|Minggu, Juni 25, 2017
Home » Ekonomi » Limbah Yang Dianggap Sebelah Mata Ini, Disulap Menjadi Barang yang Bernilai

Limbah Yang Dianggap Sebelah Mata Ini, Disulap Menjadi Barang yang Bernilai 

IMG-20161027-WA0049
Bagikan

Kabarone.com, Bojonegoro – Kreatifitas pria ini memang pantas ditiru. Bagaimana tidak, bagi sebagian orang mungkin limbah atau sampah pasti dibuang, tapi tidak dengan Arifin. Ia justru mengubah limbah menjadi aneka miniatur vespa, motor sport, sepeda angin, motor CB, becak bahkan kapal laut yang berukuran besar.

Pria kelahiran Bojonegoro 16 April 1988 silam ini telah lama menekuni pembuatan miniatur aneka kendaraan dari kertas koran bekas. Sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama dirinya memang sudah tertarik dengan aneka kerajinan tangan.

Arifin mengakui bahwa dia belajar membuat aneka miniatur ini secara otodidak, dari melihat kertas koran yang tak termanfaatkan dirinya tergerak membuat aneka kerajinan. Sebenarnya dirinya sudah lima tahun yang lalu bisa membuat aneka miniatur, namun hanya satu atau dua yang memesan. Itupun belum tentu setiap waktu ada yang memesan. Akhirnya bapak satu putri ini berhenti dan memilih membuat aneka kerajinan dari bambu seperti sangkar burung atau lampu dari bambu. Sepinya permintaan membuat dirinya tak meneruskan usaha membuat sangkar.

Tiga bulan lalu dirinya memulai lagi menekuni membuat miniatur aneka kendaraan dari limbah koran ini. Inipun diakuinya berkat dorongan dari salah seorang teman yang mengajaknya untuk mengenalkan produknya melalui media sosial. Arifin menuturkan beberapa waktu lalu Mirota sempat memesan miniatur namun kemasan menjadi salah satu kendalanya.

“Mereka menginginkan agar dikemas dalam mika atau akrilik,” ungkapnya.

Saat ini dirinya tengah memenuhi permintaan salah satu media belanja on line berskala nasional yang memesan 25 miniatur motor CB dan Vespa. Arifin menuturkan kerajinan tangan yang dibuatnya ini dibandrol dengan harga relatif terjangkau mulai 25 ribu rupiah sampai 300 ribu rupiah tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Yang menarik dari kerajinan ini adalaah setiap miniatur dikerjakan dengan begitu detail dan bisa dikatakan limited edition karena setiap miniatur meski secara umum hampir sama namun berbeda disetiap detailnya.

Arifin menuturkan dirinya mengharapkan adanya pihak-pihak yang mau membantu usahanya mulai dari pemasaran ataupun membantu memberi pelatihan sehingga produknya makin meningkat kualitasnya. Peralatan yang digunakan memang sederhana hanya gunting, lem, lidi dan koran bekas. Namun dalam pekerjaannya membutuhkan konsentrasi dan ketelitian apalagi yang dibuat adalah miniatur.

Arifin dalam membuat setiap kerajinan ini mengaku mengalir begitu saja tanpa harus melihat referensi atau melihat gambar.

“Pokoknya mengalir dibayangkan di kepala sembari tangan membentuk,” tuturnya ketika ditemui di rumahnya di Desa Payaman Rt 12 kecamatan Ngraho oleh Humas, Kamis (27/10).

Dirumah kayu bercat kuning hijau inilah dia menggantungkan hidup dengan akan terus membuat aneka produk dari limbah koran ini. Kedepan dia bermimpi akan mengajak pemuda dan anak anak sekolah belajar membuat kerajinan ini.

“Menjadikan anak anak usia sekolah untuk bergabung adalah harapan sekaligus mimpi sehingga tidak ada anak yang hanya lulus bangku SMP seperti saya,” harapnya.

Meski sekolah namun tetap bisa menghasilkan sehingga bisa ditabung dan kelak akan membantu biaya pendidikan mereka. Harapan terbesarnya adalah usahanya ini makin dikenal dan makin banyak pesanan sehingga akan meningkatkan ekonomi warga payaman. ( DAN )

Bagikan

Tambah Komentar