Mengulas Punden Sentono di Kecamatan Modo Lamongan.

Mengulas Punden Sentono di Kecamatan Modo Lamongan.

138 views
0
SHARE

Lamongan, Kabar one.com – Dusun Sedah terletak di Desa Pule Kec. Modo Kabupaten Lamongan. Nama Sedah menarik untuk dikaji secara Toponimi, atau kajian tentang asal-usul mengenai nama sebuah tempat.

Dari sedikit yang saya ketahui mengenai nama Dusun Sedah, tampaknya nama Sedah sangat berkaitan dengan keberadaan Punden Sentono yang konon dipercaya sebagai Makam/Petilasan/pemujaan empu Sedah yang hidup pada masa Kerajaan Kediri di Abad 11.

Di area punden Sentono sedah terdapat kekunoaan berupa bangunan persegi panjang menyerupai makam tinggi yang terbuat dari batu putih (kapur). Bangunan serupa mirip dengan altar pemujaan di beberapa tempat lain seperti yang terdapat di sekitar gunung penanggungan. Bangunan ini terletak dibagian tengah dan di sekelilingnya banyak terdapat reruntuhan struktur kuno bercampur batu alam.

Selain batu putih juga terdapat fragmen bata kuno, keramik asing kuno yang berasal dari berbagai bangsa seperti keramik china dari masa dinasti song (abad 11-12 M) dinasti Yuan hingga masa dinasti Ming (15-16), keramik Thailand, juga benda-benda keramik asal Vietnam. Disekitar lokasi juga terdapat banyak temuan koin China dan yang menarik lagi adalah sisa têrak besi yang mengindikasikan adanya aktivitas pengerjaan logam seperti keris dan senjata. Temuan data arkeologi ini juga didukung dengan hasil penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang melakukan riset kepurbakalaan pada tahun 2013 dan 2014.

Masyarakat sekitar menghubungkan bangunan menyerupai makam tersebut dengan tokoh pujangga yang bernama “Empu Sedah”, sesuai dengan nama dusun dimana situs ini berada. konon disekitar disinilah empu sedah dan para Sentana kerajaan masa kerajaan kadiri tinggal, sebelum kemudian Empu Sedah di angkat menjadi penasehat raja Jayabhaya di Kediri.

Nama Empu Sedah sangat Populer dikalangan para sejarawan dan juga pujangga. Empu Sedah adalah pujangga sastra Jawa yang terkenal menulis Kakawin Bhāratayuddha dalam bahasa jawa kuno. Dia hidup pada zaman pemerintahan Jayabaya dari Kerajaan Kadiri atau Panjalu di Jawa Timur. Empu Sedah merupakan salah satu penasehat Raja Jayabaya, Empu Sedah juga mempunyai anak angkat Aria Wiraraja yaitu seorang penasehat militer Raden Wijaya. (wikipedia.com).

Pada akhirnya Kakawin Bhāratayuddha versi Jawa diselesaikan oleh Empu Panuluh karena Empu Sedah terlebih dahulu meninggal sebelum karyanya selesai. Konon pekerjaan Mpu Sedah tidak selesai karena pujangga itu dihukum mati oleh pihak istana Kadiri karena punya hubungan gelap dengan Paramesywari Kediri. Akhirnya pekerjaan dilanjutkan oleh Mpu Panuluh hingga dapat selesai.

Dari bukti jejak sejarah dan kepurbakalaan dan cerita tutur yang berkembang di atas maka dapat disimpulkan bahwa wilayah Lamongan dalam hal ini merupakan wilayah yang sudah sangat berkembang dan maju pada zaman dahulu baik dalam bidang pertanian, perdagangan, juga sastra dan kebudayaan.

Keberadaan Situs Sedah dengan sejumlah artefak arkeologis di atas juga menunjukkan adanya wilayah perkampungan kalangan menengah dan para petinggi kerajaan mengingat benda berbahan keramik merupakan barang mewah pada saat itu. Dan nama besar pujangga kerajaan yaitu empu Sedah juga mengindikasikan bahwa tradisi sastra, penulisan, dan kesenian juga sudah muncul di Lamongan pada masa itu.

Perdagangan dengan bangsa asing seperti kerajaan China, Campa, Vietnam, Kamboja dan lainnya juga sudah terjadi di wilayah Lamongan dan meninggalkan jejak perjalanan sejarah Lamongan yang kaya akan sumber pangan seperti padi, kayu, rempah, dan lainya menjadikan Lamongan selalu sebagai wilayah sentral pangan bagi kerajaan.

Sejarah bakal berulang, dan sudah saatnya ‘Lamongan Menuju Kejayaannya’, Karenanya mari bersama kami bahu membahu membangun Lamongan kedepan.(Priyo Kalacakra)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY