SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA SMP SIMANJAYA

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA SMP SIMANJAYA

123 views
0
SHARE

Lamongan,Kabarone.com-Pondok pesantren Al-Fattah dahulunya dikenal dengan  nama “Salafiyah” atau “Ihyauddin” , didirikan oleh Kyai Nawawi atau dengan sebutan lain KH.Abdul Fattah. Beliau dilahirkan pada bulan Maret 1911. Beliau adalah putera pertama dari pernikahan Ahmad Rais dengan Teminah dari dua bersaudara seayah seibu serta lima saudara seayah. Ahmad Rais adalah tokoh masyarakat dan agama yang menjabat sebagai modin desa siman pada waktu itu.

Pesantren Ihyauddin berlokasi di desa Siman kecamatan Sekaran kabupaten Lamongan,sebelah utara berbatasan dengan desa Kembangan, sebelah  timur dengan  Bugoharjo, sebelah selatan dengan desa Bulutengger, dan sebelah barat berbatasan dengan daerah rawa-rawa.

Pesantren Salafiyah/Ihyauddin didirikan pada tanggal 26 desember 1942 oleh seorang kyai yang bernama Nawawi yang dikenal dengan KH. Abdul  Fattah, setelah beliau melalang buana menuntut ilmu dalam dunia kepesantrenan. Beliau menunaikan haji pada tahun 1952/1953 dan setelah beliau menunaikan ibadah haji itulah nama beliau berubah menjadi abdul fattah.

Pada saat didirikannya dan masa awal, pesantren Salafiyah/Ihyauddin dilatar belakangi oleh kondisi sosial ekonomi dan politik yang sangat mencemaskan. 99,9% masyarakat desa Siman hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka hidup dengan bertani sawah dan ladang yang kondisi geologi dan irigasinya yang kurang, bahkan tidak memenuhi syarat standar pertanian yang baik.

Kondisi ekonomi yang demimikan berdampak pada tarap pemikiran dan kepandaian masyarakat. Hampir 100% masyarakat Siman buta huruf latin dan hanya beberapa orang saja dapat membaca dan menulis arab.

Dalam sejarah Indonesia menyebutkan bahwa tahun 1942 adalah tahun masuknya penjajah Jepang di Indonesia setelah mengalahkan Belanda. Di desa Siman, pada saat itu sempat dimasuki oleh penjajah, sehingga kehidupan masyarakat Siman merasakan penindasan dan kesengsaraan lahir dan  batin.

Didorong oleh faktor-faktor tersebut diatas pemuda Nawawi terpanggil sanubarinya sebagai insan yang merasa bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsanya, oleh sebab itu beliau mendirikan sebuah pesantren yang diberi nama “Salafiyah/Ihyauddin”.

Sesuai dengan nama Ihyauddin yang berarti menghidupkan agama, adalah relevan dengan kondisi masyarakat dan tantangan pertama yang harus dihadapi. Sebab kondisi keagamaan masyarakat desa Siman, Kembangan dan sekitarnya sangatlah memprihatinkan baik kadar pengetahuan apalagi pengamalan agama.

Pesantren Ihyauddin pada awal pendiriannya hanya terdiri dari sebuah bangunan kecil ukuran 4×4,5 meter, dan sebuah kamar yang terdiri dari 4 kamar serta 1 rumah Kyai. Tetapi walau demikian keadaannya tidaklah menjadi masalah buat kyai dan para santri. Seiring dengan berjalannya waktu, santri Pesantren Ihyauddin semakin banyak. Santri Pesanten Ihyauddin kebanyakan dari  desa sekitar Siman.

Pada masa perang kemerdekaan terutama pada tahun-tahun 1947 sampai tahun 1949, Pesantren Ihyauddin sempat dipakai untuk menggalang kekuatan dan tempat para tentara pejuang. Bahkan Siman sempat didirikan markas sementara bagi tentara-tentara pejuang. Sebab daerah kecamatan Sekaran khususnya Siman adalah daerah rawan bagi musuh, sehingga di sebelah utara desa Siman lebih kurang satu kilometer tepatnya di jembatan desa Karang Widang pernah terjadi genjatan senjata antara tentara pejuang dengan tentara Belanda. Dengan peristiwa itu gugurlah dua putra desa Siman yaitu Ngasiyah dan Hasbullah sebagai kusuma bangsa dan yang terakhir ini adalah salah seorang santri pesanten Ihyauddin.

  1. Letak pondok pesantren Al-Fattah

Pondok  Pesantren  Al-Fattah terletak di desa Siman kecamatan Sekaran kabupaten Lamongan. Letak desa itu 3 km dari kota kecamatan, 35 km dari Kabupaten Lamongan dan sekitar 120 km dari Ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Bila dilihat dari letaknya pondok pesantren Al-Fattah berada di ujung timur sebelah utara desa siman dan berbatasan dengan desa kembangan.

  1. Unit-unit pendidikan formal yang ada di Pondok Pesantren Al-Fattah
  2. a)Tahun 1978 didirikan Madrasah Ibtida’iyah.
  3. b)Tahun 1967 dan 1969 didirikan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah
  4. c)Tahun 1976 didirikan unit SMP Siman Jaya.
  5. d)Tahun 1978 didirikan Taman Kanak-Kanak
  6. e)Tahun 1988 didirikan SMA Siman Jaya dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Fattah (STITTAF).
  7. f)Tahun 1999 berdiri SMA Unggulan BPPT.
  8. g)Tahun 2008 didirikan Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah Program Khusus Pondok Pesantren.
  1. Kilas Proses Pendirian SMP SIMANJAYA

Sejarah beridinya SMP SIMANJAYA tidak terlepas dari perjalanan panjang Pondok Pesantren Al-Fattah Siman Sekaran Lamongan.  Pondok Pesantren Al-Fattah berdiri sejak September tahun 1941 oleh al-maghfurlah KH. Abdul Fattah,  pada mulanya pendidikan yang dikembangkan adalah pendidikan keagamaan ansich dengan sistem pendidikan pondok pesantren salaf. Namun demikian pada masa agresi militer Belanda dan masa revolosi perkerakan G30S/PKI, keluarga besar Pondok Pesantren AL-Fattah   terlibat secara aktif dalam perjuangan Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa doktrin hubbul wathan min al-iman merupakan salah satu pilar yang terus dijaga dan dilestarikan, sekaligus sebagai bukti bahwa eksistensi Pondok Pesantren harus menjadi pelopor dalam perkembangan dan kemajuan masyarakat muslim Indonesia.

Terbukti sudah bahwa nilai-nilai yang dikembangkan melalui sistem pendidikan pondok pesantren memiliki keunggulan dalam membentuk kepribadian tangguh, dan inilah kelebihan yang perlu dilestarikan. Di satu sisi sistem pendidikan formal atau persekolahan saat itu sedang dikembangkan oleh Negara dan akan menjadi satu sistem pendidikan nasional, pada saatnya nanti akan menjangkau seluruh masyarakat. Bagaimanapun karakteristik persekolahan berbeda dari sistem pesantren dengan kelebihan dan kekurangannya. Agar misi Pondok Pesantren Al-Fattah dapat menjangkau lebih luas, tidak hanya dalam sistem pesantren saja, tetapi juga dapat menjadi bagian dalam sistem pendidikan nasional melalui sekolah dan madrasah. Upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan materi keagamaan khusus, penanaman dan pembiasaan nilai-nilai spiritual serta semaksimal mungkin melaksanakan pendidikan dalam sistem asrama. Sehingga seyogjanya semua siswa atau mahasiswa di sekolah atau madarasah yang diselenggarakan berasrama, demikian juga tenaga pendidik dan kependidikan.   Hal ini juga disebabkan secara empiris bahwa sistem asrama lebih menjamin efektifitas dalam mencapai tujuan pendidikan. Dan inilah salah satu alasan di dirikannya Pondok Pesantren Al-Fattah.

SMP SIMANJAYA  adalah salah satu unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah di samping lembaga  pendidikan formal sekolah dan Madrasah yang didirikannya.  Lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah, mulai dari pendidikan Taman Kanak-Kanak, pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi, serta lembaga pendidikan non formal lainnya, yaitu Pondok Pesantren, majlis ta’lim, dan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Di bawah asuhan Drs KH. Abdul Madjid Fattah, lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah sampai dengan tahun 2017 adalah 1. Pondok Pesantren Al-Fattah, 2.Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Banin, 3. Madrasah Ibitaiyah Slafiyah Banat, 4. Madrasah Tsanawiyah Salafiyah, 5. Madrasah Aliyah Salafiyah, 6. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Fattah Program S1 Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Prodi Pendidikan Guru MI (PGMI), 7. TK Simanjaya, 8. SMP Simanjaya (Program Kelas Reguler dan Kelas Unggulan), 9. SMA 1 Simanjaya, 10. SMA Unggulan BPPT Al-Fattah, 11. Universitas Billfath

Awal pendirian SMP SIMANJAYA bemula dari sebuah kegelisahan yang dialami oleh Al-Mukarrom Drs. KH. Abdul Madjid Fattah, yang mana saat itu beliau sudah memiliki lembaga pendidikan Madradah Ibtidaiyah yang jumlah lulusaanya cukup banyak akan tetapi tidak dapat melanjutkan ke jenjang atasnya karena saat  itu belum ada lembaga tingkat SMP di sekitar kecamatan sekaran. Berangkat dari sebuah keingingan untuk turut serta mencerdesakan kehidupan bangsa dan dakwah islamiyah melalui jalur pendidikan akhirnya dengan bermodalkan niat dan tekad yang bulat, beliau memberanikan diri untuk pergi ke kantor dinas pendidikan dan kebudayaan Jawa Timur di Surabaya guna mencari informasi proses dan persyaratan pendidirian SMP.

Setelah mendapat informasi yang cukup, Al-Mukarrom Drs. KH. Abdul Madjid Fattah memulai proses pendirian SMP dengan dibantu oleh beberapa pengurus Pondok Pesantren Al-Fattah dan tokoh masyarakat desa sisman. Dan pada akhirnya pada tanggal 30 Juni 1976 SMP SIMANJAYA secara resmi telah berdiri dan saat itu menduduki no urut kedua se jawa timur sebagai sekolah SMP Swasta yang berada di bawah naungan pondok pesantren,

SMP Simanjaya terletak di desa Siman Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan. Sebuah desa yang berjarak kurang lebih 30 km dari pusat pemerintahan kota lamongan kearah barat laut. Dan berada disebelah selatan Kecamatan Sekaran yang berjarak kurang lebih 5 km. Jika dilihat dari letak geografisnya SMP Simanjaya terletak di tengah desa sebelah timur laut desa Siman.

Dalam perjalanan pengelolaan pendidikan, SMP SIMANJAYA mengalami kemajuan yang cukup signifikan hingga tahun 1990-an animo masyarakat terhadap SMP SIMANJAYA sangat tinggi, jumlah murid saat itu mencapai ribuan yang datang dari berbagai wilayah bahkan sampai di luar kabupaten Lamongan. Namun setelah itu, seiring dengan bertambahnya jumlah lembaga pendidikan baru yang berdiri di sekitar kecamatan Pucuk,  Maduran, Laren dan menurunnya jumlah anak usia sekolah SMP,  jumlah anak yang belajar di SMP SIMANJAYA juga ikut menurun

  1. Kilas Pembukaan Kelas Unggulan SMP SIMANJAYA

Dalam kaca mata masyarakat kabupaten Lamongan, jumlah siswa dalam suatu sekolah menjadi salah satu indikator mutu tidaknya sekolah tersebut. Apabila suatu sekolah memiliki jumlah murid yang banyak, maka sekolah tersebut dinilai bermutu dan menjadi idola. Disamping jumlah murid, prestasi non akademik yang diperoleh siswa juga menjadi indikator mutu sekolah. Satuan pendidikan akan sangat digemari oleh siswa manakala satuan pendidikan tersebut sering menjuarai berbagai lomba.

Pada tahun ajaran 2008/2009 jumlah siswa SMP SIMANJAYA sekitar 150. Merosotnya jumlah siswa ini dilatarbelakngi oleh banyaknya lembaga pendidikan baru di sekitar kecamatan Pucuk, Maduran dan Laren dan menurunnya jumlah anak usia SMP. Disamping itu, menu pendidikan yang ditawarkan di SMP SIMANJAYA tidak jauh berbeda dengan yang lain, sehingga calaon siswa cenderung belajar di sekolah yang dekat dengan tempat timggal mereka.

Merosotnya jumlah murid dan menurunyan animo masyarakat terhadap SMP SIMANJAYA menjadi sebuah pemikiran tersendiri bagi seluruh stake holder di SMP SIMANJAYA, khusunya bagi pendiri sekolah itu sendiri, Al-Mukarrom Drs KH. Abdul Madjid Fattah. Dalam benak beliau muncul sebuah ide bahwa harus dilakukan perubahan di SMP SIMAJAYA. Akhirnya beliau mengintruksikan kepada Kepala Sekolah saat itu yakni Muhammad Sya’roni, M.S.I untuk membuat kelas unggulan.

Mendapat intruksi dari Al-Mukarrom KH. Agus Abdul Madjid Fattah akhirnya kepala sekolah beserta struktur sekolah melaksanakan rapat persiapan dan penyususnnan proposal pendirian lalu kemudian menhajukan kepada pengurus Yayasan pondok Pesantren Al-Fattah. Setelah membaca dan mengkaji isi proposal pendirian kelas unggulan ternyata pengurus yayasan tidak menyetujui pendiri kelas unggulan tersebut dengan alasan kekurang siapan sarana yang dibutuhkan.

Mendapat penolakan dari yayasan akhirnya kepala sekolah beserta struktur SMP SIMANJAYA memendam dulu keinginan Al-Mukarrom KH. Agus Abdul Madjid Fattah sampai pada akhirnya menjelang satu bulan ajaran baru 2011/2012 beliau mengintruksikan kembali untuk segera mendirikan kelas unggulan. Mendapat intruksi tersebut akhirnya kepala sekolah beserta struktur bertekad memberanikan diri untuk mendirikan kelas unggulan tanpa mendapat persetujuan dari pengurus yayasan dan siap menanggung apa pun resikonya dan bahkan guru-guru SMP SIMANJAYA bersedia memberikan pinjamaman sejumlah uang yang dibutuhkan untuk persiapan kelas unggulan.

Secara resmi pada tahun pelajaran 2011/2012 SMP Simanjaya membuka Kelas Unggulan dengan Model Boarding School. Semua siswa yang diterima dikelas Unggulan wajib tinggal di pondok yang didirikan oleh SMP Simanjaya karena harus mengikuti proses pembelajaran selama 24 jam setiap hari.

Dengan adanya Kelas Unggulan ini, sekolah memiliki waktu yang cukup panjang untuk menggali potensi-potensi yang ada pada diri santri/siswa untuk dibina dan dikembangkan hingga akhirnya dapat menuai berbagai prestasi, baik prestasi akademik, seni, bahasa, sain, maupun  olahraga.

Keberadaan kelas unggulan merupakan kebangkitan kembali akan kejayaan SMP SIMANJAYA. Animo masyarakat cukup tinggi, jumlah siswa yang daftar dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan, prestasi yang diraih pun semakin banyak bahkan sampai timgkat Nasional.

Dalam proses pendirian kelas unggulan tidak lepas dari hambatan yang menghalang. Salah satu hambatan berdirinya kelas unggulan adalah terbatasnya sarana yang dimilki oleh SMP SIMANJAYA. Akan tetapi terbatasnya sarana yang dimiliki bukan berarti terbatasnya pula kreatifitas berfikir guru-guru SMP SIMANJAYA dalam mengatasi hambatan tersebut. Kebutuhan yang vital dalam kelas unggulan adalah tersedianya Asrama atau tempat tinggal santri. Karena SMP SIMANJAYA tidak punya asrama akhirnya kepala sekolah mendekati kepala SMA Unggulan BPPT Al-Fattah untuk rela meminjamkan dua ruang Asrama, satu ruang untuk asrama putri, dan satu ruang untuk asrama putra. sedangkan untuk ruang belajar, kepala sekolah meminjam satu ruang STIT Al-Fattah yang posisinya bersandingan dengan gedung SMP SIMANJAYA.

  1. Kilas SMP Berbasis Pesantren

Tajuk “Sekolah Unggulan Berbasis Pesantren” yang dijadikan sebagai branding  SMP SIMANJAYA bukanlah hiasan kata belaka, melainkan suatu realita dan pengakuan dari masyarakat bahwa SMP SIMANJAYA adalah SMP unggulan yang mengintegrasikan nilai-nilai dan kultur pesantren dalam sekolah, baik dalam pengelolaan maupun pembelajaran.

Keunggulan SMP SIMANJAYA dibuktikan dengan berbagai prestasi yang diraih oleh santri-santri SMP SIMANJAYA, baik prestsi akademik maupun prestasi non akademik.  Pengintegrasikan nilai-nilai dan kultur pesantren ke dalam sekolah, baik dalam pengelolaan maupun dalam pembelajaran yang sejak awal berdiri telah dilakukan pada tahun 2015 mendapatkan pengakuan secara formal berdasarkan surat keputusan bersama antara Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (Dit. PSMP), Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional dengan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Dit. PD Pontren) Direktoral Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI.

Kebijakan SMP Berbasis Pesantren  (BP) cukup strategis di tengah tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Dengan kebijakan ini sekolah yang tergabung ke dalam SMP BP dapat meningkatkan mutu dengan mengintegrasikan kultur pesantren ke dalam sekolah baik dalam manajemen sekolah maupun ke dalam pembelajaran setiap mata pelajaran.

Secara umum, tujuan integrasi kultur pesantren melalui manajemen sekolah ini adalah agar sekolah memadukan kultur kepesantrenan dalam segenap perencanaan, pengelolaan atau pengorganisasian, realisasi jasa layanan pendidikan, pemantauan, pengukuran, hingga perbaikan mutu layanan pendidikan yang diakukan SMP BP. Sedangkan tujuan integrasi kultur kepesantrenan ke dalam mata pelajaran adalah untuk memadukan kultur kepesantrenan ke dalam proses pembelajaran di sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada evaluasi pembelajaran

Berdasarkan identifikasi sumber kultur pesantren yang terdiri atas aspek ubudiyah, aspek mu’amalah, aspek pendidikan kepesantrenan, aspek kepemimpinan, dan aspek kelembagaan, maka beberapa kultur pesantren yang diidentifikasi dapat dintegrasikan ke dalam manajemen maupun pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) Pendalamn ilmu-ilmu agama, (2) Mondok, (3) Kepatuhan, (4) Keteladanan, (5) Kesalehan, (6) Kemandirian,   (7) Kedisiplinan, (8) Kesederhanaan, (9) Toleransi, (10) Qana’ah, (11) Rendah Hati,  (12) Ketabahan, (13) Kesetiakawanan / Tolong menolong, (14) Ketulusan, (15) Istiqamah, (16) Kemasyarakatan, (17) Kebersihan  ( *As.Alumni 90).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY