Prosesi Panjang Jimat di 4 Keraton Cirebon Menjadi Wisata Budaya

Wisata3,868 views

Kabarone.com, Cirebon – Ribuan wisatawan baik dari pelosok desa dan luar negeri setiap tahun datangi empat keraton di Cirebon untuk menyaksikan tradisi unik memperingati maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Keraton Kaprabonan, Kanoman, Kacirebonan dan Keraton Kasepuhan yang oleh masyarakat setempat disebut Panjang Jimat.

Banyak pengunjung datang lebih awal bahkan adapula menginap di masing-masing keraton karena ingin menyaksikan posesi Panjang Jimat yang digelar pada malam Pelal yang merupakan detik-detik peringatan menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelar di empat keraton secara serentak Kamis malam kemarin.

20151224-00995Panjang Jimat

Salah satunya Keraton Kaprabonan Cirebon menggelar prosesi panjang jimat. Acara Maulid Panjang Jimat, yang diawali dengan menyantuni anak yatim piatu dan tanggal 19 Desember Jam 10:00 acara Cuci Pusaka. Kemudian tangggal 24 Desember Jam 19:00 acara Panjang Jimat (malam pelal), Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. P.Hempi Raja Kaprabon, MP seusai acara Kamis kemarin.

Menurutnya tradisi adalah cara melalui sikap, sifat adat luhur yang secara turun temurun menjadi sebuah budaya. “Budaya adiluhung yang esensinya saling menghormati, membantu, menjaga kelestariannya untuk kemudian dilanggengkan sebagai warisan dari para leluhur.” ungkap Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. P.Hempi Raja Kaprabon, MP.

Budaya yang penuh dengan cipta rasa tinggi tersebut lanjut Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. P.Hempi Raja Kaprabon, MP, akan mengakar & dijalankan pengikutnya jika terus dalam tatanan kehidupan keseharian, yang pada saatnya akan mengakar & mendarah daging pada pengertian serta pemahaman pelestarian budaya secara esensial.

20151224-01014 Kita Barzanji

Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. P.Hempi Raja Kaprabon, MP menjelaskan salah satu warisan leluhur kita di Cirebon, khususnya Keraton Kaprabonan Cirebon, adalah tradisi muludan atau panjang jimat yang didalamnya terkandung unsur religius sekaligus pelestarian budaya yang telah dijalankan selama berabad-abad.

Kondisi kehidupan bermasyarakat yang “sakit” serta adanya krisis autoritas bidaya baik dari dalam maupun luar, sudah saatnya dikembalikan kepada nilai luhur tadi oleh semua pihak. Sehingga momen tahunan ini tidak sekadar ritual belaka, melainkan poses menuju esensi sebuah tradisi yakni melestarikan budaya leluhur nenek moyang, tegasnya

“Tradisi leluhur sangat penting dilestarikan. Sebab didalam tradisi mengandung ajaran atau pendidikan etika & moral. Mengingat pembangunan disegala bidang tentunya harus mengedepankan etika & moral,” pungkasnya.

Sementara Humas Keraton Kaprabonan Cirebon, Pangeran Haerudin Kaprabon menyatakan dalam ritual tradisi panjang jimat yang diperingati pada setiap bulan Mulud merupakan alkulturasi budaya Jawa & Islam.

Merupakan jejak para wali saat berdakwah syi’ar agama Islam melalui budaya. Sedang Panjang Jimat itu sendiri mempunyai makna yang sangat dalam & sarat nilai-nilai Islam. Panjang Jimat bagian dari tuntunan hidup manusia agar terus mengingat Sang Maha Kuasa artinya sepanjang hidup manusia jangan sampai melupakan dua kalimat syahadat sebagai pegangan selama hidupnya, katanya.

Adapun kirab Panjang Jimat kali ini terdiri dari Pengageng membawa Kyai Jagasatrtu yang diikuti benda pusaka lainnya mengeliling kebon pesisir. Kemudian melatunkan do’a bersama membaca ayat Suci Al Qur’an serta kitab Berjanji.

Setelah berdo’a bersama masyarakat berebut nasi rosul (nasi tumpeng) & buah2an. ” Alhamdulillah berhasil mendapatkan dua buah apel & mencicip nasi rosul. Sedang buah apel merupakan pesanan istrinya,” kata Ust.H.Edi Muklas.

Menurutnya nasi kuning tumpeng yang disebut nasi rosul karena sebelumnya dido’akan pada peringatan muludan malam pelal (Panjang Jimat). “Masyarakat berebut nasi rosul karena dinyakini mengandung do’a dalam mencari keberkahan,” ungkap Ust.H.Edi Muklas kepada media ini di Keraton Kaprabonan.

Keraton Kanoman
Di Keraton Kanoman, prosesi panjang jimat dimulai sekitar pukul 09.00 ditandai bunyi lonceng sembilan kali. Tradisi muludan dipimpin Sultan Raja ke-XII Sultan Mohammad Emirudin. Ribuan warga sejak sore hari sudah menunggu di sekitar alun-alun dan bagian dalam keraton.

Ritual diawali pihak kesultanan melakukan pemeriksaan mulai dari Kaputren hingga Jinem. Pepakem yang masih dipegang teguh adalah ketika Pangeran Patih Mohammad Qodiran mengenakan jubah emas sampai selesai acara panjang jimat, tidak diperkenankan berbicara sepatah kata pun. Namun di dalam hatinya, harus terus menerus bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Arak-arakan panjang jimat ini dimulai dari langgar keraton melewati Blandongan / halaman depan Pendopo Jinem, dimana pangeran patih sudah menempati kursi yang disediakan. Sedangkan Sultan Raja Mohaammad Emirudin, hanya melepas keberangkatan arak-arakan ini didampingi tamu undangan.

Urutan arak-arakan ini diawali bentangan bendera Macan Ali, yang merupakan bendera kebesaran kerajaan Islam Cirebon, diikuti prajurit bandrang keraton yang membawa tombak, sebagai pengawal famili. Dususul abdi dalem yang membawa piring-piring panjang dan wadah buah-buahan, serta beragam pusaka.

Arak-arakan melewati pintu gapura Siblawong yang tinggi besar dan pintunya hanya dibuka setahun sekali, pada acara panjang jimat. Arak-arakan berakhir di masjid agung keraton Kanoman, untuk melakukan acara zikir, sholawatan dan berdoa bersama.

Selesai acara ini, nasi jimat yang menjadi pelengkap dan simbol keagungan akan dipindahkan oleh para famili dari wadahnya masing-masing ke piring-piring panjang. Nasi jimat, lauk pauk dan buah-buahan dibagikan untuk keluarga sultan, sesepuh, family, magersari, abdi dalem dan sebagian masyarakat.

Prosesi panjang jimat merupakan pesan simbolik, yang diciptakan oleh dewan Wali Songo, sebagai sarana syiar Islam. “Panjang jimat mengandung makna manusia diajak untuk mencari dan melewati pintu keselamatan, disimbolkan oleh pintu besar Siblawong yang dalam dunia pewayangan dikenal sebagai salah satu pintu keselamatan,” kata Juru Bicara Keraton Kanoman Ratu Raja Arimbi Nurtina.

Keraton Kacirebonan
Juga di Keraton Kacirebonan menggelar tradisi Panjang Jimat dengan mengarak tujuh piring kuno berisikan makanan & keratin tersebut menuju Langgar Alit Keraton Kacirebonan yang dibawa oleh kaum sentana, kemantren, kerabat keraton & warga.

Sultan Kacirebonan Cirebon, Abdul Gani Natadiningrat mengatakan ketujuh piring itu merupakan lambang jumlah hari dalam satu minggu yang berisi berbagai makanan diatasnya bertujuan agar setiap harinya masyarakat mendapatkan berkah berupa tidak kekurangan suatu apa pun seperti makanan.

“Ketujuh piring kuno tersebut merupakan simbol syahadat tauhid, syahadat rosul, habblumminallah, habbluminanas, imam, Islam & ikhsan,” ungkapnya.

Keraton Kasepuhan
Sementara itu, di Keraton Kasepuhan Cirebon, prosesi panjang jimat sebagai puncak muludan (pelal), Kamis (24/12) berlangsung khidmat. Sebelum acara dimulai, ribuan orang dari berbagai daerah telah memenuhi Keraton Kasepuhan. Mereka rela berdesakan untuk melihat dari dekat upacara panjang jimat berlangsung.

Upacara diawali dengan arak-arakan abdi dalem yang membawa nasi jimat dan berbagai benda yang melambangkan kelahiran seorang manusia ke dunia.

Benda-benda tersebut antara lain lilin sebagai lambang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada juga manggaran, jantungan, dan nadan yang melambangkan keagungan atau kebesaran Selain itu, abdi dalem juga membawa air mawar, air serbat dan kembang goyang yang merupakan lambang sebelum bayi dilahirkan.

Arak-arakan diawali dari Bangsal Prabayaksa menuju mushola atau Langgar Agung. Setelah rombongan tiba di Langgar Agung dilanjutkan dengan shalawat nabi dan pembacaan Kitab Barzanji hingga selesai.

Sultan Kasepuhan XIV Cirebon, Pangeran Raja Arief Natadiningrat, SE mengatakan rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini cukup panjang. Terhitung sejak 15 Safar atau 18 Desember yang dimulai pembuatan bekasem ikan yang dimasukan ke guci. Kemudian ikan itu dimasak didapur untuk kelengkapan nasi jimat atau dikenal nasi rosul, terangnya.

Dalam acara Panjang Jimat ada tujuh piring besar yang usianya sekira 700 tahunan. Piring kuno pada jamannya digunakan Wali Sanga di Cirebon & sebenara jumlah piring ada sembilan akan tetapi yang dikeluarka pada ritual panjang jimat hanya 7 piring, paparnya.

Kemudian ke tujuh piring dibawa ke Langgar Agung depan Keraton Kasepuhan & akan dibacakan kitab Barzanji tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, bersholawat & do’a, katanya

Selesai do’a bersama, makanan dibagikan kepada masyarakat dan abdi dalem. ” Tradisi Sunan Gunung Jati dalam syi’ar Islam salah satunya mengajak masyarakat berkumpul untuk mendengarkan bacaan Kitab Barzanji,” jelasnya.

Kemudian saat itulah masyarakat atas kesadarannya ikhlas masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. “Itulah syi’ar Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati di Cirebon & banyak cara dalam penyebaran Islam diantaranya melalui kesenian & budaya termasuk tradisi muludan ini,l pungkasnya. (Mulbae)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Pada Jumat malam kemarin, tiga keraton di Cirebon secara serentak menggelar upacara panjang Jimat. Upacara dihadiri ribuan masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka, sengaja datang ke tiga keraton hanya untuk menyaksikan proses upacara.