Tragedi Kanjuruhan: DPP IMM Nilai PSSI dan Pemerintah Gagal Kelola Sepak Bola...

Tragedi Kanjuruhan: DPP IMM Nilai PSSI dan Pemerintah Gagal Kelola Sepak Bola Indonesia

140 views
0
SHARE

Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menyanyangkan pertandingan BRI Liga 1 antara Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya (1/10/22) berakhir anarkis hingga berujung tragedi kemanusiaan. Pasalnya, dari kejadian tersebut korban meninggal dunia terus bertambah. Sebelumnya tercatat 127 korban kemudian menjadi 131 korban. Di samping itu terdapat ratusan lainnya luka-luka.

Sekretaris DPP IMM Bidang Seni Budaya dan Olahraga, Samsul Arifin, mendesak pemerintah segera melakukan investigasi dan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat kerusuhan untuk bertanggung jawab. Samsul mengatakan jika Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) tidak mampu mengelola panitia pelaksana pertandingan dengan baik dan sistematis, sehingga kejadian yang tidak diinginkan terjadi.

Hal tersebut buntut daripada ketidakjelasan PSSI dalam bekerja, menurut Samsul masih banyak para pengurus PSSI yang tidak memahami dunia sepakbola namun percaya diri menjadi pengurus. “Tragedi kemanusiaan ini menurut saya buntut dari gagalnya PSSI mengelola liga sepakbola Indonesia. Sebab, pertama, PSSI tidak mampu berkoordinasi dengan baik kepada panpel sehingga aksi anarkis dapat terjadi dalam stadion usai pertandingan. Kedua, ini buntut dari pengurus PSSI yang sebenarnya tidak jelas kompetensinya, sehingga pengelolaan sepakbola kita ini diserahkan kepada orang yang tidak ahli dalam dunia sepakbola”, ujarnya.

Investigasi Protokol Keamanan Pertandingan.

Penanganan keamanan di stadion pun menurut Samsul dinilai berlebihan. Sebab, Kepolisian mengambil langkah di luar prosedur baku dengan menembakkan gas air mata ke arah penonton. Sepatutnya langkah tersebut tidak musti dilakukan di dalam stadion dengan jumlah puluhan ribu orang tersebut, karena efek gas air mata sangat beresiko menyebabkan gaguan pada pernafasan manusia.

Samsul melanjutkan jika Kapolri harus melakukan evaluasi kinerja terhadap Kepolisian Daerah Jawa Timur. Pasalnya, kemungkinan aparat dilapangan melakukan penanganan keamanan masa tanpa instruksi dari pimpinan mustahil terjadi. Menurutnya, perlu dilakukan investigasi secara mendalam apakah penembakan gas air mata kepada penonton itu murni inisiatif aparat dilapangan, atau terdapat instruksi dari atasan.

Jika dalam investigasi yang dilakukan jajaran Polri terdapat temuan adanya instruksi penembakan gas air mata, maka sudah sepatutnya Kapolda Jawa Timur perlu dipecat dari jabatannya. “Jika kita lihat, penyebab jatuhnya korban jiwa ini kemungkinan berasal dari gas air mata yang disemprotkan pihak kepolisian. Jangankan di stadion yang penuh sesak penonton, dalam area terbuka saja efek gas air mata itu membahayakan, apalagi di dalam stadion. Maka kita DPP IMM mendesak Kapolri beserta jajaran melakukan investigasi penembakan gas air mata itu murni inisiatif aparat dilapangan atau berasal dari instruksi pimpinannya. Kalau terbukti instruksi, maka kita minta Kapolri pecat saja Kapolda Jatim saat ini dari jabatannya”, tegas Samsul.

DPP IMM berbela sungkawa atas Tragedi Kanjuruhan.

Samsul Arifin mewakili Ketua Umum DPP IMM Abdul Musawir Yahya dalam keterangan persnya pada, selasa (2/10/2022) mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap korban Tragedi Kanjuruhan tadi malam. DPP IMM meminta kepada seluruh stake holder persepakbolaan Indonesia termasuk supporter dikemudian hari tidak melakukan aksi anarkis kembali seperti kejadian di Stadion Kanjuruhan tersebut. Fanatisme buta yang terjadi di Indonesia harus segera dihentikan dan pemerintah perlu lakukan edukasi tersendiri terhadap seluruh supporter sepakbola di Indonesia untuk tidak anarkis mendukung klub kesayangannya.

Sebelumnya, Tragedi Kanjuruhan ini merupakan tragedi sepakbola terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dengan korban jiwa yang mencapai angka 131 orang, dan menjadi tragedi terbesar kedua di dunia setelah tragedi Estadio Nasional Lima di Peru dengan jumlah korban 328 jiwa meninggal dunia pada tahun 1964 silam. Samsul mengakhiri statementnya dengan pesan kepada supporter Indonesia untuk tidak perlu berbuat anarkis akibat kekalahan tim yang didukung, karena akan berujung pada tragedi kemanusiaan terbesar kedua di dunia seperti di Stadion Kanjuruhan ini. Menurutnya, untuk apa mendukung tim kesayangan dengan aksi anarkis yang pada akhirnya ratusan orang tak berdosa akibat fanatisme buta ini menjadi korbannya.(***).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY