Wilayah “Mangkok” RW.04, Tugu Selatan, Jakarta Utara Harapkan Pompanisasi Secepatnya

Kabarone.com, Jakarta – Peran dan fungsi Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) sebagai pengayom, ujung tombak aspirasi masyarakat dan penyambung lidah seluruh program Pemda DKI Jakarta kepada warga masyarakat, dirasa sangat penting dan efektif sesuai dengan Pergub 168 tahun 2014.
Nuansa penolakan atas penerbitan Surat Keputusan Gubernur 903 tahun 2016 pengganti Pergub 168 tahun 2014 tentang pemberian uang operasional RT dan RW dengan menggunakan posting aplikasi qlue melalui Jakarta Smart City, dirasakan oleh banyak pengurus RT/RW sangat tidak tepat dan terkesan membebani.
Hal ini pun disampaikan oleh Wawang Sampurna alias Awang salah seorang ketua RW.04, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, saat ditemui dikediamannya, baru-baru ini.
“Keberadaan dan kapasitas tugas dan fungsi pengurus RW khususnya dalam membina dan meningkatkan peran aktif masyarakat tidaklah mudah dan bersifat sosial. Diperlukan itikad mulia, keseriusan dan kesabaran dalam pelaksanaannya. Berbagai ragam persoalan dan dinamika interaksi warga menjadi suatu tantangan dalam keberhasilan menciptakan wilayah yang kondusif, dinamis dan sejahtera.
Setelah berdiskusi dengan para pengurus RT dan RW, saya mewakili pengurus RW.04 menolak SK Gub 903 tahun 2016 tentang aplikasi qlue. Menurut kami, justru ini menimbulkan friksi yang kurang nyaman bagi para pengurus RT maupun RW yang notabene dipilih langsung oleh warga masyarakat. Kami pengurus RT dan RW bukan pengguna anggaran, sejak dulu, RT dan RW bekerja secara sosial. Jangan ada kesan RT atau RW untung berapa, justru kami banyak tekor, namun demi kebersamaan dan lingkungan kami peduli,” ungkap Awang, sosok pria yang dikenal ramah, cerdas dan agamis ini.
Masih menurutnya, keberadaan tim PPSU justru membuat warga masyarakat jadi manja, mengandalkan petugas PPSU untuk membersihkan lingkungan. Ada sampah, cuma difoto saja tapi tidak dibersihkan. Sebelumnya warga justru dengan inisiatif dan kebersamaan bahu-membahu membersihkan lingkungan. Jika terus-menerus begini jadi tidak kondusif wilayah dan masyarakatnya, katanya.
Terkait dengan kondisi lingkungan baik sara-prasarana jalan, Awang menjelaskan bahwa ada sekitar 2.000 jiwa tinggal di wilayah RW.04 dan menyebar di 9 RT. Wilayah RW.04 merupakan wilayah “mangkok” alias “rendah kultur tanahnya secara demografi”, sehingga hal ini menjadikannya sebagai daerah langganan banjir. Pihak RT dan RW sudah seringkali berkoordinasi dengan pihak Lurah dan Camat, namun hingga saat ini belum ada solusi.
“Kami para pengurus RT dan RW meminta agar Pemda DKI Jakarta, mengadakan “Pompanisasi” untuk memompa air banjir keluar dengan menggunakan 2 unit pompa yang akan ditempatkan di pinggir kantor Depnakertrans,” tutur Awang, yang telah 5 tahun dipercaya masyarakat sebagai ketua RW.04.
Disamping itu, Ia mengharapkan Dekernisasi, yakni pembuatan deker saluran air dengan panjang 6 meter dan kedalaman 50 cm disepanjang Jalan Balai Rakyat Dalam, RT.01/04 Tugu Selatan, termasuk pengaspalan jalan lingkungan yang rusak parah, sehingga diharapkan dapat mengantisipasi banjir.
“Alhamdulillah, selama ini warga kompak dan peduli terhadap lingkungan. Kami bekerja gotong-royong secara swadaya dan ikhlas demi kebersamaan. Saya selaku pelayan masyarakat siap membantu demi kemasyalahatan,” tegasnya.
Selaku Ketua RW.04, Wawang Sampurna atau yang akrab dipanggil Awang menghimbau dan mengajak seluruh warganya agar tetap peduli terhadap lingkungan. “Tolong jaga kebersihan lingkungan karena kita hidup di zona tidak aman, hidup di tanah Pemda, mohon sumbangsihnya,” pungkasnya. (DENY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *