12 Terminal Tipe B Kurang Layak Perlu Diperbaiki

Daerah, Regional508 views

Kabarone.com, SEMARANG – Semenjak pelimpahan 24 terminal dari pemkab ke pemprov Jateng pada 1 Januari 2017 lalu, terminal penumpang tipe B tersebut resmi menjadi kewenangan Dinas Perhubungan.Sehingga diharapkan ke 24 terminal ini
mampu meningkatkan layanan transportasi, dan memberikan sumbangan pendapatan daerah. Sedangkan untuk kelembagaannya bisa ditingkatkan menjadi BUMD.

Anggota Komisi D DPRD Jateng Moch. Ichwan menuturkan, Pada saat penyerahan 24 terminal dari Pemkab ke Pemprov Jateng, ada beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kepemilikan lahan, karena lahan tersebut masih milik KAI dan ada juga yang milik Bondo Deso.

“Setelah kami temen-temen anggota dewan mengadakan kunjungan kerja ke berbagai terminal, ada beberapa terminal yang perlu mendapat perhatian dari Pemprov Jateng, yaitu ada 9 terminal yang masih layak dan ada sekitar 12 terminal yang kurang layak, baik dari sisi SDM maupun infrastrukturnya perlu dibenahi agar terminal layak dan nyaman untuk disinggahi bus,” papar Moch Ichwan dalam dialog bersama Parlemen, dengan tema Menuju Terminal Mandiri yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di ruang loby Hotel GETS, Semarang, baru baru ini.

Sementara itu, Ka Dishub Prov. Jateng, Satriyo Hidayat membenarkan apa yang dikatakan Moch. Ichwan. Bahwa dalam pelimpahan 24 terminal dari Pemkab ke Pemprov Jateng terkendala pada status tanah yang masih milik PT. KAI dan ada pula yang milik bondo deso. 9 terminal masih bermasalah status tanahnya, ada beberaoa tempat yang masih sewa, 4 terminal masih milik Pemkab karena tanahnya masih status bondo deso.

“Kita masih menambah terminal lagi, diantaranya Purworejo, karena parkirannya bagus dan luas. Inilah yang masih kita pikirkan, kita masih butuh lagi 11 terminal lagi, diantaranya di Kendal, Cilacap, Pati, Rembang dan Banyumas. Ada upaya terhadap terminal yang layak karena keterbatasan anggaran maka yang kita lakukan dengan dipupuri supaya terminal dilihat dari luar terlihat bersih dan asri. Kemudian landasan harus perlu perbaikan supaya bus yang mau masuk terasa nyaman tidak ada lagi jalan ada jeglongannya,” terangnya.

Di sisi lain, pengamat transportasi Universitas Diponegoro, Bambang Riyanto mengakui memang ada penurunan pengguna angkutan umum khususnya bus. Ini bisa juga dikarenakan banyaknya masyarakat yang sudah punya mobil pribadi, akan tetapi tren pelayananan transportasi darat ada peningkatan pada armada, maka penggunanya akan kembali meningkat, terutama yang perjalanannya antar pulau maka penggunanya juga kembali meningkat. (Amr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *