|Selasa, September 26, 2017
Home » Ragam » Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP Pertama Meraih Gelar Doktor Ilmu Sejarah

Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP Pertama Meraih Gelar Doktor Ilmu Sejarah 

IMG_20170811_095824
Bagikan

Kabarone.com, Cirebon – Disertasi Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP berjudul Dinamika Keraton Kaprabonan Cirebon Sejak Masa Kolonial Hingga Masa Republik Indonesia (1696 – 2015) yang disampaikan dalam sidang promosi doktor dengan Ketua Sidang, Yuyu Rohana Risagarniwa, MA, Ph.D, Sekretaris, Dr. Mumuh Muhsin Z, M.Hum, Ketua Tim Promotor , Dr.Nina Herlina Lubis, Anggota Tim Promotor, Dr. Mumuh Muhsin Z, M.Hum dan Dr. Dade Mahzuni, Oponen Ahli, Kanto Sofianto, Ph.D, Dr.R.M.Mulyadi, Dr. Wahyo Nugrahanto dan Guru Besar, Prof. Dr. Tajudin Nur dinyatakan lulus promosi dan berhak menyandang gelar doktor (Dr) didepan namanya.

Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Promosi Doktor Prof. Dr.Nina Herlina Lubis yang bertindak sebagai Ketua Tim Promotor Ir.Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP langsung menyatakan “merdeka” terhadap Sultan Kaprabonan Cirebon yang telah dapat menyelesaikan study Ilmu Budaya di Universitas Pajajaran Bandung (Unpad) tepat waktu dengan mendapat nilai baik dan berhak menambahkan dua huruf didepannya yaitu gelar doktor (Dr) di ruang sidang gedung A (Gedung Dekanat) Fakultas Hukum Budaya Unpad, Jatinangor Jum’at (11/08).

Ketua Tim Promotor , Dr.Nina Herlina Lubis mengatakan sebelumnya belum ada penelitian historis yang komprehensip tentang Keraton Kapraboanan Cirebon hanya disinggung secara fragmentaris dalam penelitian-penelitian yang lebih luas. Sekarang baru Pangeran Hempi Raja Kaprabon yang mampu menulis lebih luas dan tepat waktu. Bukan hanya itu semangat perjuangannya meski dalam kondisi kurang sehat, ia tepat gigih melakukan peneliti hingga ke musium negeri kincir anggin (Belanda).

“Ini doktor sejarah yang ke 14 yang dibidani. Secara pribadi saya merasa senang ada orang keraton yang menuntut ilmu sampai gelar doktor sejarah. Dari kalang darah biru ini Dr. Ir.Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP yang pertama meraih gelar doktor sejarah, langsung Sultannya lagi (Sultan Kaprabonan Cirebon). Artinya Bangsawan Keraton Kaprabonan Cirebon telah memiliki doktor sejarah yang menjadi ahli waris Pangeran Aria Cirebon yang tahun 1720 menulis Cerita Purwarka Caruban Nagari, “ ungkap Ketua Tim Promotor , Dr.Nina Herlina Lubis.

Menurut Ketua Tim Promotor , Dr.Nina Herlina Lubis. Apabila dalam penulisan naskah disertasi yang berjudul Dinamika Keraton Kaprabonan Cirebon Sejak Masa Kolonial Hingga Masa Republik Indonesia (1696 – 2015) dibukanya sejarah “peteng” Cirebon bisa menyinggung pihak lain . Mungkin ada keturunannya yang merasa leluhurnya tidak begitu. “Bila dibuka , ada pihak-pihak tidak setuju, itu sah sah saja. Kalau ada yang tidak setuju, maka jawablah secara ilmiah. Jikalau punya fakta, nara sumber ya di bantah dengan ilmu yang sama dengan kacamata yang sama. Adanya Pro – kontra bisa saja dan dapat memperkaya hasanah. Bongkar saja apa isi yang dimaksud sejarah peteng hingga menjadi sejarah Cirebon terang benderang.

Dijelaskan dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kedudukan Keraton Kaprabonan menunjukkan perbedaan dengan Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Sejak didirikan pada 1696, Kaprabonan tidak memiliki wilayah kekuasaan sehingga penguasaannya tidak dipandang sebagai seorang Sultan sehingga kedudukannya berbeda dengan Sultan Sepuh, Sultan Anom. “ Hal ini disebabkan pada saat Pangeran Raja Adipati Kaprabon keluar dari Keraton Kanoman dan mendirikan Kaprabonan, dirinya tidak menyatakan sebagai sultan, melainkan sebagai seorang yang akan mendalami ilmu agama Islam, khususnya tarekat, “ tuturnya.

Sementara Dr. Ir.Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP memaparkan Pangeran Raja Adipati Kaprabon memiliki cita-cita untuk mengembangkan agama Islam sesuai perjuangan para waliyullah terdahulu, terutama karuhunnya Sunan Gunung Jati. Tetapi para famili dan masyarakat mengakuinya dan menganggapnya dia sebagai Sultan, karena tahu dia sudah diangkat putera mahkota oleh ayahanda Sultan Kanoman Pangeran Raja Mohammad Badrudin. Kemudian dia dikenal dengan nama Sultan Pandita Agama Tarekat Islam. Dia mengambil keputusan untuk menjauhkan diri dari situasi politik yang semakin memanas di lingkungan Keraton Kanoman akibat ketidak mampuan pihak keraton mengatasi campur tangan VOC yang semakin mendalam.

Konsekuensi dari kedudukannya sebagai paguron menjadikan Kaprabonan tidak memiliki pengaruh politik sekuat Kasepuhan, Kanoman. Oleh karena itu, Pemerintah Hindia Belanda tidak terlalu mengkhawatirkan keberadaan Kaprabonan dibandingkan dengan kedua keraton lainnya. Dampaknya, kehidupan di kalangan Kaprabonan terbilang lebih tenang dibandingkan dengan keraton lainnya yang acapkali dilanda konflik suksesi kepemimpinan. Sejauh ini, suksesi kepemimpinan di Kaprabonan relatif lebih dinamis dibandingan dengan dua keraton lainnya, tandas Sultan Kaprabonan Cirebon, Dr. Ir.Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP kepada media ini usai sidang Jum’at kemarin.

Riak konflik baru muncul ketika menyatakan bahwa status Kaprabonan bukan hanya sebagai paguron yang mengembangkan ajaran Tarekat Satariyah, melainkan juga berkedudukan sebagai salah satu keraton, sejajar dengan Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Pernyataan itu didasarkan pada dukungan dari ribuan masyarakat / rakyat dan para famili keraton Cirebon dengan surat tertanggal 10-7-1946 dan 22-10-1946 yang menyatakan Pangeran Aroeman Raja Kaprabonan sebagai Sultan Kaprabonan dan Surat Residen/Pembantu Gubernur Wilayah III Cirebon Nomor 1286/Pem.Um.28/1976 yang menyetakan Pangeran Herman Raja Kaprabon sebagai Sultan Kaprabonan sejak 14 September 1976, tegas Dr. Ir.Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP.

Menurut Sultan Kaprabonan Cirebon, Dr. Ir.Pangeran Hempi Raja Kaprabon, MP bahwa kedudukannya sebagai sultan, menjadikan Kaprabonan sebagai salah satu keraton di Cirebon yang diakui oleh pemerintah. Hal tersebut diperlihatkan dengan diterbitkannya sertifikat Kawasan Berbudaya Hak Kekayaan Intelektual dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada 2012. Namun demikian, kedudukannya tidak memiliki kekuasaan di bidang politik, melainkan sebagai salah satu pemangku adat/budaya di Cirebon.

Saat ini, Kaprabonan lebih menunjukkan jati diri sebagai penjaga pelestari budaya Cirebon dan aktiivitas sebagai pusat pengembangan Tarekat Satariyah berjalan terus seperti biasa tetapi minat dan dukungan masyarakat untuk belajar ilmu Tarekat agak mengendur, hal ini karena perkembangan sosial masyarakat dan perubahan zaman, pungkasnya. (Mulbae)

Bagikan

Tambah Komentar