kepakaran DPN ISRI), Marsda. TNI (Purn) Subandi Parto, SH., MH., MBA., ( Ketua DPW ISRI DKI Jakarta), Ir. Didiek Poernomo (Waketum DPN ISRI), adapun acara tersebut di moderatori oleh Cahyo Gani Saputro (Sekjend DPN ISRI).

Dr. Hajono, SH., M.CL ( Ketua Dewan Kehormatan DPN ISRI ) yang memaparkan bahwa jiwa Pancasila adalah berlomba lomba berbuat kebaikan dengan sesama manusia tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan tertentu dan menghilangkan rasa kebencian terhadap sesama manusia. Selain itu Harjono juga menjelaskan Pancasila sebagai Dasar Negara kaitannya dengan kehidupan bernegara dan penjabarannya dalam ketatanegaraan Indonesia dan Pancasila sebagai way of life kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan kehidupan serta interaksi dalam lingkup masyarakat dari lingkungan terkecil.

Irene Camelyn Sinaga, A.P., M.Pd. ( Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP) memaparkan bahwa Gotong royong merupakan kepribadian bangsa Indonesia yang mencerminkan Pancasila harus terus diamalkan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari.

Drs. Bambang Yudoyono, MSi.
( Wakil Ketua Dewan Kepakaran DPN ISRI) Pancasila harus mengikuti perkembangan Jaman di mana era sekarang sudah masuk pada teknologi 4.0 bahkan hampir 5.0 namun tidak boleh menghilangkan makna historis dan filosofis Pancasila, sejak dahulu neo kolonialisme dan neo kapitalisme menggerus Pancasila, oleh Karenannya Pancasila harus terus di tanamkan sejak dini.

Marsda.TNI (Purn) Subandi Parto
SH., MH., MBA.( Ketua DPW ISRI DKI Jakarta ) memaparkan bahwa aplikasi terkecil dalam Pancasila adalah “tengok orang lain” di mana kita harus peduli dengan orang di sekitar kita dan bagaimana kita harus bersikap kepada orang lain, Subandi juga menerangkan bila pembinaan itu memenuhi tiga hal yaitu pengaturan, pengendalian dan pengawasan, selain itu pendidikan Pancasila seharusnya berlaku bukan hanya pada anak tapi orang tua dan penjaga anak agar aplikasi Pancasila di implementasikan sesuai jamannya.

Ir. Didiek Poernomo (Waketum DPN ISRI) memaparkan bahwa bangsa Indonesia harus mengimplementasikan nilai nilai yang terkandung di dalam Pancasila pada kehidupan sehari hari, bahwa makna keragaman bangsa Indonesia tidak bisa hanya dipersepsikan dalam Agama saja, sebagaimana kita lihat akomodasi interest hanya dalam lingkup Agama bahkan itu juga terlihat di BPIP, bahwa kita ketahui bersama kepercayaan dan keyakinan serta latar belakang suku, ras dan golongan yang beragam di Indonesia, Didiek juga mengingatkan bahwa Ketuhanan adalah kata sifat atau sejarah panjang bangsa Indonesia yang tidak hanya dapat diperspektifkan dalam Agama.

Adapun dalam seminar tersebut para narasumber memaparkan Pancasila secara kesejarahan, perdebatan dan konsensus para pendiri bangsa dalam BPUPK hingga terbentuknya UUD 1945 hingga sampai saat ini bergulirnya isue pengembalian GBHN secara mendalam. (*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY