by

Keikhlasan Guru Ngaji, Berbuah Umroh Gratis Dari Yayasan SUN

-Daerah, Regional-1,193 views

Kabarone.com,Lamongan – Program 1000 Hamba Allah Sujud di Baitullah, untuk keberangkatan bulan Maret 2019 ke- 34 kali ini di berikan kepada Jumiran, pekerja penggali batu dan sebagai guru ngaji asal Desa Nguwok Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Minggu, (3/03/2019).

Ia mendapat kejutan hadiah umroh gratis dari Yayasan Sedekah Umroh Nasional (SUN) oleh Ketua Rombongan Tim Yayasan Sedekah Umroh Nasional Dwi Purhayati yang didampingi Ketua Harian Yayasan Berkas Bersinar Abadi Bripka Purnomo bersama sahabat Polres Lamongan pejuang sosial dan sebagai pihak yang mengusulkan Pak Jumiran bisa mendapatkan Umroh gratis dari Umroh Spesial, Yayasan Sedekah Umroh Nasional. Karena kegigihannya tanpa mengenal lelah mengajar ngaji dengan ikhlas tanpa pamrih. Kedatangan rombongan yang mengapresiasi upaya Pak Jumiran yang ikut mencerdaskan anak-anak bangsa.

Pada pagi hari itu Jumiran saat sedang menggali batu seperti biasa, sangat kaget sekali tiba-tiba didatangi oleh Tim dan akan mempersoalkan pekerjaannya tersebut. Saat Tim rombongan menyinggung tentang izin penggalian batu tersebut, Jumiran seketika terdiam dan saat itu juga raut muka berubah menjadi merah rasa cemas dan khawatir bakal terjadi. Kemudian Tim berkata bahwa dirinya datang bersama rombongan yaitu untuk membawa surat panggilan untuk Jumiran, dan panggilan tersebut langsung disuruh baca, setelah Jumiran membaca surat tersebut badannya bergetar serasa tersambar petir dia langsung tengkurap bersujud syukur ke bumi, karena surat tersebut bukanlah panggilan ke kantor Polisi, tetapi tiket umroh gratis ke tanah suci makah, karena rombongan yang datang adalah dari Yayasan SUN bersama Tim.
Selanjutnya Tim rombongan sembari merangkul bahu Jumiran dengan rasa begitu terharu, Sabtu (2/3).

Ketua Yayasan SUN Indonesia Dwi Purhayati mengatakan, kenapa yang dipilih Jumiran karena sebelumnya tim sudah melakukan surve, tim penilai Jumiran layak mendapatkan bantuan.” Alasan Pak Jumiran diberikan sedekah umroh karena kesehariannya dengan ikhlas mengajar ngaji tanpa pamrih dan juga kesehariannya bekerja sebagai kuli (pekerja kasar) penggali Batu katel untuk menafkahi keluarganya. Menurut akal manusia Pak Jumiran tidak mungkin bisa berangkat ke Baitullah tapi menurut logika, iman beliau ternyata bisa berangkat ke Baitullah. Saya yakin Pak Jumiran tauhidnya sangat tinggi sekali dan yakin beliau bisa sampai ke Makah dan Madinah. “ Pak Jumiran tidak akan dipungut biaya sepeser pun untuk berangkat umrah pada pada bulan Maret nanti. Untuk biaya paspor, vaksin meningitis, uang saku sudah disiapkan, pak Jumiran hanya menyiapkan fisik dan iman untuk ke Tanah Suci.

Ditambahkannya”, Sedekah Umroh yang bisa dilaksanakan sudah sebanyak ini ke- 34 dan masuk ke- 38, hal ini berlaku seluruh Indonesia semuanya ditanggung oleh Yayasan Sedekah Umroh Nasional. Untuk kriteria khusus agar bisa mendapatkan sedekah Umroh adalah Hafidz Al-Qur’an, Marbot Masjid, Imam Masjid, Mu’adzin, Guru ngaji, orang-orang dan tokoh-tokoh yang bisa bermanfa’at bagi umat”, ujar Dwi Purhayati yang komunitasnya kebanyakan berprofesi sebagai orang Medis tersebut.

Sementara Jumiran guru ngaji yang juga penggali batu katel sebagai orang yang beruntung mendapatkan hadiah Umroh geratis dari Yayasan Sedekah Umroh Nasional. Ia dengan begitu terharu mengatakan”, dibenak hatinya mengatakan bahwa ia miskin tapi kaya di mata Allah. Kesehari harian saya cuma bekerja sebagai penggali batu sejak 15 tahun yang lalu untuk menghidupi keluarga saya bersama istri dengan dua anak, yang pertama kelas 1 SD/MI dan anak yang kedua masih berumur 19 bulan. Pekerjaan sebagai penggali batu yang ditekuninya kadang-kadang kalau ramai dapat 80 ribu bahkan kadang-kadang tidak ada pembeli sama sekali.

Saat ditanya oleh Wartawan yang melakukan liputan, apa pekerjaan lain selain penggali batu, ia berkali kali menjawab bahwa pekerjaan saya adalah penggali batu (seakan-akan menutupi bahwa dia juga sebagai guru ngaji walau berkali-kali wartawan bertanya). Akhirnya Jumiran menjawab, “Bahwa selain saya bekerja sebagai penggali batu saya juga mengajar ngaji di pondok pesantren (Ponpes) Muta’alimin ini desa Nguwok Kecamatan Modo Lamongan. Menurut Jumiran ia mengajar mulai pukul 14.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB tapi dalam praktek kesehariannya dalam mengajar ngajinya sampai pukul 17.00 WIB. Hal ini dilakukan sejak tahun 1999 jadi sudah 20 tahun yang lalu.

Lebih lanjut, ditanya soal firasat sebelumnya Jumiran mengatakan, ” Sebelumnya ia memang bermimpi sedang mandi dan ada banyak orang, menurut Jumiran mimpi ini adalah pertanda buruk kalau di tafsirkan dengan filosofi Jawa jadi hatinya selalu was-was. Akan tetapi kenyataan malah sebaliknya yang terjadi saat ini mimpi mandi tersebut diantarkannya untuk berangkat Umroh ke tanah suci Makah. Masya’Allah, Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… “, pungkas Jamali seraya bersujud syukur di hamparan bebatuan tempat ia mencari nafkah dengan menyebut Subhanallah… Dengan membaca Do’a Selamat (Sapu Jagad):

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa Aatinaa Fiddun Yaa Hasanah, Wa Fil Aakhiroti Hasanah, Waqinaa ‘Adzaa Ban Naar.
Artinya :
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka, Aamiin…

” Jumiran merasa sangat terkejut, karena awalnya dirinya mengira rombongan yang datang ke tempat penggalian batu dimana ia mengais rezeki adalah kekhawatiran dan kecemasan yang dialami, namun tak disangka malah dirinya mendapatkan panggilan Allah, yaitu mendapatkan ibadah umroh gratis”, pungkasnya (*).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *