|Jumat, Oktober 20, 2017
Home » Lipsus » Mantan Kombatan dan Napi Terorisme Ucap Sumpah Setia NKRI Dalam Menciptakan Perdamaian Dunia

Mantan Kombatan dan Napi Terorisme Ucap Sumpah Setia NKRI Dalam Menciptakan Perdamaian Dunia 

IMG-20170722-WA0003 (1)
Bagikan

Kabarone.com, Lamongan – Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian yang juga mantan kombatan Ali Fauzi memandu belasan rekan – rekannya para mantan kombatan dan napi terorime (napter) mengucap sumpah setia pada Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), Jum’at (21/7/2017).

Ikrar setia pada NKRI itu dibacakan saat Dialog Kebangsaanan pada Peresmian tempat Ibadah di Komplek Masjid “Baitul Muttaqien” Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan Jawa Timur.
Diantara mantan teroris yang hadir adalah KH. Ghozali, mantan komandan perampokan Bank CIMB, Rambo yang dua kali masuk penjara karena menembak polisi, Yudi mahasiswa IPDN dan Sofyan penembak polisi yang oleh Ali Fauzi di sebut sebagai anggota polisi murtad.

“Ini adalah sebuah upaya perubahan sikap dan perilaku (mindset). Dulu berlawanan dengan polisi sekarang berkawan. Dulu ingin runtuhkan NKRI, sekarang ingin bangun NKRI bersama sama.

Narasi ikrar setia itu berbunyi :
“Bersama – sama mencegah terorisme, Kami cinta Indonesia, Merawat ukhuwah, Merajut perdamaian, Hidup Indonesia”.

Dalam kesempatan ini Ali Fauzi mengungkapkan, Yayasan Lingkar Perdamaian, didirikan mantan napi terorisme (napiter) dan mantan kombatan berawal dari keprihatinan, napiter yang keluar penjara, masih melakukan tindakan teror lagi.

Rupanya, menurut dia, mereka begitu karena ketika keluar penjara, masih bergabung dengan komunitas lama. Yayasan ini menjadi bagian dari alternatif pembinaan napiter. Tidak mudah mengubah sikap dan perulaku (mindset) dan ideologi kekerasan (radikalisme) tapi sekarang kami cinta dan setia pada NKRI, “ungkap Ali Fauzi.

Ia menambahkan, “Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, tidak ada orang jahat yg tidak punya masa depan. Setiap orang punya dan memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi baik, bagaimanapun masa lalunya, bagaimanapun jahatnya dia, berilah mereka kesempatan untuk berubah, “tambahnya.

Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen. Pol Suhardi Alius menyebut program kegiatan di Tenggulun ini bagian dari upaya untuk menguraikan masalah, kenapa ada masyarakat yang menjadi radikal (kekerasan),” jelas Kepala BNPT.

“Pada giliran Deputi 1 Abdul Rahman himbauan, saya titip agar bergabung di sini (Tenggulun) dan nantinya segera berikan program-program oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati Lamongan, disampaikan olehnya kepada Bupati Fadeli “tolong setiap minggu agar ada dari Dinas Pendidikan untuk hadir di sini, untuk memberikan materi kebangsan,” himbau Deputi 1.

Pada kesempatan yang sama dikatakan oleh Wantimpres Mayjen. Pol. (Purn) Sidarto Danusubroto yang juga hadir di Tenggulun berharap, “Masjid Baitul Muttaqien” benar-benar lahirkan bibit Islam yang damai. Yang dilakukan BNPT dengan soft power approach ini menarik dan sangat menjadi perhatian semua pihak lebih – lebih sangat di apresiasi dunia. Pembangunan seperti ini, amal jariyah, agar juga dilakukan di tempat-tempat lain, “ pesan Mayjen. Pol (Purn) Sidarto Danusubroto.

Inisiasi BNPT itu juga mendapat perhatian dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi. Dalam kunjungan pertamanya ke Lamongan itu, dia menguraikan bagaimana harapannya agar program perdamaian seperti di Tenggulun itu bisa sukses.

“Satu kata utama yang sering dipakai dalam perjuangan politik luar negeri Indonesia adala “PERDAMAIAN”.
Dunia internasional Sangat menghargai peran Indonesia dalam perdamaian dunia,” jelasnya.

Dia kemudian menceritakan komunikasinya dengan Menlu Jordania dua malam lalu. Mereka berdua, sama-sama mengkhawatirkan situasi keamanan di kompleks Masjid Al Aqsa Palestina.

“Saya tentunya mengecam pembatasan akses umat Islam beribadah di Masjid Al Aqsa. Saya juga menyampaikan pentingnya, segera dikembalikan keamanan di kompleks Masjid Al Aqsa. Pesan yg sama saya sampaikan ke sekjen OKI. Karena isu palestina ada di jantung politik luar negeri indonesia, “ lanjut dia.

Menurut Menlu, perdamaian sesuatu yg harus selalu dirajut, diopeni (diperhatikan). Dia mengatakan, dunia mengagumi Indonesia karena wajah damai dan toleransinya.

“Sejarah dunia jika kita lihat, masjid bukan hanya tempat ibadah tetapi tumbuhnya ilmu pengetahuan, ini sebagai peran masjid untuk perdamaian dunia. Mari jadikan masjid ini sebagai tempat tumbuhnya pengetahuan dan sebagai upaya menjaga wajah damai indonesia,“ jelas Menlu.

Sedangkan pendiri Ma’arif Institute Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan, ISIS adalah puncak dari arabisme yang salah arah, misguided arbsm. Dan orang-orang yang mengikuti itu, sebut Buya, tidak besa membedakan arabisme dan Islam yang cinta damai.

Dunia Islam di arab, lanjut dia, sekarang berdarah darah, perang saudara, saling membunuh, yang tidak sefaham meski seagama dianggap musuh. Ini kata dia adalah rongsokan peradaban arab yang sedang kalah. Kenapa dibawa bawa kesini padahal agama Islam (Moslim) itu cinta perdamian dan bukan menimbulkan kerusakan bagi umat (orang – orang),“ ujarnya.

Ali fauzi, Ali Imron adalah orang hebat yg kini diarahkan ke arah positif oleh BNPT, untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta. Pendekatan hati oleh Kepala BNPT ini luar biasa. Sehingga yang menerima juga hati, “ imbuh dia.

Bupati Fadeli mengatakan, Lamongan yang juga sebagai lumbung pangannya provinsi Jawa Timur dan nasional, saat ini sedang fokus di bidang pertanian untuk mengingkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lamongan.

Karena menurutnya, salah satu faktor yang menimbulkan radikalisme adalah persoalan ekonomi. “ Karena itu saya ingin terus dorong pertanian untuk tingkatkan kesejahteraan masyarakat, “ kata Bupati Fadeli.

Program yqng dilakukan di Tenggulun sebagaimana disebutkan Direktur Perlindungan BNPT Brigjen. Pol. Herwan Chaidir, yakni meliputi pemindahan 14 makam di kompleks masjid, lokal belajar 4 kelas untuk TPA, pembangunan tempat wudhu wanita dan renovasi wudhu laki-laki, menara masjid, serta pengerasan halaman.

Program itu murni dari bantuan donatur, swadaya, tanpa dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Peletakan batu pertama dilaukan pada 29 maret 2017, 3 bulan kemudian seluruh fasilitas selesai,” pungkasnya (As/pul).

Bagikan

Tambah Komentar