Focus Group Discussion BNN di Ponpes Hidayatullah Disambut Antusias

Nasional923 views

Kabarone.com, Jakarta – BNN dengan Pondok Pesantren bertekad untuk perang terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, terutama di lingkungan Pesantren. Agar lingkungan Ponpes terbebas dari narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya, maka BNN giat mengadakan sosialisasi dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) di Lingkungan Ponpes. Kali ini bertempat di Ponpes Hidayatullah, Cipinang Cempedak I No. 11 Jakarta Timur, Kamis, (8/10).

Seperti diketahui tingkat pemakaian narkoba di Indonesia sangat tinggi dan menelan biaya yang sangat besar. Berdasarkan data kuantitatif BNN menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir antara 2010 hingga September 2014, kasus di Indonesia mencapai level 145.906, dengan kenaikan rata-rata pertahun mencapai 0,64% . Dimana asumsi angka prevalensi pengguna narkotika pada Tahun 2015 mencapai 5,1 juta orang (2,8%).

Acara FGD itu pun disambut antusias dan dihadiri sebanyak 30 orang dari beberapa Ponpes diantaranya Ponpes Hidayatullah, Ponpes Ulul Ilmi, Ponpes Tahfidz, Ponpes Al Aksur dan Pos DAI, dipandu Moderator oleh Agus Yulianto Danardono, SE. Bertindak sebagai nara sumber yang memberikan pencerahan yakni Dr. Nanang Fatchurochman, M.Pd dan Pimpinan Ponpes Hidayatullah, Ustad Mahmud Efendi.

Dalam pencerahannya Ustad Mahmud Efendi mengatakan, “Kami sangat prihatin dengan maraknya kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia terlebih banyak generasi muda kita yang terlibat,” katanya.

“Generasi muda banyak yang belum mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkoba, oleh karena itu kami sangat mendukung kegiatan BNN ini agar kami selaku pendidik dapat meneruskan informasi ini kepada anak didik kita. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat berlanjut pada kesempatan berikutnya terkait dengan keikutsertaan Pondok Pesantren dalam upaya P4GN,” sambungnya.

Kemudian Narasumber dari BNN yakni Dr. Nanang Fatchurochman, M.PD, dalam kesempatan itu memberikan pemahaman tentang faktor yang dapat memperngaruhi perilaku anak didik. “Ada dua faktor  yang dapat memperngaruhi perilaku anak didik yakni faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal di antaranya adalah kemajuan teknologi seperti internet dan smartphone banyak digunakan untuk hal–hal negatif baik itu hura–hura, pornografi, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba,” paparnya.

Menurutnya, Era modernisasi melemahkan institusi keluarga dalam pembinaan karakter anak, terutama karena berkurangnya peran langsung orang tua terhadap pembinaan akhlak mulia bagi anaknya. Faktor eksternal yang lain adalah meluasnya jaringan narkoba Internasional di indonesia, membawa serta meningkatnya pemakai narkoba bagi kalangan remaja usia sekolah.

“Peran media juga sangat bepengaruh, diharapkan media dapat menjadi tuntunan yang baik tidak hanya sekedar tontonan saja dan harus ada filtering berita yang akan ditayangkan,” tegasnya.

Nanang melanjutkan, adapun faktor internal yang memperngaruhi adalah kurang optimalnya hasil pendidikan agama di sekolah dan cukup banyaknya para siswa yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. “Rendahnya aktifitas Organisasi Profesi Pendidik dan tenaga kependidikan yang dapat mendukung mutu pendidikan agama juga berpengaruh dalam pembentukan akhlak anak didik,” pungkasnya.

Acara FGD diakhiri dengan sesi tanya jawab seputar narkoba dan lainnya, dan setelah sesi tanya jawab dilanjutkan dengan ramah tamah dan foto bareng Narasumber dan seluruh Peserta FGD. (Dn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *