Perkara Dugaan Penyekapan Pekerja Pelaut Di Muara Angke Terkesan Dipaksakan Pelapor Sudah...

Perkara Dugaan Penyekapan Pekerja Pelaut Di Muara Angke Terkesan Dipaksakan Pelapor Sudah Berdamai Minta Maaf dan Menyesal

247 views
0
SHARE

Jakarta ,Kabarone.com,-Perkara dugaan penyekapan pekerja pelaut yang terjadi di Muara Angke, Pluit Jakarta Utara yang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), terkesan dipaksakan. Pasalnya, korban atau pelapor mengaku menyesal dan minta maaf terhadap terdakwa saat diperiksa dalam persidangan di hadapan majelis hakim pimpinan Rudi Kindarto, dan dua hakim anggota Hj.Erly dan Maryano.

Antara pemilik perusahaan dan pelapor sudah berdamai bahkan diberikan uang kerohiman, Pelapor mengakui hal itu sehingga meminta maaf kepada terdakwa dan keluarganya di hadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Subhan dan Penasehat Hukum terdakwa, Andro Manurung SH. Pernyataan pelapor tersebut mendapat respons dari pimpinan majelis hakim dengan mengatakan, ”kamu minta maaf lalu bagaimana nasib para terdakwa yang saat ini ditahan,” ucap pimpinan sidang Rudi kindarto SH MH.

Tiga terdakwa Alex Cs, yang diduga melakukan penyekapan terhadap calon pekerja pelaut itu, saat ini ditahan dalam Rumah tahanan sementara titipan Kejaksaan Jakarta Utara. Korban sebenarnya melaporkan pemilik perusahaan Bernama Anto. Polres KP3 Pelabuhan Tanjung Priok melakukan penggerebekan di mes tempat tinggalnya para calon karyawan pelaut, di Pelabuhan Muara Angke. Terdakwa disangkakan Pasal Penyekapan dan Pasal Perdagangan Orang yang dilaporkan korban Ary Gunawan Cs. Bahkan pelapor Ary Gunawan juga mengaku dalam persidangan, sudah berdamai dengan pihak perusahaan.

Dalam persidangan pemeriksaan korban dan saksi penangkap anggota Kepolisian, tidak ada satupun yang mengungkapkan keterangan bahwa perbuatan ketiga terdakwa melakukan Perdagangan Orang. Terdakwa tidak pernah menjual orang atau mengontrakkan calon karyawan pelaut tersebut ke perusahaan lain. Dua saksi anggota Kepolisian Polres KP3 Pelabuhan Tanjung Priok, yang datang ke TKP menjemput para korban saat diperiksa dalam persidangan menerangkan, tidak melihat para korban disekap tapi melihat para korban berada di mes dalam perusahaan. Korban mengaku hanya ingin pulang saja. Apakah saudara saksi mengetahui bahwa uang perusahaan sudah dikeluarkan untuk kebutuhan para korban, kata saksi  kepada majelis hakim tidak tahu.

Menjawab pertanyaan majelis hakim, apakah saksi melihat ada tanda tanda kekerasan atau korban lemas lemas atau mengaku tidak diberikan makan dalam mes perusahaan saat saksi melakukan penjemputan terhadap korban, tanya hakim anggota Erly. Kedua saksi anggota Kepolisian itu menjawab “korban kondisinya biasa saja sehat tidak lemas, pengakuan mereka hanya ingin pulang saja,” ucap saksi.

Sementara menurut Penasehat hukum terdakwa Andro Manurung SH, selama berada di mes perusahaan para calon karyawan pelaut yang disebut korban itu, selalu dibiayai perusahaan kehidupannya dalam mes. Mereka bebas keluar mes, walau ditanyain penjaga mau kemana atau mau ngapain. Dalam perkara ini sesuai fakta atau keterangan saksi saksi dalam persidangan tidak ada perlakuan kekerasan, penyekapan atau untuk menjual orang atau perlakuan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Pelapor atau calon pelaut tersebut diberikan makanan dan minum, disediakan tempat tinggal yang layak dalam perusahaan Gudang yang di kontrak  TNI Angkatan Laut (TNI AL) berlokasi di Pelabuhan Muara Angke, Pluit Penjaringan Jakarta Utara itu.

Pihak perusahaan dan para korban, Ary Gunawan, Fadli Amar, Indra Nurhidayat, Jodi Setiawan dan Mohammad Taufik, telah berdamai saat berkas perkara masih di penyidikan. Sebagian teman calon pelaut nelayan tersebut sudah diberangkatkan bekerja sebagai nelayan menangkap ikan dan sudah mengirim uang kepada keluarganya masing masing.

“Terhadap yang mengaku korban telah dilakukan upaya perdamaian pihak perusahaan terhadap korban dan korban mengaku minta maaf kepada terdakwa dalam persidangan. Oleh karena itu, selaku Penasehat hukum terdakwa berharap kepada majelis hakim agar mempertimbangkan dan menilai bahwa dalam perkara tersebut tidak ada kemerdekaan korban yang dirampas para terdakwa, sehingga nantinya majelis hakim tidak ragu ragu untuk membebaskan ketiga terdakwa,” ungkapnya.

Dalam perkara dugaan penyekapan ini, sebenarnya yang dilaporkan adalah Anto, bukan ketiga terdakwa. Dua terdakwa KK dan AI, dijemput dari tempat kerjanya sementara terdakwa AD datang langsung ke Polres KP3 dan ditetapkan tersangka lalu ditahan, kejadian tersebut sekitar bulan Juli 2022. Sehingga, “perkara ini merupakan salah sasaran atau error in person. Tapi biarlah majelis hakim yang menilainya dalam amar putusannya nanti,” ujar Penasehat hukum terdakwa, 5/10/2022.

Menyikapi perkara tersebut JPU Subhan mengakui bahwa antara terdakwa dan para korban sudah berdamai, namun tidak bisa dilakukan Restorative Justice (RJ) sebab Pasalnya dugaan perbuatannya pasal spesialis bukan pasal biasa. Oleh karena itu pokok perkaranya tetap disidangkan, ucap Subhan. Sementara usai persidangan saat diminta tanggapan dari pimpinan sidang menyampaikan, majelis juga prihatin dalam perkara ini, sebab sudah berdamai dan tidak ada korban yang dirampas kemerdekaannya. Namun karena Pasal yang didakwakan JPU terkait dugaan Penjualan Orang merupakan pasal spesialis, untuk itu nanti akan dinilai majelis hakim,” ucap Rudi Kindarto 5/10/2022.

Penulis : P.Sianturi

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY