by

Aktivis dan Masyarakat Angkat Bicara, Tolak Pembangunan Pabrik Limbah B3

-Daerah, Regional-1,117 views

Kabarone.com,Lamongan – Pergerakan rakyat Lamongan soal penolakan pembangunan pabrik Limbah B3 mulai terkritisi sebagai aktivis mahasiswa dan masyarakat Lamongan. Kali ini telah dilaksanakan Diskusi dan Bedah Film Dokumenter ” Lakardowo Mencari Keadilan ” dengan tema diskusi “Lamongan Tolak Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)” bertempat di Monel Coffee Jl. Raya Dagan Desa Banjarwati Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan pada Kamis, (10/10) yang diikuti oleh 60 an orang.

Kegiatan ini di hadiri oleh para narasumber, diantaranya Billy Aries dari Climate Institute Jakarta, M. Yusuf Awaludin, S.H.I, M.A Dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bung Karno Jakarta) bersama Marzuki dari (Aktivis Lingkungan hidup Brondong/Ketua Ranting GP. Ashor Brondong),
Achmad Nhasir Falachuddin Wakil Ketua II PC PMII cabang Lamongan, Prayogo (Sekretaris I PMII cabang Lamongan), Galang (Ketua Pimpinan Rayon (PR) PMII Sapu Jagad Komisariat Institut Sunan Drajat (INSUD), dan Kader PMII dan peserta diskusi.

Untuk rangkaian kegiatannya adalah dimulai dengan pembukaan dan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya dilanjutkan dengan penyampaian Achmad Nhasir Falachuddin (Wakil Ketua II PC PMII Kabupaten Lamongan), ” Bahwa kita berkumpul pada malam hari untuk mendiskusikan terkait Limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) serta dampak yang timbul terhadap lingkungan.

Setelah ini kita akan menyaksikan film dokumenter yang berjudul ” Lakardowo Mencari Keadilan ” yang bercerita tentang keluhan masyarakat terhadap limbah B3 dari PT. PRIA (Putra Restu Ibu Abadi) yang berlokasi di Desa Lakardowo Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Dari pemutaran film tersebut nanti kita akan mengetahui dampak yang timbul akibat Limbah B3 terhadap lingkungan.

Pemutaran film dokumenter ” Lakardowo Mencari Keadilan ” yang bercerita tentang perjuangan masyarakat Desa Lakardowo Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto yang ingin mendapatkan hak untuk lingkungan yang sehat serta dampaknya Limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) terhadap lingkungan dari PT. PRIA (Putra Restu Ibu Abadi) yang berlokasi di Mojokerto tersebut.

Diskusi dan bedah film dokumenter ” Lakardowo Mencari Keadilan ” dengan tema diskusi “Lamongan Tolak Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)”,tersebut. Ditambahkannya oleh
Achmad Nhasir Falachuddin, ” Kita sudah menyaksikan film bisa kita lihat bagaimana dampak adanya Limbah B3, kita sebagai aktivis harus terus mengawal dan memulai serta melakukan pendampingan, dan kita sudah mengetahui isu di kecamatan Brondong yang akan didirikan Pabrik B3, sehingga kita dapat mengetahui dampaknya. Dikatakan, ” Setelah ini mari kita dengarkan dari para pakar Narasumber dari beliau dan beliau berdua ini merupakan putra asli Lamongan jadi kita dapat belajar dari mereka.

Sementara, Marzuki aktivifis Lingkungan Hidup Brondong Lamongan mengungkapkan, ” Disini saya akan berbicara tentang ruang, kenapa ruang ini menjadi penting karena saya mendengar bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana sebanyak 650.000 Ha akan dijadikan pabrik, dan itu bisa kita bayangkan bagaimana nantinya, karena lahan pertanian akan berkurang yang akan berdampak pada petani dan sumber makanan yang berkurang.

Saya melihat masyarakat kita ini belum siap dengan berkembangnya industri, karena belum paham tentang era Industri saat ini. Seharusnya di pesisir pantura Lamongan haruslah di bangun industri yang berkaitan dengan industri maritim, jangan dibangun industri yang tidak ada kaitannya dengan keahlian masyarakat pesisir pantura Lamongan yaitu pengolahan Limbah B3.

Menurut Marzuki yang juga Ketua PR GP. Anshor Brondong itu, ” Kemarin kita sudah berdiskusi mudah-mudahan nanti kita dan mengkaji terkait beroperasinya pabrik Limbah B3 tersebut, yang menjadi persolan adalah apakah kita sudah siap, jangan sampai kita hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri.

Contoh saja seperti halnya dibangunnya WBL, dulu kita kenal WBL dengan Pantai Tanjung Kodok yang mempunyai sejarah (Histori) dan kita lihat sekarang berapa persen anak-anak yang terserap untuk bekerja disitu, persolan itu yang akan menimbulkan konflik horizontal. Jadi saya berharap kader-kader PMII dapat menjadi pendamping bagi masyarakat dan mempunyai visi dan misi yang jelas”, ungkapnya.

” Pada kesempatan yang sama Billy Aries selaku narasumber dari Climate Institute Jakarta menyampaikan, ” Saya membaca dari harian Kompas bahwa ada pengusaha lokal Lamongan akan membangun pabrik pengolahan Limbah B3. Ini merupakan pelajaran penting dari film tersebut adalah memberikan pelajaran bagi kita bagaimana kita memviralkan sebuah masalah dengan cara membuat video dan mengirimkan ke Medsos dan itu merupakan model gerakan yang efektif dan masif.

Menurutnya, ” isu lingkungan itu penting, bagi generasi saya adalah uang yang penting, tapi bagi generasi milenial isu lingkungan yang sangat penting, karena kerusakan lingkungan akan berdampak pada kehidupan masa depan, jadi isu lingkungan jangan dianggap sepele/remeh.

Sejak 2005 dana yang dialokasikan untuk bencana terus naik, karena dampak lingkungan akan rusak, Pertumbuhan industri di Indonesia berkontribusi rusaknya lingkungan, antara lain banjir, kebakaran hutan dan lain-lain, seharusnya para pejabat yang berwenang harus berpikir dengan industri yang berkelanjutan yang dapat menghidupi generasi muda kedepan.

Indonesia merupakan kawasan hutan terbesar ke 3 (tiga) dunia tetapi pendapatnya hutannya kecil, artinya pendapatan dari hutan di Indonesia kecil, karena orentasinya pertumbuhan ekonomi, tidak memikirkan kelestarian hutan. ” Saya melihat pesisir pantai jawa ini Nelayan miskin karena biaya melautnya besar, dan ikan tidak berada di dekat pantai karena rusaknya pantai yang dekat banyak tanaman bakau yang hilang.

Jadi pembangunan yang bener itu adalah pembangunan yang berkelanjutan yang menjaga keseimbangan lingkungan, terus dimana keseimbangannya jika akan didirikan pabrik Limbah B3. Menurut saya, ” Janganlah membangun pabrik limbah di Lamongan karena saya lihat pertumbuhan pabrik di Lamongan itu sedikit. Jadi yang penting sekarang menurut saya kita membangun pabrik jangan hanya berorientasi terhadap pertumbuhan ekonomi tapi juga harus memperhatikan lingkungan yang berkelanjutan”, tandasnya.

Ditambahkannya oleh M. Yusuf Awaludin, S.H.I, M.A Narasumber dari Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bung Karno Jakarta, ” Dalam kegiatan pendampingan ini kalian dilindungi dalam dunia kampus ada istilah tridarma, jadi kalian jangan takut dalam melakukan pendampingan. Saya akan bercerita tentang dampak sampah, yang saya tau sekarang banyak negara maju yang sudah tidak dapat mengelola sampah.

Pada tahun 2018 Indonesia sudah pernah mengembalikan sampah kiriman dari negara lain, kenapa Lamongan diincar sebagai pembangunan Pabrik Limbah sebab Lamongan dekat dengan laut, jadi pembuangan sampah tidak hanya di Indonesia tetapi terjadi di seluruh dunia.

Bisnis sampah itu beromset Milyaran, saya mencurigai adanya rute perjalanan pembuangan sampah dari Malaysia akan dibuang ke Kalimantan dan dari Kalimantan akan dibuang ke Lamongan, sekarang banyak negara maju yang tidak mau mengelola sampah bahwa syarat menjadi negara maju salah satunya adalah lingkungan yang sehat.

Saya sendiri perbendapat bahwa masalah sampah ini sama dengan permasalahan teroris karena ini merupakan permasalahan Internasional. Kita minimal harus memahami arus bisnis sampah yang beromset Milyaran, yang jadi persoalan bila nanti berdiri pabrik sampah di Lamongan apakah ada yang menjamin tidak terjadinya penyelundupan sampah dari negara-negara maju.

Persolan sampah ini sudah menjadi persoalan internasional, bahkan yang saya tau organisasi NU sendiri sudah merekomendasikan tentang pengolahan sampah, sehingga kita wajib mendukung. Seperti halnya negara maju khususnya Jerman mereka sangat selektif terkait sampah, mana yang bisa diolah dan mana yang tidak bisa diolah dan yang tidak bisa diolah maka akan dijual atau dikirim ke negara lain, karena menjadi incaran bagi pelaku bisnis sampah.

Kedepan saya merekomendasikan bahwa pada saat yang akan datang Partai Politik akan membahas masalah Lingkungan. Usul saya sekarang kalian harus bisa memanfaatkan media sosial untuk melakukan gerakan untuk mengangkat isu ini dan melakukan kajian-kajian sesuai bidangnya masing-masing”, tandas Yusuf Awaludin.

Pada seosen acara kegiatan diskusi dan Nonton Bareng (Nobar) Bedah Film Dokumenter” Lakardowo Mencari Keadilan ” Salah satu peserta diskusi/Kader PMII PR Sapu Jagad Komisariat INSUD Rizky menanyakan, ” Bagaimana cara kita agar aspirasi kita dapat didengar, karena selama ini yang saya tahu bahwa aspirasi masyarakat banyak yang tidak di dengar…???

Kemudian pertanyaan itu dijawab oleh M. Yusuf Awaludin, S.H.I, M.A selaku Narasumber dari Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bung Karno Jakarta tersebut. Dikatakannya, ” Sebenarnya gerakan itu ada 2 (dua) yaitu aspirasi gerakan yang diterima atau tidak diterima, apabila gerakan kalian diterima maka akan banyak yang mendukung, maka dari itu kalian harus membuat sebuah isu yang mendapatkan empati dari masyarakat luas dengan membuat tulisan dan video dimana narasi tersebut dapat diterima.

Ditekankan oleh Yusuf Awaludin yang juga putra Lamongan tersebut, ” Jangan kwartir pendapat kalian tidak didengar karena ini masalah momentum tentang sampah atau lingkungan, bukan berarti kalian menunggu momentum dengan diam, apabila memang harus dilakukan dengan cara intimidasi terkait pembangunan Pabrik itu, karena itu merupakan isu penting, sederhananya bahwa negara maju saja tidak mau mengelola limbah bagaimana dengan kita yang hanya negara berkembang”, tandasnya.

” Bahwa kegiatan tersebut membahas dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pabrik Limbah B3 serta akibat yang muncul akibat pembangunan Pabrik tersebut. Kegiatan tersebut berkaca dari akibat pengolahan Pabrik PT. Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) yang berlokasi di Desa Lakardowo Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (*).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *