Reformasi sudah 24 tahun, siapa yang pimpin Indonesia ke depan (peta jalan...

Reformasi sudah 24 tahun, siapa yang pimpin Indonesia ke depan (peta jalan padi kapas)?

465 views
0
SHARE

Jakarta,kabar One.com- Pada hari ini, Kamis pon malam Jumat wage jam 4 sore 21 Juli 2022 di Pondok Gede Center Jakarta, kami, dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed., selaku Presiden Kawulo Alit Indonesia mohon ijin, doa restu, ijazah dan dukungan kepada semua pihak pemangku kepentingan di seluruh pelosok tanah air untuk menyampaikan Pidato Kebangsaan dengan Tajuk: Peta Jalan Padi Kapas Perisai Garuda Pancasila “Rakyat Sejahtera Berkeadilan”. Pidato kebangsaan ini harus kami sampaikan sebagai pandangan obyektif dan subyektif atas pemahaman perjalanan negeri ini, perjalanan hidup kami atas ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman tapakan kaki kehidupan.

“Wayahe wis manjing, yo sorak o sorak iyo!!!” Mari kita bersatu dan tangguh dibawah panji-panji Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa untuk mewujudkan kerinduan rakyat, bangsa dan segenap mahluk di bumi nusantara yang sudah ‘hiru membiru’ terwujudnya rakyat sejahtera berkeadilan, negeri ini menggapai adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT., Tuhan Yang Maha Kuasa, cita-cita besar Pembukaan UUD 1945.

Ijinkan kami untuk menukil kembali apa yang telah kami lakukan dan sampaikan. Untuk mewujudkan cita-cita besar Pembukaan UUD 1945 pada tanggal 7 Januari 2014 di Pendopo Agung Trowulan Mojokerto Jawa Timur kami telah menyampaikan bahwa untuk mewujudkan kejayaan negeri ini harus diwujudkan satu kesatuan segi tiga emas Indonesia. Yang pertama, kepemimpinan nasional dan bangsa harus ksatria, besar dan sejati. Yang kedua, segenap sumber daya dan kekayaan di bumi ini di negeri kita harus dikelola dengan baik dan benar, serta diperuntukkan sebesar-besarnya menggapai kejayaan nusantara. Dan pilar yang ketiga adalah justice and welfare state the all people, terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bangsa dan mahluk dibumi nuasntara.

Ijinkan kami menukil kembali Pidato Kebangsaan di Gedung Joeang 45 Jakarta pada Kamis 24 Januari 2019 dengan tajuk: Peta Jalan Indonesia 1945-2080, Kotak Pandora, Keadilan dan Adidaya Sapu Jagat Nusantara. Indonesia sejak diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta 17 Agustus 1945 hingga hari ini telah memasuki 77 tahun.

Indonesia telah melewati Peta Jalan Penataan 1945-1966 yang lazim disebut era orde lama. Dibawah kepemimpinan Sang Proklamator, Presiden RI pertama Bung Karno, segala sumber daya dan energi difokuskan untuk membangun kesatuan dan persatuan bangsa, untuk memperkokoh nasionalisme dan patriotisme bangsa, serta untuk pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan RI dari dunia internasional. Di Perisai Garuda Pancasila Peta Jalan Penataan Indonesia (orla) di simbolitaskan dengan Kepala Banteng dengan warna dasar merah.

Bung Karno bukan saja mampu menyatukan dan memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa, membangun dan memperkokoh nasionalisme dan patriotisme, namun Bung Karno mampu membawa Indonesia dikancah dunia internasional dengan diselenggarakannya GANEFO.

Namun, karena seluruh energi dan sumber daya difokuskan bukan untuk pembangunan ekonomi ujung dan akhirnya Peta Jalan Penataan Indonesia (Orla) berakhir pada tahun 1966 yang dipicu gejolak sosial dan politik karena adanya keterpurukan ekonomi dimana inflasi Indonesia mencapai 600%.

Pasca peta jalan penataan (orla) Indonesia memasuki peta jalan pembangunan yang lazim disebut era orde baru (orba) yang dipimpin Presiden RI kedua, Jenderal (Purn) H Soeharto selama 1966-1998. Dalam perisai Garuda Pancasila di simbolitaskan Pohon Beringin dengan warna dasar putih.

Pohon beringin itu mengayomi dan melindungi dengan akar yang kuat kebawah membangun kesejahteraan sosial. Di era Soeharto terjadi pembangunan bahkan Indonesia dianggap Macan Asia di Asia Pasifik.

Dengan prinsip kepemimpinan Soeharto, stabilitas politik adalah prasyarat pembangunan, setiap yang berbeda dilakukan kanalisasi. Dan pada ujung dan akhirnya kapasitas dan kemampuan negara lakukan kanalisasi terbatas dan sudah tidak mampu lagi yang akhirnya terjadi tragedi Trisakti 1998 dan Indonesia memasuki era reformasi

Di era reformasi yang kami sebut sebagai Peta Jalan Kotak Pandora Indonesia dari 1998 hingga hari ini 21 Juli 2022 sudah berumur 24 tahun. Di perisai Garuda Pancasila di simbolitaskan Rantai dengan warna dasar merah.

Sejak 1998 dinamika dan gejolak sosial politik tidak pernah tuntas bahkan semakin ekskalatif. Berbagai kenyataan rakyat dan bangsa ini semakin jauh dari cita-cita aman, damai, tentram sentosa, dan sejahtera berkeadilan sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 bahkan semakin meredup.

Simbolitas Rantai dengan warna dasar merah menunjukkan banyaknya dinamika dan gejolak sosial politik, serta terjadi banyak pergantian Presiden RI. Yaitu Presiden RI ketiga, BJ. Habibie, Presiden RI ke-empat Gus Dur, Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri, Presiden RI ke-enam SBY dan Presiden RI ketujuh Ir H Joko Widodo.

Kita sebagai bangsa besar dan kuat yang miliki peradaban adiluhung di dunia tidak boleh menghabiskan energi untuk mencari kambing hitam. Kita harus instrospeksi diri. Bertanya pada diri sendiri kenapa realitas di negeri ini semakin jauh dari cita-cita adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Untuk itulah pada hari yang mulia ini Kamis pon malam Jumat wage 21 Juli 2022 di Pondok Gede Center Jakarta kami menyampaikan Pidato Kebangsaan dengan tajuk: Peta Jalan Padi Kapas Perisai Garuda Pancasila Rakyat Sejahtera Berkeadilan. Tidak ada maksud dan tujuan lain kecuali ingin menyampaikan kepada seluruh rakyat, bangsa dan mahluk di negeri ini untuk bersatu dan tangguh dibawah Panji-panji Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa berupaya dengan segala daya dan dari segala arah mewujudkan rakyat sejahtera berkeadilan, bangsa dan mahluk di negeri ini aman, damai, tentram dan sentosa, serta negeri ini dalam tempo secepat-cepatnya menggapai kembali adil, makmur dan adidaya.

Dalam perjalanan 77 tahun RI, dalam perjalanan peta jalan penataan dan pembangunan, serta peta jalan kotak Pandora Indonesia yang masih dan sedang berlangsung kita merindukan adanya keseimbangan keberadaan Tuhan, rakyat, bumi semesta Nusantara beserta isinya dan tatanan nilai, budaya dan peradaban adiluhung leluhur bangsa sebagai pijakan dasar tata kelola bangsa dan negeri ini.

Pada hari yang mulia ini kami mengajak seluruh rakyat, bangsa dan pemangku di negeri ini, serta segenap mahluk di bumi Nusantara untuk memahami peta jalan padi kapas perisai Garuda Pancasila yang di simbolitaskan padi kapas dengan warna dasar putih. Pada peta jalan ini seluruh rakyat, bangsa dan mahluk di bumi Nusantara terpasak dan tersadarkan secara utuh dan menyeluruh untuk bersatu dan tangguh, berupaya dengan segala daya dan dari segala arah bersama-sama membangun negeri ini mewujudkan rakyat sejahtera berkeadilan dan negeri ini menggapai kembali adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT., Tuhan YME.

Pada peta jalan padi kapas ini insya-aAllah Tuhan menurunkan mutiara dibalik peta jalan kotak Pandora negeri yaitu sosok pemimpin besar, ksatria dan sejati yang menghibahkan segala yang dimilikinya hanya untuk rakyat, bumi semesta Nusantara beserta isinya, dan tatanan nilai budaya peradaban adiluhung leluhur bangsa.

Kami sebagai rakyat, bangsa dan warga negara RI, serta selaku Presiden Kawulo Alit Indonesia haqqul yakin, tata kelola bangsa dan negeri ini pada peta jalan padi kapas selalu menghadirkan keseimbangan keberadaan Tuhan, rakyat, bumi semesta Nusa beserta isinya dan tatanan nilai, budaya peradabang adiluhung leluhur bangsa.

Akan hadir sosok pemimpin besar, ksatria dan sejati yang mengorbankan seluruh yang dimilikinya hanya untuk yang dipimpin dan berani lakukan revolusi tata kelola bangsa dan negeri ini.

Ke depan tatkala ada mega korupsi dan OTT KPK maka tidak akan terjadi lagi juga kasus-kasus perongrongan uang rakyat dan uang negara.

Ke depan, rakyat, bangsa dan pemimpin negeri ini ke masjid, ke gereja, ke kuil, ke pure, ke wihara, ke klenteng bukan untuk pencitraan. Melainkan menghadirkan Tuhan pada dirinya sendiri, menghadirkan Tuhan dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Demikian pula kekayaan negeri ini yang sangat melimpah terkelola secara baik dan benar, serta diperuntukkan sebesar-besarnya mewujudkan rakyat sejahtera berkeadilan, dan negeri ini menggapai kembali adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT, Tuhan YME.

Padi dan Kapas simbol aman, damai, sentosa, dan sejahtera berkeadilan

Warnah putih simbol keseimbangan keberadaan Tuhan, rakyat, bumi Nusantara dan peradaban adiluhung leluhur bangsa

Bersatu dan tangguh rakyat sejahtera berkeadilan

Bersatu dan tangguh kedaulatan kita rengkuh kembali

Bersatu dan tangguh dibawah Panji-panji Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa negeri ini gapai kembali adil makmur adidaya

Merdeka !!!
Merdeka !!!
Merdeka !!!

Salam hormat dan doa kami untuk rakyat dan bangsa Indonesia, untuk segenap mahluk dibumi Nusantara

Jakarta, kamis pon malam jumat wage 21/7/2022

dr. Ali Mahsun ATMO M Biomed
Presiden Kawulo Alit Indonesia
Cah Ndeso Pinggir Lor Kali Brantas Mojokerto Jawa Timur

Disadur dari translit video pidato kebangsaan tanggal 21/7/2022(****).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY