by

Menilik Dari Keraton Kaprabonan Cirebon Di Balik Ritual Malam 1 Suro

-Daerah-2,854 views

Kabarone.com, Cirebon – Datangnya bulan Suro memiliki aneka makna dalam pandangan masyarakat Jawa. Bahkan ada sebagian masyarakat yang menyakini dianggap keramat bila tanggal 1 Suro jatuh pada Jum’at legi. Hingga pada malam 1 Suro ada pula sebagian masyarakat menyakini dilarang pergi ke mana-mana, kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.

Seperti setiap tahunnya di Kota Cirebon, Jawa Barat selalu memperingati 1 Muharam sebagai lahirnya daerah & berdirinya / Hari Jadi Pemerintah Kota Cirebon sehingga pada malam 1 Suro yang bertepatan Tahun Baru Islam (1 Muharam) dimana Kepala Daerah mengundang semua lapisan masyarakat mulai dari pejabat sampai rakyat.

Salah satunya disaat warga masyarakat sudah kumpul di suatu tempat, kemudian untuk mendengarkan cerita rakyat Babab Cerbon (Sejarah Cirebon) yang dibacakan dengan hikmat. Meski sebagian orang meyakini malam itu adalah malam keramat, karena banyak dikait-kaitkan dengan kisah mistis menyelimuti acara itu, apalagi jatuh pada malam itu.

Tanggal 1 Muharam 1437 Hijriah yang jatuh pada tanggal 14 Oktober 2015 merupakan peringatan Hari Jadi Kota Cirebon ke 646 dan seperti biasanya dimeriahkan dengan beragam pagelaran kesenian daerah, lomba-lomba dan kegiatan lainnya.

Bahkan rangkaian kegiatan Hari Jadi Kota Cirebon ke-646 yang jatuh pada tanggal 1 Muharam atau 14 Oktober 2015 lalu diisi sedikitnya 37 macam berbagai kegiatan perlombaan, pertunjukkan budaya, pengajian dan lainnya yang dilaksanakan mulai dari bulan September lalu. Sedangkan puncak perayaan Hari Jadi Kota Cirebon ke-646 dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2015 mendatang di Pelabuhan Cirebon.

Namun sebagian masyarakat justru kerap melakukan tradisi, di malam berselimut mistis yang juga bertepatan dengan Tahun Baru Islam atau 1 Muharam. Begitu juga di Keraton Kaprabonan Kota Cirebon, Jawa Barat tak sedikit orang mengikuti prosesi menjelang pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam atau malam tahun baru Islam ( Jawa ; 1 Suro. )

Kegiatan rutin tahunan ini diselenggarakan oleh Paguyuban Abdi Dalem Kasultanan Kaprabonan Kota Cirebon bersama-sama dengan kerabat keraton dan masyarakat dari pelosok desa yang sengaja menyempatkan diri untuk mengikuti ritual bulan Suro.

Keraton Kaprabonan Kota Cirebon menggelar kirab pusaka pada peringatan malam 1 Suro, 14 Oktober 2015. Selain mengarak pusaka milik keraton, yang sebelumnya dicuci. Air yang dipergunakan untuk menjamas (mencuci) pusaka milik keraton diyakini memiliki tuah bagi sebagian orang.

Mereka yang meyakininya, rela berebut air yang dianggap bertuah itu pada malam 1 Suro di Kompleks Istana Keraton Kaprabonan. Jamasan pusaka itu selain bertujuan untuk merawat pusaka juga sebagai simbol untuk mendapat keselamatan.

Sebagian orang, mengikuti tradisi ini sudah menjadi kewajiban. Alasannya adalah karena tradisi ini bertujuan untuk meminta keselamatan dunia dan akhirat selain juga agar harapannya dapat tercapai.

“Sebagai ikhtiar untuk selamat dan mendapat rejeki yang banyak. Biar harapan kita dapat dikabulkan,” ungkap salah seorang pengunjung, Andi

Saat melakukan tradisi Suro harus dengan niat yang kuat dan tahan godaan di jalan untuk tidak berbicara selama melakukannya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, katanya.

Pergantian Tahun Baru Islam 1437 Hijriah di Keraton Kaprabonan Kota Cirebon, Jawa Barat disambut sukacita kaum muslim lewat berbagai ritual diantarnya diawali tawashul Suro, cuci pusaka, ruwatan, tausiah Pagelaran Wayang Golek Cepak dan kegiatan sosial lain serta pemotongan tumpeng.

Ritual unik dalam menyambut Tahun Baru Islam 1437 Hijriah juga dilakukan di beberapa daerah, salah satunya di Keraton Kaprabonan Kota Cirebon dengan diawali tawashul Suro, cuci pusaka, ruwatan, tausiah dan Pagelaran Wayang Golek Cepak.

Sebagaimana disampaikan KH Maksum Hidayatulah dari Pontren Babakan Ciwaringin dalam tausiahnya menanyatakan keraton-keraton di Indonesia rata-rata memperingati pada bulan Syuro

Dijelaskan datangnya bulan Suro atau bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat tanah Jawa pada umumnya.

Namun bagi ummat Islam bulan Muharam yang juga disebut sebagai bulan syarul maghfiroh. Untuk itu ummat Islam agar setiap tarikan nafasnya senantiasa mengingat Allah SWT dengan meminta ampuanNya, ungkap KH Maksum Hidayatulah

Untuk itu banyaklah mengucapkan istighfar mengingat dibulan assyura ini banyak peristiwa-peristiwa penting seperti diselamatkannya nabi Nuh dari banjir, Nabi Yusuf diangkat dari sumur tua, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan dan peristiwa penting lainnya, bebernya.

Sehingga bulan Muharam merupakan salah satu bulan dimana Allah SWT membuka pintu ma’af untuk hambanya. Untuk itu warga Keraton Kaprabonan khusunya agar dapat mengambil manfaatnya dan bagi ummat Islam yang hadir juga jangan sampai kehilangan kesempatan yang baik pada bulan Suro ini, pintanya.

Adanya pagelaran wayang golek cepak itu merupakan simbol nasihat lewat seni agar ummat manusia ingat selalu terhadap Yang Maha Kuasa. Karena seni budaya wayang diprakasai Sunan Kalijaga merupakan syi’ar Islam melalui seni budaya wayang yang dapat dinikmati sampai saat ini, paparnya.

Karena wayang artinya wayae sembayang ( waktunya sholat – red) & cerita wayang itu merupakan dakwah karena isi ceritanya dapat menyadur dari isi Al Qur’an. Juga figur nama-nam wayang itu masing-masing mempunyai peran serta makna tersendiri,tegasnya.

Sultan Kaprabonan Cirebon, Ir. P. Hempi Raja Kaprabon mengatakan peringatan bulan Suro atau bulan Muharam merupakan tradisi tahunan dalam rangka syiar Islam dan melestarikan budaya leluhur.

Dijelaskan Hempi, mengajak seluruh umat Islam untuk menghadiri perayaan bulan Suro atau bulan Muharram yang akan digelar di depan Keraton Kaprabonan Jl.Lemahwungkuk Kota Cirebon, Jawa Barat

Menurutnya,1 Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura di mana bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender hijriah, karena Kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriah (Islam). Biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal 1. Karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.

Adapun kegiatan di Keraton Keprabonan meliputi pagi jam 10 tawashul Syura, Jam 11 Cuci pusaka. Malam Jam 19.30 seni Hadro dilanjutkan ruwatan. Kemudian dilanjutkan tausiah dan penutup pagelaran wayang golek cepak, bebernya

Sedang abdi dalem yang datang ke Keraton Keprabonan dari Desa Bungko Kecamatan Kapetakan & Sedong Kabupaten Cirebon. Juga Kecamatan Majenang & Majasen Kabupaten Cilacap serta warga masyarakat dari pelosok desa, pungkasnya. (Mulbae)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *