Perkara KDRT Edrick Tanaka Tan Pukul Istrinya Lantaran Disebut Keluarganya “Anjing”

Hukum224 views

Jakarta ,Kabarone.com,-Siapa yang tidak marah jika seorang istri menyebut nyebut keluarga suaminya dengan ucapan kurang bagus didengar, Semut pun akan marah jika sarang dan ratunya dirusak.

Mungkin kiasan bahasa ini yang dialami Edrick Tanaka Tan, hingga membuat dirinya kesal dan emosi lalu melakukan dugaan pemukulan terhadap istrinya bernama Susan S. Atas perbuatannya tersebut dirinya ditahan dan didakwa melanggar Undang Undang Kekerasan Dalam Rumah Keluarga (KDRT).

Dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), pimpinan I Wayan Gede, SH MH, didampingi dua hakim anggota Iwan Irawan dan Sontang Sinaga, menurut pelaku KDRT, Edrick Tanaka Tan, bahwa motip pemukulan yang dia lakukan terhadap korban istrinya tanggal 3 November 2023 dirumahnya di Perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan Jakarta Utara, lantaran berulang ulang istri menyebut keluarga saya keluarga “Anjing”.

Awalnya terjadi kesal terhadap korban, sebab pada tanggal 2 November 2023, saat saya masih berada di Manado bekerja, orang tua saya cekcok dengan istri lantaran gaji baby sister sering dipotong korban. Lalu orang tua saya meminta uang gaji untuk baby sister dan karyawan lain, agar orang tua saya langsung kepada orangnya. Sebab ada informasinya gaji baby sister dan yang lainnya dipotong korban dari 6 juta rupiah menjadi 4 juta. Informasi pemotongan gaji karyawan tersebut saya ketahui dari karyawan langsung, kata Edrick Tanaka Tan menjawab pertanyaan majelis darimana tahu bahwa gaji karyawannya dipotong.

Oleh karena itu, orang tua saya dan korban cekcok hingga istri saya memukul mertuanya sampai ada bekas luka. Kejadian itu tanggal 2 November 2023 saya masih berada di Manado tempat kerjaan. Lalu saya beritahu ke orang tua korban (Mertua) agar diselesaikan masalah istri dan mertuanya secara kekeluargaan karena sesama orang tua. namun tidak ada respon dari orang tua korban.

Kata terdakwa, korban memberitahukan kepada saya melalui telpon genggam bahwa dirinya cekcok dengan orang tua, lalu langsung membeli tiket pesawat dan terbang ke Jakarta. Setelah tiba di Jakarta dan bertemu istri, lalu menanyakan kejadian sebenarnya tapi korban marah marah dan berulang kali menyebut keluarga saya keluarga “Anjing” saya emosi dan kesal lalu memukul korban di bagian kelopak matanya. Terdakwa mengaku dirinya memukul istrinya hanya untuk memberikan pelajaran.

Dalam pengakuan terdakwa, sebelum kejadian pemukulan tersebut, dirinya sudah pernah mengingatkan istrinya, karena bepergian ketempat hiburan Karaokean tanpa sepengetahuan saya sebagai suaminya, sehingga sudah beberapa kali membuat kesal, ucapnya dihadapan majelis hakim, JPU dan Penasehat Hukumnya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara 20/6/2024.

Dalam kejadian tersebut tanggal 3/11/2023, karena sebelumnya saya sudah membeli tiket ke China karena urusan pameran dari tempat kerja, tanggal 4 November 2024, langsung terbang ke China Guangzhou. Saya tidak tahu ada panggilan Polisi dan tidak pernah diperiksa Penyidik terkait dugaan pemukulan tersebut, dan saya tidak tahu masuk daftar DPO. Tapi saat saya tiba di Cina dan menyiapkan document di Guangzhou saya diamankan petugas Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou bersama petugas Ditjen Imigrasi Indonesia di China.

Saya dipulangkan ke Indonesia dan diperiksa Imigrasi tapi saya tidak ditangkap lalu diserahkan ke Polres Jakarta Utara. Pimpinan majelis Hakim menanyakan, kamu saat dibawa diborgol gak, Edrick menjawab Iya, Majelis menyampaikan iya itu namanya ditangkap, ucap pimpinan sidang.

Dalam penyampaian keterangan sebagai terdakwa, baik JPU Dawin SH, dan Majelis Hakim menanyakan apakah kamu menyesali perbuatanmu, jawab Edrick, iya sangat menyesal lalu menyampaikan minta maafnya kepada korban istrinya dan kepada seluruh keluarga istrinya. Terdakwa minta kepada majelis hakim agar dirinya bisa bertemu anak anaknya.

Majelis hakim menyimpulkan bahwa pemeriksaan saksi saksi baik saksi JPU dan saksi meringankan dari pihak terdakwa sudah selesai diminta keterangannya, lalu persidangan berikutnya disampaikan kepada JPU untuk menyiapkan Requisitor (tuntutannya).

Dalam perkara KDRT tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dawin Sofian Gaja SH, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara, menjerat terdakwa Edrick Tanaka Tan, dengan UU KDRT. Yang mana sanksi terhadap perbuatan KDRT diatur dalam Bab VIII tentang ketentuan pidananya dijelaskan secara rinci dalam pasal 44-53. KDRT dalam bentuk kekerasan fisik yang tergolong berat bisa dikenakan ancaman maksimal 10 tahun penjara dan 15 tahun penjara jika korban KDRT meninggal dunia.

Diluar persidangan, Penasehat hukum terdakwa menyampaikan, bahwa dalam perkara ini, istri terdakwa Edrick TT yang disebut korban KDRT, telah menjadi tersangka di Polda Metro Jaya. Perkara itu terkait dugaan pemukulan yang dilakukan istri Edrick Tanaka Tan kepada korban H orang tua terdakwa (mertua istrinya).

Menurut tim Penasehat Hukum, Michael Remizaldy Jakobus SH MH, Sihar Natanael Nababan Cs, bahwa klainnya tidak melarikan diri usai melakukan dugaan pemukulan terhadap korban, namun sebelum kejadian terdakwa sudah membeli tiket ke Gungzhou China dalam rangka pameran dari kerjaan, jadi bukan melarikan diri, ungkap Michael dan rekannya usai persidangan, 20/6/2024.

Lebih lanjut ditambahkan, “bahwa perkara yang dilaporkan ayah Edrick di Polda Metro Jaya sudah ada tersangkanya atas nama istri Edrick. Oleh karena itu kami selaku Penasehat Hukum terdakwa Edrick berharap, agar perkara itu dilanjutkan ke Pengadilan untuk disidangkan demi kepastian hukum,” ucap Penasehat Hukum.

Penulis P.Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *