by

Napak Tilas Mayangkara, Mengenang Sejarah Perjuangan Bangsa

Kabarone.com, Lamongan – Pelaksanaan gerak jalan Napak Tilas Mayangkara Kabupaten Lamongan untuk mengenang masa penjajahan belanda dalam rangka mempertahankan daerah Mantup dan sekaligus memperingati HUT RI ke- 74 tahun 2019. Yang bertempat di Lapangan Mayangkara Desa/Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Sabtu, (12/10/2019).

Dengan Inspektur Upacara (Irup) Bupati Lamongan H. Fadeli, SH., MM dan sebagai Danup Danramil 0812/22 Glagah Kapten Kav. Nur Chodjim dengan Penanggung Jawab Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Lamongan M. Muhadjir, SH., M.Si yang diikuti sebanyak 1.750 orang dari 250 regu peserta.

Kilas sejarah Mayangkara, ” Pada minggu-minggu pertama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, untuk menjaga keamanan di Kota Surabaya dibentuk Badan Keamanan rakyat atau BKR, dengan pimpinan Soengkono. Untuk melaksanakan tugas menjaga keamanan dibutuhkan suatu pasukan bersenjata api yang orang-orangnya mahir menggunakan senjata itu.

Maka dibentuklah barisan bersenjata dibawah pimpinan R. Djarot Soebijantoro dari Jibakutai (Pasukan Berani Mati Jepang). Barisan ini kemudian dinamakan barisan penyerbu atau BP, sedang anggota-anggotanya terdiri dari anak buah Jibakutai dulu, ditambah para pelajar, Heiho dan Arek-arek Suroboyo lainnya. Barisan ini menjadi bayangkari di markas BKR Surabaya yang berkedudukan di Jalan Cendana (sekarang Jl. Kombespol. M. Duryat)

Ketika BKR pada tanggal 5 Oktober 1945 dilebur menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Barisan Penyerbu dilantik dan diresmikan menjadi Kompi Barisan Penyerbu TKR Divisi VII yang memiliki anggota kira-kira 300 orang, 70% diantaranya bersenjata yang didapat dari perampasan terhadap tentara Jepang.

Karena mengalami gempuran-gempuran hebat dari musuh, markas pertahanan Surabaya terpaksa berpindah-pindah tempat, demikian juga markas Komando kompi BP dari jalan Cendana pindah ke taman Bungkul, Wonokromo, Pabrik Gula Tulangan, Kedurus, Mlaten, Sepanjang, Bambe, Driyorejo hingga Perning. Selama itu kompi BP selalu menjadi tulang punggung kekuatan dari markas pertahanan Surabaya dan ikut berpindah-pindah.

Dalam sejarah perjuangan Batalyon Mayangkara sejak pecah revolusi, terutama pada sebelum tercapainya kembali Kedaulatan Republik Indonesia, banyak peristiwa yang mengharukan, perjuangan dengan penuh semangat patriotik.

Pada tanggal 5 Mei 1946, Batalyon Djarot dipindah dan selanjutnya berkedudukan di mantup. Di daerah ini tugasnya yang terpenting adalah membentengi markas Pertahanan Surabaya di wilayah utara. Selain membendung serangan musuh dari timur (Kota Surabaya), juga berusaha mengacau pertahanan musuh. Jelaslah untuk itu dituntut pasukan yang giat dan kewaspadaan yang tinggi.

Dua bulan setelah berada di daerah Mantup, pada bulan Juli 1946, Mayor Djarot mendapat hadiah dari Kepala Daerah Mantup seekor kuda berwarna putih bernama Mayangkara. Mengapa kuda yang bagus itu dihadiahkan kepada Komandan Batalyon Djarot ? Konon Kepala Daerah Mantup sebelumnya bermimpi kedatangan seorang pendeta yang mengatakan bahwa kuda peliharaannya itu harus diberikan kepada seorang pemimpin pertempuran yang ada di daerah itu.

Agaknya terjadi sambung rasa antara yang memberi dan yang diberi. Sebab, menurut pengakuannya, R. Djarot Soebijantoro (Mayor. Inf. TNI-AD) pada waktu itu juga bermimpi kedatangan seorang raja mengendarai kuda berwarna putih, sang Raja kemudian memberikan kuda tunggangannya, dengan pesan agar kuda tadi dipergunakan untuk memimpin barisan, dilansir dari artikel Ardy Setyawan, red).

Dan untuk mengenang peristiwa tersebut telah diperingati setiap tahunnya diadakan gerak jalan Napak Tilas Mayangkara untuk mengenang perjuangan , dengan start dari Gedung Monumen Mayangkara di Kecamatan Mantup dan finish di depan Pendopo Lokatantra.

Lebih lanjut, Amanat dan Pernyataan gerak jalan Napak Tilas Mayangkara, diberangkatkan Bupati Fadeli selaku Inspektur Upacara, menyampaikan, ” Gerak jalan Napak Tilas Mayangkara ini juga sebagai wahana olahraga dilaksanakan juga dalam memperingati HUT RI 74, dan HUT TNI serta bertepatan dengan HUT Provinsi Jawa Timur.

Gerak jalan Napak Tilas Mayangkara merupakan kegiatan peringatan perjuangan Batalyon 503 pada zaman Belanda disebut pasukan Kuda Putih dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Jaga kebersamaan dan keamanan dalam pelaksanaan kegiatan ini”, terang Bupati Fadeli.

Selanjutnya, pemberangkatan peserta gerak jalan Napak Tilas Mayangkara dengan Regu pembawa bendera Merah Putih dipimpin oleh Danru 1 Ton 3 Ki/B Yonif Pararaider 503/MK Serda Tri Andi Saputra dilepas oleh Bupati Lamongan H. Fadeli, SH., MM. Pemberangkatan peserta gerak jalan sejauh 19 km dengan Start lapangan Mayangkara Desa/Kecamatan Mantup – Jl.Raya Kecamatan Mantup – Jl. Raya Kecamatan Kembangbahu – Jl.Raya Kecamatan Tikung – Jl. Sunan Drajad – Jl. Lamongrejo – Finish Patung Bandeng Lele Kabupaten Lamongan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Lamongan H. Fadeli, SH., MM, Dandim 0812/Lamongan Letkol Inf. Sidik Wiyono, SH., M.Tr. Han, Wabup Lamongan Hj. Kartika Hidayati, SH., MHP, Sekda Lamongan Dr. Yuhronur Efendi, MBA, Kasdim 0812/Lamongan Mayor Arh. GN Putu Ardana, S.S., Kepala OPD se Kabupaten Lamongan, Pa. Staf dan Danramil Jajaran Kodim 0812 Lamongan, Camat se- Kabupaten Lamongan, Muspika Kecamatan Mantup serta peserta gerak jalan, (pul/As).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *