Kesaksian Dokter Bedah Dalam Perkara Dugaan Malpraktik Sunat, Mendapat Sorotan Tajam...

Kesaksian Dokter Bedah Dalam Perkara Dugaan Malpraktik Sunat, Mendapat Sorotan Tajam Ketua LSM KP2PH2P Babel

193 views
0
SHARE

Pangkalpinang, Kabar One.com – Persidangan dugaan malpraktik sunat dengan terdakwa Tamrin pemilik Rumah Sunat Babel yang juga adalah seorang ASN di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, kembali digelar pada Rabu (11/5/2022) di PN Pangkalpinang.

Persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ketua Listiyanto dengan JPU Efendi sebagai JPU Pengganti, mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan, yaitu seorang dokter ahli bedah dengan inisial A. Dokter A inilah yang melakukan operasi ulang terhadap pasien, sebut saja Kumbang, yang sebelumnya terluka penisnya karena kegagalan proses sunat oleh terdakwa Tamrin pada hari Minggu,13 Juni 2021 lalu.

Dokter A mengatakan, setelah proses operasi pasien oleh pihaknya di RSUD Depati Hamzah, kondisi kumbang dikatakan telah membaik sekitar 2 minggu kemudian. “Dua minggu setelah operasi, kondisinya telah membaik, “katanya.

Menjawab pertanyaan dari majelis hakim apakah untuk melakukan praktek sunat harus mendapatkan ijin dari mana saja, dokter A mengatakan pihaknya tidak mengetahui. “kalau masalah itu saya kurang paham, “katanya.

Kesaksian dokter A tersebut mendapat sorotan tajam dari aktifis perlindungan anak dan perempuan, yaitu Zubaidah yang juga merupakan Ketua LSM P2H2P
(Perlindungan dan Pemberdayaan Hak – Hak Perempuan) Provinsi kepulauan Babel yang juga turut hadir menyaksikan persidangan.

Menurut Zubaidah, keterangan dokter A bertolak belakang dengan keterangan yang disampaikan oleh nenek Kumbang kepada dia . Dokter A mengatakan bahwa setelah dilakukan operasi, Kumbang dikatakan membaik 2 minggu(14 hari) kemudian.

Kronologis yang didapatkan dari nenek kumbang, mengatakan pasca operasi Kumbang diberikan surat rujukan kontrol kembali ke RSUD dan pihak keluarga mengikuti setiap petunjuk yang diberikan dokter dan keluarga Kumbang turut didampingi Tamrin bolak-balik ke RSUD Depati Hamzah.

“Hal ini karena dari penis kumbang mengeluarkan darah lagi setelah pulang kontrol yang oleh dokter N di poli bedah saat itu bertugas ,kateter pada penis dilepaskannya dan sorenya kembali ke UGD dan dilakukan pemasangan kateter lagi pada penis kumbang .”katanya.

Terlebih lagi, lanjut Zubaidah, setelah 17 hari dari selesai operasi oleh dokter A , tepatnya 30 Juni 2021, kumbang masih merasakan kesakitan pada penisnya. Dan bahkan dari penisnya mengeluarkan nanah atau terjadi infeksi. dimana disela-sela diantara kateter yang terpasang pada penis Kumbang mengeluarkan nanah tak hentinya.

“Kumbang kontrol pada hari itu juga dan ditangani dokter A tersebut. Terdakwa Tamrin hadir menemani diruang Poli bedah RSUD Depati Hamzah waktu itu, dan Kumbang diberikan obat. Sepulang dari RSUD Depati Hamzah Kumbang juga masih kesakitan walau sudah dikasih obat, hingga nenek kumbang mengabari keadaan kumbang kepada dokter A melalui pesan WA yang ditanggapi dokter A untuk membuka kateternya bila nanah masih keluar sampai besok hari dgn meminta bantuan perawat (Bu Diah). “jelas Zubaidah.

Lebih jauh dikatakan, kemudian nenek kumbang juga mengabari Tamrin.sore harinya, dimana Tamrin datang ke rumah nenek Kumbang dan melihat kondisi Kumbang yang kesakitan. Dan kemudian Tamrin melepaskan kateter yang terpasang pada penis Kumbang setelah menerima translit pesan WA tentang intruksi dokter A dari nenek Kumbang.

“pada tgl 13 Juli 2021 kumbang ditemani keluarga dan Tamrin kembali kontrol ke Poli Bedah menemui dokter A. Dokter A mengatakan bahwa Kumbang harus ditangani oleh dokter Urologi untuk operasi kembali karena kondisi kencing Kumbang yang tidak normal dan dokter A tersebut membuatkan surat rujukan ke RS Siloam Bangka. “katanya.

Pada tanggal 26 Juli 2021, papar Zubaidah, pihak keluarga bersurat kepada pimpinan RSUD Depati Hamzah perihal permintaan informasi tindakan penanganan Kumbang dan 27 Juli 2021 pihak keluarga mendapatkan surat keterangan kronologi operasi Kumbang yang tertanda tangan dokter A.

“dari keterangan RS Siloam kondisi Kumbang mengalami infeksi kantung kemih dan Kumbang akan diambil tindakan menjalani operasi setelah infeksinya sembuh untuk mengatasi kondisi kencing kumbang yang kecil seperti lidi . Tetapi kondisi Kumbang yang mengalami trauma adalah kendala hingga operasi belum bisa dilaksanakan yang semulanya operasi dijadwalkan 7 Agustus 2021. “katanya.

Setelah mengetahui kronologis kejadian yang dia dengar dari nenek Kumbang sebagaimana disampaikan tersebut, membuat Zubaidah terkejut dengan kesaksian dokter A yang dinilainya ada keganjilan. “setelah mengikuti persidangan, saya prihatin dengan kesaksian dokter ahli bedah tersebut, yang mengatakan setelah 2 minggu kumbang dikatakan dalam kondisi baik. Padahal setelah 17 hari pasca operasi, kumbang ini dalam kesakitan luar biasa, bahkan penisnya mengeluarkan nanah, yang diketahui dan disaksikan sendiri oleh dokter bedah tersebut,”ujarnya.

Bukti kondisi Kumbang memburuk, lanjut Zubaidah setelah sebulan pasca operasi, dokter bedah tersebut bahkan mengeluarkan surat rujukan ke dokter ahli urologi di RS Siloam. “Bagaimana bisa dikatakan kondisi Kumbang membaik, bahkan dia menyarankan dan mengeluarkan surat rujukan agar ke ahli urologi di RS Siloam . Apakah keterangan dokter bedah ini terkait pernyataannya dia sadar atau lupa, kita kurang tahu. “ujar Zubaidah.

Zubaidah juga mengapresiasi pertanyaan majelis hakim terkait perizinan praktek rumah sunat yang dijawab kurang paham oleh dokter A, dimana hal tersebut merupakan atensi pihaknya. “saya mengapresiasi majelis hakim yang menanyakan apakah rumah sunat perlu ijin, tetapi dokter menjawab tidak tahu, karena memang bukan ranahnya. Hal ini akan mendorong kami untuk mendatangi dinas – dinas terkait, apakah rumah sunat yang tidak memiliki ijin dapat berpraktek, “katanya.

Pihak media kemudian menghubungi dokter A terkait keterangannya dipersidangan tersebut. Namun dokter A mengarahkan kepihak Manajemen RSUD Depati Hamzah. “Silahkan menghubungi pihak manejemen untuk keterangan lainnya, “jelas A melalui pesan WA.

Sementara pihak Manajemen RSUD Depati Hamzah melalui Kabid Pelayanan M. Thamrin didampingi Kabag TU Linda mengatakan pihak manajemen terkait hal teknis kembali kepada dokter yang menangani. “terkait teknis, kembali kepada dokter yang menangani , karena merekalah yang paham. Merekalah yang tahu kronologisnya, untuk dapat menyampaikan didalam persidangan, “kata M. Thamrin. (Suh)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY