Hendi Terus Upayakan ‘ Semarang Zero Stunting ‘

Hendi Terus Upayakan ‘ Semarang Zero Stunting ‘

26 views
0
SHARE

SEMARANG,kabarone.com -Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, angka prevalensi balita stunting di Kota Semarang berada pada angka 2,73 persen atau 2.708 anak di tahun 2018.

Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi balita stunting di Jawa Tengah yaitu 34,3 persen dan nasional 30,8 persen atau 7,3 juta anak pada 2018. Namun, kondisi ini harus tetap menjadi perhatian bersama dan tidak dapat disepelekan.

Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka talkshow Sinau Bareng Gizi dan Stunting di Balaikota Semarang, belum lama ini.

Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutama pada saat 1.000 hari pertama kelahiran. Karena itu pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil perlu mendapat perhatian guna mencegah terjadinya stunting.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi ini menyampaikan bahwa tugas dan tanggung jawab kepada generasi emas adalah mendidik dan memberikan asupan gizi yang baik.

Pada 1.000 hari pertama di kehidupannya, paling utama adalah pemberian ASI eksklusif sebagai upaya mencegah stunting.

“Ada dua faktor yang menyebabkan stunting. Pertama adalah faktor spesifik karena kekurangan gizi dan asupan makanan yang diberikan tak mendukung pertumbuhan tubuhnya. Misalnya saat kondisi hamil, ibu tidak makan makanan berprotein atau sayur-sayuran atau saat bayi, tidak diberikan ASI secara eksklusif,” jelas Hendi.

Menurutnya, bagi anak yang sudah terlanjur stunting, dapat diberikan pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan, stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan.

Kuncinya di seribu hari pertama, asupan gizi harus dicukupi. Upaya Pemerintah Kota Semarang untuk memperbaiki stunting salah satunya dengan adanya rumah pelangi di wilayah Banyumanik.

Selain stunting, orang nomor satu di Kota Semarang tersebut juga menyinggung soal penerangan dan sanitasi di rumah termasuk septic tank. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik maka dapat menimbulkan masalah.

Menurutnya, perawatan sanitasi yang baik adalah dengan cara septic tank dikuras setiap 5 tahun sekali. Jika tidak dikhawatirkan akan terserap ke sumber air bersih di sekitar rumah.

Oleh seba itu, dia berharap agar jajarannya dapat terus melakukan sosialisasi dan bantuan kepada warga masyarakat agar di setiap rumah dapat mempunyai sanitasi yang baik. (Amr)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY