Napak Tilas ke Dua, Punden Sentono Sedah.

Napak Tilas ke Dua, Punden Sentono Sedah.

116 views
0
SHARE

Lamongan,Kabar one.com – Hujan masih cukup deras mengguyur, kami bergegas bergeser dari lokasi petilasan Gajah Mada. setelah meninggalkan lokasi situs megalitik Sitinggil, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi situs berikutnya yaitu situs Punden Sentono yang terletak di dusun Sedah, Desa Pule kec.Modo Lamongan, situs ini berjarak sekitar 2 km dari situs Sitinggil.

Sepanjang perjalanan dalam mobil Pak Yuhronur Efendi (Sekda) bertanya , Ada situs apa di dusun Sedah itu? Lalu kami sedikit berdiskusi mengenai situs sedah, terdapat setidaknya 2 (dua) situs kepurbakalaan di dusun Sedah, yaitu punden Sentono atau Punden Sedah, dan Prasasti Sedah dan di sekitarnya banyak jejak barang pecah belah berbahan keramik porcelain kuno yang berasal dari beberapa negara Asia, seperti China, Vietnam, Thailand, dll.

Hujan sudah berubah menjadi gerimis kecil saat kami tiba di sekitar lokasi, mobil diparkir di tepi jalan aspal dan kami menyusuri jalan setapak sedikit menanjak, membelah rerimbunan batang jagung yang sedang mulai berbiji. Sesekali saya yang berada didepan harus menyibak daun-daun jagung agar tidak mengenai muka dan bisa menimbulkan jejak sayatan dimuka  terlebih bercampur dengan rintik hujan.

Beberapa serpihan fragmen keramik kuno terlihat di sepanjang pematang ladang, saya ambil untuk saya tunjukkan kepada beliau dan teman-teman.

ini ‘porcelain asal mana?’, tanya beliau sambil menunjukkan sebuah fragmen kecil yang berwarna putih dengan corak warna kebiruan, ‘China pak, itu khas keramik masa dinasti Ming, kalo yang ini masa Song’, begitu jawabku sambil kan fragmen keramik lainnya.

“Kok bisa sampai disini dan banyak sekali? “, lanjutnya.

“Setidaknya ini menunjukkan adanya kontak perdagangan internasional antara warga dan penguasa wilayah ini di masa lalu, dan dari area persebarannya sepertinya menunjukkan jejak perkampungan kuno di sekitar sini pak, dari beberapa modelnya juga sudah cukup elit untuk masa lalu”, lanjutku menjawab sambil terus menyibak dedaunan jagung.

Setelah menembus ladang jagung sekitar 500 m, akhirnya kami sampai di lokasi situs punden Sentono, dimana terlihat batas pagar batu alam setinggi pinggang di sekeliling, yang di tata rapi membentuk area persegi berlapis dengan area yang berbeda luasan, masing-masing lapisan tatanan batu tersebut terdapat pintu masuk, setidaknya ada tiga pintu pagar menuju area utama (sakral) dimana sebuah bangunan punden berbentuk menyerupai makam tinggi setinggi 1 meter lebih, dibawahnya terdapat lapisan batu2 alam yang menjadi alas dari bangunan punden tersebut. dikelilingi oleh pagar batu dan rerimbunan pepohonan.

Pada area sakral (utama) tsb terdapat juga beberapa fragmen dari batu berukir, pipisan, gandik, lumpang batu kecil, umpak, juga batu alam yang di tata menyerupai kursi dan meja.

Dalam satu kesempatan, Arkeolog UI, Dr. Agus Aris Munandar dan Dr. Ninie Soesanti pada saat berkunjung dengan saya ke lokasi ini memberikan satu kesimpulan bahwa situs punden Sentono sedah ini merupakan satu bentuk bangunan peribadatan atau pemujaan bagi kepercayaan kuno tertentu yang bercorak lokal, bukan sebuah makam meski bentuk dan orientasi bangunan menyerupai makam, ada dugaan telah terjadi penataan ulang atas sebagian dari bangunan situs Punden Sentono ini, berikut juga dengan penataan tahta/kursi batu tersebut.

Setelah dirasa cukup mengamati keberadaan situs punden, berdiskusi mengenai beberapa fragmen arkeologis yang tercecer, membuat estimasi luasan situs dan tak lupa mengambil beberapa foto dokumentasi, Kami bersama dengan rombongan kemudian menyusuri jalan tanah ke arah timur dan turun untuk menuju lokasi situs berikutnya yaitu Prasasti Sedah yang hanya berjarak sekitar 200 m dari punden Sentono sedah ini.

Sepanjang jalan yang menurun ini juga banyak ditemui pecahan keramik asing kuno seperti pada saat perjalanan awal menuju situs punden Sentono, setidaknya pada area sekitar radius 1,5 Km ceceran fragmen arkeologis sangat mudah ditemui di hamparan tanah tegalan persil perhutani yang dikelola oleh penduduk lokal.

Demikian sedikit catatan mengenai perjalanan menuju punden Sentono, dan untuk Prasasti Sedah .(Priyo Kalacakra)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY