Rumah Baca Api Literasi Wadah Pribadi yang Produktif dan Profetik

Rumah Baca Api Literasi Wadah Pribadi yang Produktif dan Profetik

161 views
0
SHARE

RBAL merupakan singkatan dari Rumah Baca Api Literasi yang merupakan wadah yang bergerak di dimensi kultural literasi, baik budaya membaca dan budaya menulis. Salah satu pendirinya adalah Fathan Faris Saputro, beliau adalah mahasiswa Muhammadiyah sekaligus aktivis di rana IMM yakni bergerak di rana mahasiswa. Beliau juga merupakan faunding father di dalam Rumah Baca Api Literasi.

Dalam perkembangannya RBAL, telah menciptakan kader yang kompeten di bidang literasi dan juga mempunyai kualitas dan kuantitas, baik dari segi anggota dan internal sangat menajubkan. Artinya RBAL telah menciptakan kader-kader yang mempunyai kapabilitas yang tinggi terutama di ranah mahasiswa.

Makna Umat

Kata umat dalam KBBI berarti para pengikut. Dan jika dikembangkan maka kata umat merupakan dinamika kultural baik di dalam wadah atau tempat ini atau eksekutif di rana luar, seperti pelajar dan mahasiswa atau publik.

Dengan adanya RBAL sebagai tempat para intelektual mudah, maka di kemudian hari eksistensi pergerakan RBAL sangat di harapkan berkembang di masyarakat, bangsa dan negara. Sebab dengan adanya RBAL sebagai wadah membaca dan menulis dinamika teknologi akan tersaring dengan baik sehingga dogma-dogma yang menyimpang ataupun informasi hoaks yang beredar di dunia maya bisa di filter dengan bijak oleh para pembaca ataupun netizen.

Membaca Merupakan Langkah Awal untuk Menjadi Produktif

Langkah awal untuk menjadi produktif di dalam menjalankan tugas di aspek-aspek mana pun. Hendaknya di mulai dengan membaca. Sebab membaca bukan hanya membaca satu buku saja akan tetapi membaca adalah proses bagaimana seseorang menyerap dan merangkai sebuah analisa yang di jembatani melalui buku, media elektronik atau media non-elektronik. Sehingga ada sebuah pengetahuan sekaligus wawasan baru agar menjadikan diri menjadi profetik dan kompeten di dalam menaungi sebuah organisasi atau di dalam menjalankan sebuah kepemimpinan.

Gerakan Rumah Baca Api Literasi merupakan modal awal di dalam pengembangan diri untuk menjadi pribadi yang produktif, profetik dan mempunyai kapabilitas baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dapat menjadikan diri menjadi profesional sesuai ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Arti Penting Sebuah Wadah

Wadah atau sering diartikan dengan tempat merupakan fondasi utama dalam melakukan dan mengapresiasikan sebuah bakat dan potensi seseorang. Dalam konsensus yang ada banyak sekali yang kita temukan seseorang mempunyai bakat melukis. Misalnya, akan tetapi seorang tadi tidak mendapatkan wadah atau tempat untuk mengembangkan potensinya, sehingga ia akan mengalami kebingungan dan mencari-cari tempat lain atau ia akan mentiadakan bakat atau potensi dirinya.

Begitu juga seorang intelektual, sebut saja rana mahasiswa, akan tetapi ia tidak memiliki wadah otomatis ia akan berusaha mencari relasi ke tempat yang lain. Sebab ia tidak mendapatkan haknya terhadap potensi dan bakat yang di miliki.

Maka Rumah Baca Api Literasi merupakan langkah awal bagi seorang intelektual muda untuk mendapatkan haknya, sehingga ia akan melakukan perubahan terhadap lingkungan sekitar. Melalui wadah ini juga, kesadaran para intelektual muda dalam menanggapi ke krisis-an dan juga kebijakan-kebijakan pimpinan akan tumbuh secara spontanitas.

Percuma saja seseorang mempunyai kapabilitas di dunia intelektual, akan tetapi sangat minim sekali mereka dapat mengaktualisasikan yang di topang dengan wadah atau tempat mereka. Sebab melalui wadah atau tempat pula, seseorang akan di bentuk melalui benturan di luar ekspetasi mereka. Dari sini maka ia akan menjadi pribadi yang mempunyai kapabilitas lebih dan kompeten. Sehingga ia sangat dihormati dan di segani melalui etika atau adab atau cara ia berbuat dan memutuaskan yang didapat melalu pengalaman ilmu yang dimilikinya.

Budaya Literasi Merupakan Solusi untuk Bangsa Kini

Pesatnya perkembangan teknologi sekarang mengubah kultur dan dinamika di masyarakat. Peralihan budaya tradisional-normatif menjadi modernisasi menyebabkan berbagai kalangan baik dari pemerintahan sampai ke organisasi mengubah arah gerak dan langkah agar tetap dan bisa berdampingan dengan zaman.

Memasuki zaman five to zero (5.0) yang merupakan proyek gemparan teknologi dari budaya industrial ke zaman dunia maya, merupakan probematika yang harus di pecahkan. Sebagai generasi Z, atau generasi muda sekaligus generasi penerus bangsa, maka kapabilitas dalam inovasi bidang dan kreativitas dalam mengolahnya adalah sebuah langkah awal agar menjadi generasi yang mampu memanfaatkan dan mendayagunakan sebuah teknologi.

Akan tetapi, jika sebagai generasi Z atau generasi muda sekaligus generasi penerus bangsa tidak melakukan kegiatan atau aktivitas membaca, dapat dipastikan mereka akan ketinggalan zaman. Sebab sekarang, kita ketahui bersama, bahwasanya negara kita merupakan negara yang cinta dengan literasi di tingkatan yang ke 62. Ini menandakan bahwasanya para generasi Z, atau generasi mudah sekaligus penerus bangsa perlu untuk melakukan rekonstruksi dasar yang kompeten dalam hal literasi.

Literasi sendiri, bukan hanya prihal menulis dan membaca saja. Sebab jika di telaah lebih dalam, makna literasi akan bersandingan dengan modernisasi. Hemat kami untuk menjadi umat sekaligus negara yang adidaya maka dapat dilihat melalui budaya literasi yang ada di umat atau negara tersebut.

Makna literasi atau budaya membaca dan menulis ini merupakan langkah awal untuk bangsa ini lebih maju. Kontekstual membaca adalah melihat dan menganalisis lebih mendalam terkait buku bacaan atau referensi yang di gunakan dalam perilaku membaca. Sebab aktivitas membaca akan merupa cara pandang dan perilaku seseorang agar menjadi lebih baik. Sedangkan aktivitas menulis merupakan aktivitas yang tidak dapat di pisahkan ketika selesai membaca, atau dapat di artikan aktivitas yang berkelanjutan setelah selesai membaca.

Sebagai negara yang berperingkat ke-62, maka sebagai generasi muda sekaligus generasi bangsa budaya literasi hendak di lakukan sejak sekarang, sebab untuk negara naik peringkat di dunia pendidikan maka budaya literasi hendaknya ditanamkan sejak dini, baik di SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA/SMK ataupun di rana kampus atau rana mahasiswa itu sendiri.

Teologi Al-Alaq Ayat 1 Sampai 5

Wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah surah Al Alaq ayat 1 sampai 5, melalui Malaikat Jibril. Dalam penerimaan wahyu pertama, Nabi Muhammad merasakan ketakutan mendalam, sehingga Malaikat Jibril mendekapinya agar Nabi Muhammad tidak merasakan ketakutan.

Dalam penerimaan wahyu ini ada konjungsi agar umat Islam menjadikan ibra dalam kehidupannya. Umat Islam sekarang mengalami kemunduran yang signifikan di sebabkan oleh umat Islam itu tersendiri. Salah satunya adalah di sebabkan karena umat Islam tidak mau membaca baik membaca Al Quran, hadis atau karya-karya para ulama’ terdahulu untuk dijadikan sebagai sumber utama sekaligus sumber referensi agar umat ini menjadi umat yang maju.

Maka sebagai generasi penerus, baik bangsa, negara, umat dan masyarakat penanaman nilai literasi, baik membaca dan menulis merupakan tonggak utama agar dan bagaimana umat ini menjadi umat Islam yang maju, sehingga tidak mudah digoyahkan dan tidak mudah di manfaatkan serta tidak mudah di adu domba oleh bangsa atau umat lain.

Penulis: Muhammad Haris Nurdiansyah (Pegiat Rumah Baca Api Literasi)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY