|Minggu, Juni 25, 2017
Home » Ekonomi » Investor Cina Akan Bangun Kilang Pengolahan Minyak Mentah di Kaltara

Investor Cina Akan Bangun Kilang Pengolahan Minyak Mentah di Kaltara 

tiny_20170606080418
Bagikan

Kabarone.com, Kaltara – Setelah sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) dengan Hyundai  Engineering and Construction, terkait investasi pembangunan PLTA di Kalimantan Utara (Kaltara), Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie, Senin (5/6) kemarin kembali melakukan hal sama. Kali ini MoU untuk pembangunan mini oil refinery atau pabrik/kilang pengolahan minyak mentah di Kaltara, yang akan dilakukan oleh investor asal China, Honghua Group.

Dalam kesempatan itu, gubernur mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara akan mendukung maksimal kepada investor yang serius menanamkan modalnya di provinsi termuda di Indonesia ini. Bentuk dukungan itu, di antaranya penyiapan lahan investasi serta kemudahan layanan perizinan sesuai dengan kewenangan yang ada.

“Terhadap semua MoU yang sudah ditandatangani, sangat diharapkan dapat segera direalisasikan dalam bentuk kegiatan yang nyata,” kata Irianto di sela penandatanganan MoU antara Gubernur Kaltara atas nama Pemprov Kaltara dengan Honghua Group melalui Chairman and CEO Honghua Group Zhang Cong di ruang pertemuan lantai 10 Menara Jamsostek, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (5/6).

Terkait MoU ini sendiri, dijelaskan Gubernur secara teknis melibatkan tiga pihak. Selain Pemprov Kaltara dan Honghua Group, juga berperan dalam rencana kerja sama ini adalah PT Indidaya Kindo Energi. “Untuk itu, dalam setiap penandatanganan MoU, selalu disertakan setiap staf yang dapat dihubungi oleh pihak terkait (investor). Seperti, Asisten II, kepala DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu), kepala Biro Pembangunan, kepala Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Ini untuk mendorong percepatan realisasi investasi itu,” paparnya.

Dijelaskan Irianto, Honghua Group adalah investor yang akan menggali potensi sumber daya energi di Kaltara. Khususnya, minyak mentah atau crude oil dengan teknik eksploitasi lepas pantai atau offshore. “Pemprov sangat menyambut baik niatan investasi yang datang. Terlebih bila datang dari investor minyak dan gas (Migas). Apalagi, kini Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan kebijakan kemudahan berinvestasi di Indonesia. Ini kita tindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang ada,” ujar Irianto.

Soal kemudahan perizinan, Gubernur menegaskan bahwa apabila seluruh prosedur dan administrasi persyaratan sudah dipenuhi investor, baik pada tingkat Pemerintah Pusat melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk Penanaman Modal Asing (PMA) hingga Pemprov melalui DPMPTSP, maka dalam waktu tak terlalu lama perizinan investasi dapat ditandatangani dan diterbitkan. “Untuk registrasi perizinan, Kaltara sudah memiliki pelayanan perizinan online. Ini memangkas persoalan administrasi dan birokrasi perizinan. Dan, apabila seluruh kebutuhan perizinan dilengkapi, paling cepat seminggu izin investasi sudah dapat dikeluarkan,” urai Gubernur.

Sementara itu, dijelaskan oleh Xiang Yi, Engineering Departement Manager Shanghai Honghua Offshore, Honghua Group bahwa MoU yang ditandatangani pihaknya dengan Pemprov Kaltara merupakan awal rencana investasi Honghua Group untuk membangun kilang penyulingan minyak mentah mini atau Mini Oil Refinery di kawasan lepas pantai (Offshore) Kaltara. “Direncanakan kapasitas kilangnya sekitar 20 ribu BOPD (Barrel Oil per Day),” kata Xiang.

Bila terealisasi, minyak mentah yang telah dikonversi menjadi minyak diesel, Marine Fuel Oil (MFO) dan lainnya itu akan dijual kepada Pertamina lewat kerja sama tertentu. “Investasi kami ini diharapkan dapat terealisasi sehingga mampu mensejahterakan masyarakat Kaltara, serta membantu percepatan pembangunan di Kaltara,” ungkap Xiang.

Menegaskan komitmennya berinvestasi, Xiang mewakili Honghua Group akan melakukan site visit ke rencana lokasi pengeboran offshore dimaksud dalam minggu ini. “Sebagai investor, tentunya kami perlu melihat kondisi supply dan demand dari potensi yang akan digarap. Apabila ekonomis dan menguntungkan pihak yang terkait, akan dilanjutkan dari MoU ke realisasi. Namun, kami percaya investasi di Kaltara ini menguntungkan,” tuntasnya.(hms)

Bagikan

Tambah Komentar