Semangat dan Ketekunan Para Juara dari Majalengka

Semangat dan Ketekunan Para Juara dari Majalengka

34 views
0
SHARE

Majalengka,Kabar One.com— Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menggelar Akademi Madrasah Digital (AMD) 2020. Juara untuk masing-masing kategori Akademi Digital Madrasah 2020 telah ditetapkan.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Ahmad Umar (Sindonews, 7/2/21) menyatakan bahwa AMD adalah sarana efektif dalam upaya tranformasi digital pada madrasah. Transformasi ini menjadi penting dan strategis mengingat tantangan digital akan makin menguat ke depannya.

Untuk itu, menyiapkan siswa madrasah pada ranah teknologi dalam berbagai varian dan perkembangan terkini menjadi sebuah keharusan. Terkait konteks upaya tersebut, AMD menjadi bagian dari beragam inisiasi progresif yang dilaksanakan Ditjen Pendidikan Islam. Salah satu kategori cukup bergengsi dalam AMD 2020 adalah The Most Marketable Category yang diraih MAN 2 Majalengka.

Ditemui secara virtual (20/2/2021) tim Mustech MAN 2 Majalengka, demikian mereka menamakan diri kelompoknya, menceritakan suka duka dalam menjalani proses pembelajaran digital yang pelaksanaannya didukung oleh perusahaan telekomunikasi XL Axiata. Mustech sendiri adalah kepanjangan dari Mushroom Technology. Adapun pembelajaran digital mengenai IoT dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan secara terukur.

Didampingi para guru yang menjadi tim pembimbing dan jajaran pimpinan MAN 2 Majalengka, deskripsi upaya dan kesungguhan mereka hingga didapuk menjadi The Most Marketable Category AMD 2020 adalah sebuah cerita tentang semangat dan ketekunan yang demikian tinggi, sebuah sikap yang dibutuhkan untuk menjadi juara.

Dalam prospektus di laman resminya (3/5/20), Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih menjelaskan bahwa AMD 2020 dilaksanakan dalam rentang waktu yang cukup lama. Hal ini sebagaimana keterangan resmi AMD 2020 yang memulai pendaftaran pada April 2020 hingga penetapan tim presentasi yang dilakukan pada pertengahan Desember 2021. Salah satu kendala mendasar yang menyebabkan situasi ini adalah kondisi pandemik Covid-19 yang menyebabkan keterbatasan interaksi langsung.

Kondisi pandemik pula yang dirasakan oleh Dede Zainal Arifin, salah satu tim pembina Mustech, menjadi tantangan serius sejak mula niat mengikuti AMD disepakati bersama di internal MAN 2 Majalengka. Dede menyatakan tingkat kesulitan yang mesti dihadapi, “AMD 2020 dan kebutuhan sekitar madrasah (budi daya jamur tiram) menekankan pemahaman dasar yang memadai tentang Internet of Things (IoT), Elektronika, Biologi, dan terutama relevansi project dengan kebutuhan sekitar agar faktor kebermanfaatannya dapat dijalankan,” tuturnya.

Internet of Things kerap diidentifikasi sebagai turunan langsung dari yang apa secara luas dikenal sebagai  Revolusi Industri 4.0. Selain meniscayakan datangnya jejaring otomasi dan robotika, era ini menuntut kompetensi yang sering dikenal sebagai Kompetensi Abad 21. Di dalamnya, kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, bekerja sama, berpikir kreatif, dan computational thinking menjadi episenternya. Mustech menerjemahkan dengan baik tuntutan kemampuan tersebut dalam project mereka di AMD 2020 dengan judul Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban Jamur Tiram Berbasis IoT (Internet of Things).

Kerja Tim

Mustech terdiri dari Icha Anisa Aprilia, Anis Nur Safarina Zaenudin, Widya, Yuliyanti, dan Defa Nugraha. Mereka menjelaskan bahwa Mustech dibagi menjadi  beberapa kelompok kecil yang bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan riset kecil kepada para petani budi daya jamur tiram di wilayah Majalengka.

Riset tersebut menghasilkan temuan penting bahwa problem utama yang dihadapi para petani budi daya jamur tiram adalah iklim, suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya. Berdasar temuan tersebut, rancangan project Mustech dikembangkan dengan target efisiensi waktu dan efektifitas biaya yang diperlukan dalam mengembangkan budi daya jamur tiram.

Jamur tiram dipilih sebagai locus project karena beberapa alasan. Aas Nurhidayah, Kepala MAN 2 Majalengka menjelaskan, “Budi daya jamur menjadi bagian dari mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan MAN 2 Majalengka sebagai Madrasah Plus Keterampilan. Oleh karenanya kami mengintensifkan dan memanfaatkan modal dasar yang sudah kami kembangkan di MAN 2 Majalengka”.

Walaupun sudah menjadi bagian dari struktur pembelajaran dan praktik, budi daya jamur dengan memanfaatkan teknologi IoT tentu memiliki tantangan tersendiri. Dede dan para guru pembimbing lainnya merasakan betul tingkat kesulitan mengajarkan IoT, meskipun dasar Elektronika adalah program keterampilan yang dikembangkan di MAN 2 Majalengka. IoT, memerlukan dasar pemahaman dan praktek yang intens agar menghasilkan produk otomasi yang memadai.

IoT yang dimanfaatkan secara aplikatif menuntut tingkat pemahaman dan arsitektur coding yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan tingkat kerumitan yang tidak sederhana. Sementara, kondisi pandemik menjadi hambatan tersendiri untuk intensitas praktek dan project development. Kemampuan dasar ini mutlak dibutuhkan sebelum menjadi bagian dari pelatihan yang didukung XL Axiata hingga kontes antarinovasi dengan lembaga lain.

Prestasi dan Harapan

Pada kelanjutannya, Mustech berhasil dibuat dalam sebentuk aplikasi dan seperangkat alat pendukung lainnya. Dengan aplikasi Mustech tersebut, pengelolaan budi daya jamur tiram dikendalikan secara otomatis lewat aplikasi yang tersambung dengan telepon pintar (smartphone). Aplikasi ini dapat mendeteksi suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya yang dibutuhkan oleh jamur secara otomatis dan menyesuaikan kebutuhan alat pendukung yang juga bekerja secara otomatis.

Jadinya, dengan pemakaian aplikasi Mustech, harapan untuk memanen jamur tiram agar lebih baik lagi dapat dicapai. Selain itu, biaya produksi budi daya jamur tiram juga dapat ditekan sehingga menambah valuasi dan profit para petani. Dari semula banyak dijalankan dengan manual, aplikasi Mustech memungkinkan budi daya hingga panen jamur tiram secara otomatis dengan koefiseien 80 persen. Sebelumnya, para petani tidak sampai pada angka tersebut dalam memanen jamur tiram.

Dinas Pertanian Majalengka, sebagaimana yang disampaikan Kepala MAN 2 Majalengka, sangat antusias dalam merespons inovasi ini. “Pemda akan memfasilitasi pengadaan aplikasi ini bagi para petani jamur tiram karena tingkat kepraktisan dan efisiensinya,” ujar Aas. Kepraktisan, efisiensi, dan respons positif dari masyarakat sekitar serta para pemangku kebijakan atas inovasi Mustech adalah bukti sahih capaian selaku The Most Marketable dalam AMD 2020. Hal ini mendorong harapan lebih positif ke depannya.

Ditemui terpisah, Kasi Pendidikan Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, selaku institusi pembina madrasah, Dr. Saepulloh, menyatakan rasa bangga, syukur, dan harapannya atas prestasi yang ditorehkan MAN 2 Majalengka. “Alhamdulillah atas prestasi monumental ini. Kami bangga pada siswa dan jajaran pimpinan dan guru MAN 2 Majalengka atas kerja keras dan cerdasnya,” katanya.

“Pretasi ini semoga menjadi pemicu dan pemacu semangat untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan madrasah pada khususnya, dan lembaga pendidikan Islam pada umumnya, di wilayah Majalengka. Untuk madrasah hebat bermartabat,” harap dan yakinnya ke depan.

Di luar sana, suara sumbang tentang kualitas madrasah bisa jadi masih terdengar. Suara itu hanya melihat madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berjarak dari perkembangan terkini, salah satunya adalah teknologi. AMD, Madrasah Boot Camp, dan berbagai program dan kegiatan senada, membuktikan asumsi itu tidak beralasan. Semangat inovatif-kreatif, didukung ketekunan, kesungguhan siswa, dan support jajaran MAN 2 Majalengka serta kolaborasi berbagai pihak menjadi jawaban definitifnya.***hms

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY