Gedung MAN Insan Cendikia Bangka Tengah Molor, Dana Cair 90 Persen

Gedung MAN Insan Cendikia Bangka Tengah Molor, Dana Cair 90 Persen

386 views
0
SHARE

Kabarone.com, Bangka Tengah -Pada Selasa (21/01/2020) sejumlah pekerja masih terus mengerjakan pekerjaan pemasangan pada salah satu gedung dari dua gedung pada Proyek Pembangunan Gedung  dalam Komplek Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia di Desa Sungkap Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Ada 2 gedung yang dibangun yaitu Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu dan Gedung Pusat Layanan Siswa.

Proyek itu dibiayai oleh APBN bersumber hutang Sertifikat Bank Syariah Nasional (SBSN) dengan tengat batas penyelesaian 23 Desember 2019. Nilai pekerjaan Rp 9,7 milyar dengan kontraktor CV. Serintil. 

Walaupun pada 23 Desember 2019 pekerjaan tidak selesai, namun dana proyek telah dicairkan 90 persen. Hal itu dibenarkan oleh Pimpinan Pelaksana Kegiatan (PPK) yaitu R. R Guntur Geni saat ditemui dikantornya (21/01). “Per 23 Desember telah dicairkan dana proyek 90 persen”, katanya. Menurut Guntur walaupun salah satu gedung sesuai batas akhir belum selesai namun gedung lainnya telah selesai. Sehingga setelah dilakukan perhitungan, sebagaimana progres maka dicairkan 90 persen.

Dalam hal keterlambatan, lanjut Guntur, Kontraktor didenda Rp 1 juta lebih perhari. Masa tambahan pekerjaan (adendum) selama 3 bulan, dan tidak ada jaminan pemeliharan. “Bagaimana ada jaminan pemeliharaan, proyeknya juga belum selesai, ” kilah Guntur.

Dan mengenai sisa anggaran 10 persen hingga saat ini belum dicairkan. Dan untuk pembayaran selanjutnya menunggu anggaran baru muncul. “Kalau pekerjaan selesai untuk pembayaran harus menunggu anggaran baru, kalau anggaranya muncul baru kita  bayar, kalau tidak muncul tentu tidak dibayar, ”  katanya.

Sistem itu berupa DIPA Luncuran yaitu sisa anggaran tahun 2019 yang dipakai untuk tahun 2020. Anggaran itu diusulkan ke Pusat menunggu persetujuan. 

Mengenai penyebab keterlambatan karena ada sejumlah kendala dilapangan, seperti ada penimbunan karena posisi tanah rendah. “Keterlambatan karena kendala lapangan. Awalnya kami kira sesuai perencanaan, ternyata tidak. Dilapangan ternyata harus ada penimbunan, pemadatan dan perataan dengan menggunakan tanah cukup banyak. Dan keterlambatan itu masih dianggap wajar, ” katanya. (Suhardi) 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY