Kejaksaan Negeri Jakarta Utara Laksanakan Pengamanan Tahanan Sesuai SOP

Hukum468 views

Jakarta Kabarone.com,-Pengamanan tahanan yang akan mengikuti dan yang sudah mengikuti persidangan telah memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Setiap tahanan yang akan disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, terlihat seluruhnya mengenakan baju tahanan Kejaksaan dan tahanannya di borgol. Hal itu terlihat dalam persidangan terdakwa Edrick Tanaka Tan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 20/6/2024.

Terdakwa dalam perkara KDRT tersebut, sebelum dan sesudah menjalani persidangan, langsung dikenakan pakaian tahanan dan diborgol setelah kembali ke ruang tahanan sementara di Pengadilan. Pengawal tahanan sudah dengan sigap melaksanakan SOP yang diterapkan Kejaksaan Agung terhadap para tahanan yang akan menjalani persidangan di seluruh Pengadilan. Tanpa terkecuali dan tidak melihat jenis perkaranya SOP dilaksanakan.

Kepala Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, Rans Fismy SH MH, sempat terlihat di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, siang 20/6/2024, untuk memonitoring penanganan dan pengamanan tahanan yang akan bersidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Sempat bercanda gurau dengan wartawan Media Center PN Jakarta Utara dan Kejaksaan Negeri Jakarta Utara. Namun tidak berkomentar tentang kehadirannya untuk memonitoring pengamanan di Pengadilan.

Sementara terdakwa Edrick Tanaka Tan dan terdakwa lainnya usai persidangan langsung diborgol karena pada persidangan sebelumnya terdakwa tidak mengenakan baju tahanan dan tidak diborgol.

Untuk diketahui, terdakwa Edrick TT disidangkan dalam perkara KDRT terhadap istrinya Susan. Dalam persidangan terungkap Edrick Tanaka Tan pukul istrinya lantaran berulang kali menyebut keluarganya “Anjing”

Siapa yang tidak marah jika seorang istri menyebut nyebut keluarga suaminya dengan ucapan kurang bagus didengar, Semut pun akan marah jika sarang dan ratunya dirusak. Mungkin kiasan bahasa ini yang dialami Edrick Tanaka Tan, hingga membuat dirinya kesal dan emosi lalu melakukan dugaan pemukulan terhadap istrinya bernama Susan S. Atas perbuatannya tersebut dirinya ditahan dan didakwa melanggar Undang Undang Kekerasan Dalam Rumah Keluarga (KDRT).

Dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), pimpinan I Wayan Gede, SH MH, didampingi dua hakim anggota Iwan Irawan dan Sontang Sinaga, menurut pelaku KDRT, Edrick Tanaka Tan, bahwa motif pemukulan yang dia lakukan terhadap korban istrinya tanggal 3 November 2023 di rumahnya di Perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan Jakarta Utara, lantaran berulang ulang istri menyebut keluarga saya keluarga “Anjing”.

Awalnya terjadi kesal terhadap korban, sebab pada tanggal 2 November 2023, saat saya masih berada di Manado bekerja, orang tua saya cekcok dengan istri lantaran gaji baby sitter sering dipotong korban. Lalu orang tua saya meminta uang gaji untuk baby sitter dan karyawan lain, agar orang tua saya langsung kepada orangnya. Sebab ada informasinya gaji baby sitter dan yang lainnya dipotong korban dari 6 juta rupiah menjadi 4 juta. Informasi pemotongan gaji karyawan tersebut saya ketahui dari karyawan langsung, kata Edrick Tanaka Tan menjawab pertanyaan majelis darimana tahu bahwa gaji karyawannya dipotong.

Oleh karena itu, orang tua saya dan korban cekcok hingga istri saya memukul mertuanya sampai ada bekas luka. Kejadian itu tanggal 2 November 2023 saya masih berada di Manado tempat kerjaan. Lalu saya beritahu ke orang tua korban (Mertua) agar diselesaikan masalah istri dan mertuanya secara kekeluargaan karena sesama orang tua. namun tidak ada respon dari orang tua korban.

Kata terdakwa, korban memberitahukan kepada saya melalui telepon genggam bahwa dirinya cekcok dengan orang tua, lalu langsung membeli tiket pesawat dan terbang ke Jakarta. Setelah tiba di Jakarta dan bertemu istri, lalu menanyakan kejadian sebenarnya tapi korban marah marah dan berulang kali menyebut keluarga saya keluarga “Anjing” saya emosi dan kesal lalu memukul korban di bagian kelopak matanya. Terdakwa mengaku dirinya memukul istrinya hanya untuk memberikan pelajaran.

Dalam pengakuan terdakwa, sebelum kejadian pemukulan tersebut, dirinya sudah pernah mengingatkan istrinya, karena bepergian ke tempat hiburan Karaokean tanpa sepengetahuan saya sebagai suaminya, sehingga sudah beberapa kali membuat kesal, ucapnya di hadapan majelis hakim, JPU dan Penasehat Hukumnya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara 20/6/2024.

Dalam kejadian tersebut tanggal 3/11/2023, karena sebelumnya saya sudah membeli tiket ke China karena urusan pameran dari tempat kerja, tanggal 4 November 2024, langsung terbang ke China Guangzhou. Saya tidak tahu ada panggilan Polisi dan tidak pernah diperiksa Penyidik terkait dugaan pemukulan tersebut, dan saya tidak tahu masuk daftar DPO. Tapi saat saya tiba di Cina dan menyiapkan document di Guangzhou saya diamankan petugas Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou bersama petugas Ditjen Imigrasi Indonesia di China.

Saya dipulangkan ke Indonesia dan diperiksa Imigrasi tapi saya tidak ditangkap lalu diserahkan ke Polres Jakarta Utara. Pimpinan majelis Hakim menanyakan, kamu saat dibawa diborgol gak, Edrick menjawab Iya, Majelis menyampaikan iya itu namanya ditangkap, ucap pimpinan sidang.

Dalam penyampaian keterangan sebagai terdakwa, baik JPU Dawin SH, dan Majelis Hakim menanyakan apakah kamu menyesali perbuatanmu, jawab Edrick, iya sangat menyesal lalu menyampaikan minta maafnya kepada korban istrinya dan kepada seluruh keluarga istrinya. Terdakwa minta kepada majelis hakim agar dirinya bisa bertemu anak anaknya. Majelis hakim menyimpulkan bahwa pemeriksaan saksi saksi baik saksi JPU dan saksi meringankan dari pihak terdakwa sudah selesai diminta keterangannya, lalu persidangan berikutnya disampaikan kepada JPU untuk menyiapkan requiaitoir (tuntutannya).

Dalam perkara KDRT tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dawin Sofian Gaja SH, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara, menjerat terdakwa Edrick Tanaka Tan, dengan UU KDRT. Yang mana sanksi terhadap perbuatan KDRT diatur dalam Bab VIII tentang ketentuan pidananya dijelaskan secara rinci dalam pasal 44-53. KDRT dalam bentuk kekerasan fisik yang tergolong berat bisa dikenakan ancaman maksimal 10 tahun penjara dan 15 tahun penjara jika korban KDRT meninggal dunia.

Diluar persidangan, Penasehat hukum terdakwa menyampaikan, bahwa dalam perkara ini, istri terdakwa Edrick TT yang disebut korban KDRT, telah menjadi tersangka di Polda Metro Jaya. Perkara itu terkait dugaan pemukulan yang dilakukan istri Edrick Tanaka Tan kepada korban H orang tua terdakwa (mertua istrinya).

Menurut tim Penasehat Hukum, Michael Remizaldy Jakobus SH MH, Sihar Natanael Nababan Cs, bahwa kliennya tidak melarikan diri usai melakukan dugaan pemukulan terhadap korban, namun sebelum kejadian terdakwa sudah membeli tiket ke Guangzhou China dalam rangka pameran dari kerjaan, jadi bukan melarikan diri, ungkap Michael dan rekannya usai persidangan, 20/6/2024.

Lebih lanjut ditambahkan, “bahwa perkara yang dilaporkan ayah Edrick di Polda Metro Jaya sudah ada tersangkanya atas nama istri Edrick. Oleh karena itu kami selaku Penasehat Hukum terdakwa Edrick berharap, agar perkara itu dilanjutkan ke Pengadilan untuk disidangkan demi kepastian hukum,” ucap Penasehat Hukum.

Penulis P.Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *