Antisipasi Penyebaran Penyakit DBD, Pemerintah Desa Tawangrejo melakukan Fogging

Daerah, Regional865 views

Kabarone.com, Lamongan – Dalam kegiatan fogging kali ini, Arif Staf Upt Dinas Kesehatan Kecamatan Turi menjelaskan, penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) memungkinkan terjadi di daerah-daerah yang sering digenangi air atau rawa serta sungai yang airnya tak bisa mengalir.

“Seperti halnya di Desa Tawangrejo Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan ini, karena tempat seperti ini sangat disukai oleh nyamuk Aedes Aegypti sebagai tempat bersarangnya bibit penyakit DBD,” jelas Arif, Senin, (6/03) kemarin.

Ditambahkan, Penyebaran DBD cenderung terjadi pada musim hujan seperti yang terjadi di kabupaten Lamongan saat ini. Pada musim ini nyamuk Aedes Aegypti yang merupakan penyebaran penyakit DBD tersebut cepat dan mudah berkembang biak karena banyaknya genangan air.

Menurutnya lagi, fogging merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran penyakit demam berdarah melalui pengasapan sarang nyamuk Aedes Aegypti.

Meskipun demikian cara pengasapan (fogging) tidak sepenuhnya sebagai solusi atau jalan keluar yang terbaik untuk bisa dapat mencegah penyebaran DBD. Akan tetapi dampak obat yang disemprotkan melalui fogging hanya bersifat sementara atau bisa berusaha membasmi nyamuk yang hidup, tapi untuk bibit penyakit yang masih berupa telur dan jentik – jentik tak bisa mudah untuk di basmi.

“Tindakan yang paling tepat atau ampuh untuk memberantas sarang nyamuk adalah “3M plus” atau menjaga kebersihan lingkungan untuk melakukan tindakan pencegahan (preventif) dengan cara MENGUBUR, MENUTUP, dan MENGURAS.

MENGUBUR, yang dimaksudkan adalah segala bentuk benda yang tidak terpakai/sampah, namun dapat menjadi tempat air untuk bersarang nyamuk, harus dikubur.
MENUTUP, yakni menutup segala tempat yang dapat menampung air sehingga tidak dapat dimasuki nyamuk yang dapat berkembangbiak. Sedangkan MENGURAS, adalah menguras bak tempat air dan tempat air lainnya secara teratur.

Selain itu, pencegahan penyebaran DBD juga dapat dilakukan dengan menyebarkan bubuk Abate ke tempat penampungan air. Namun yang paling efektif katanya, untuk mencegah penyebaran DBD dibutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya.
Karena pencegahan (preventif) lebih penting dari pada pengobatan/penyembuhan (kuratif).

Seluruh benda yang dapat menyebabkan genangan air harus disingkirkan agar tidak dapat dimanfaatkan nyamuk sebagai tempat bersarang nyamuk Aedes Aegypti.

“Mengenai biaya fogging per rumah kena biaya Rp 7.000,-(tujuh ribu Rupiah) karena dari hasil Laboratorium medis pasien rata – rata Negativ DBD jadi pengajuan fogging tidak focus (tak dapat bantuan dari dinas kesehatan) bahkan serbuk Abate pun tak dapat,” tambah Arif.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Desa (Kades) setempat Masbukhin, SH. mengatakan, langkah -langkah yang dilakukan pemerintah Desa Tawangrejo ini dengan tujuan untuk mengantisipasi penyebaran DBD di wilayah Desa Tawangrejo ini.

Ia meminta upaya pencegahan DBD tersebut agar dapat dimaksimalkan diseluruh wilayah Desa Tawangrejo. Karena dari 3 Dusun yang ada, yakni Dusun Getung, Dusun Kauman, Dusun Deyo hampir semuanya rawan penyebaran DBD.

Dari hasil penelusuran data di setiap tahunnya, sejauh ini masyarakat penderita kasus DBD berasal hampir dari setiap tahunnya di Desa Tawangrejo selalu ada yang terjangkit wabah penyakit DBD. Seperti halnya saat ini ada warga yang kena demam (HB/Trombocyt turun) dari keterangan hasil Laboratorium medis, yakni pasien yang bernama Hj.Surati (46) tahun, rawat Inap di RSI Nashrul Ummah dan A.Muwaffiq Lazuardi.

Sumiran (47) tahun, rawat Inap di RSI Nashrul Ummah. Dan 2 anak lagi rawat Inap di Puskesmas Kecamatan Turi. Biaya fogging juga sebagian di topang anggaran dari Pemerintah Desa dan swadaya masyarakat karena tidak focus (Negativ DBD) jadi tak bisa mendapatkan bantuan biaya fogging dari Dinas Kesehatan alias biaya sendiri sesuai yang disampaikan Staf Upt Kecamatan Turi Arif,”ungkap Kades Masbukhin.

Ditambahkan oleh Plt Sekdes Abdul ghofur, dilingkungan Desa Tawangrejo banyak kolam dan sungai yang airnya tidak mengalir dan banyak juga genangan air jadi rentan penyebaran bersarangnya nyamuk Aedes Aegypti maka dari itu kami himbau kepada semua warga masyarakat bilamana ada warga yang terindikasi demam berdarah segera cepat melaporkan ke pemerintah desa biar segera cepat di tindaklanjuti sebelum terjadi kejadian yang fatal,” pungkas Plt Sekdes Ghofur, (pul,pur).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *