by

Penuh Inovasi, Brand Kostum Kader LGC Setia Bakti Cemerlang Berbahan Zak dan Plastik

Kabarone.com,Lamongan – Kegiatan perlombaan Lamongan Green and Clean yang lebih umum disebut Lomba LGC adalah merupakan sebuah kompetisi lingkungan hidup untuk membuat dan mencari lingkungan yang paling bersih dan hijau. Kompetisi ini diikuti oleh setiap Rukun Tetangga (RT) yang ada di wilayah Kabupaten Lamongan dan kali ini perlombaan bertempat RT 03/RW 05 Ngaglik Timur Kelurahan Sukorejo Kecamatan Lamongan.

” Diterik panasnya matahari yang menyengat, Hendrik selaku Ketua RT 03/RW 05 Ngaglik Timur Kelurahan Sukorejo mengatakan bersama warga RT dengan begitu semangat dan penuh kekompakan, Berkeliling dalam memberikan motivasi pelaksanaan Lamongan Green and Clean (LGC). Kegiatan ini selalu disambut dengan antusias oleh warga RT kami termasuk brand (merk/icon) yang dimiliki oleh kader LGC “Setia Bakti Cemerlang” RT 03/RW 05 Ngaglik Timur adalah tampil beda dan penuh inovasi dedikasi kretifitas para warga. Selasa, (15/10/2019).

Banyak dari warga kami yang berlomba-lomba membeli bunga dan menanamnya di lingkungan sekitar rumah masing masing agar lebih hijau dan bersih. Pasukan yel-yel kreatif sebagai brand dari para kader juga diciptakan untuk acara penyambutan juri, yel-yel di RT kami nama “Setia Bakti Cemerlang”. Hal ini dilakukan agar nantinya lingkungan RTnya memenangkan kompetisi dalam perlombaan tahun 2019 yang sekarang dari Katagori level Mandiri untuk bisa naik ke Katagori level Kencana, nantinya”, harap Hendrik dengan penuh optimis.

Sementara, Agus Winarto Tim juri Bagian Kesehatan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lamongan yang mendampingi dua orang Tim juri dari DLH Provinsi Jatim, diantaranya Vira Hartanti dan Hj. Utami. ” Agus Winarto mengatakan, terkait penilaian LGC ini ada beberapa katagori diantaranya katagori perintis, berkembang, maju, mandiri, kencana dan yang terakhir Comunity Center. Untuk penilaian di RT ini katagori mandiri untuk naik ke kencana, kreterianya mandiri harus ada taman ada inovasi baru.

Soal evaluasi kedepan tidak ada, cuma bagaimana sebaiknya untuk ke depan agar ditingkatkan semangatnya kemudian sekiranya ada tanaman yang kurang bagus diganti yang kosong ditambahi. Harapanya taman lindung sebaiknya ditambahi. Disamping itu, udara panas untuk menepis global woming (pemanasan global) dibuat seasri hutan kota. Seperti halnya paru-paru kehidupan kita adalah dari tanaman, apalagi tanaman lindung.

” Alangkah bagusnya tanaman itu diserempakkan semua jalan juga terasa teduh (dingin). Lanjutnya, kami dari DLH kabupaten menyampaikan, untuk katagori maju mandiri dan kencana juga comunity center itu bagian dari penilaian DLH provinsi, DLH kabupaten sebatas membantu penilaian. Untuk perintis dan berkembang itu pihak DLH provinsi yang membantu DLH Kabupaten. Kalau di RT ini katagori mandiri ini yang punya wewenang adalah DLH provinsi dan DLH kabupaten Lamongan sebatas membantu.

Kita ada empat Tim dan satu Timnya empat orang jadi terjun ke setiap kelurahan tadi. Kemudian sukorejo bagian saya. Satu hari penilaian mencapai maksjmal enam titik. Tapi kalau ngoyoh (kerja lebih) sampai delapan titik penilaian.

Sisi positiv dan negativnya LGC, di dalam LGC ada yang namanya biopori, semakin banyak biopori itu sumber air di dalam tanah ini semakin banyak. Seperti pada masa musim penghujan itu otomatis biopori melalui sumur resapan itu masuk, didalam tanah debit sumber air semakin lama semakin berkurang, dengan adanya biopori itu menapung sekaligus menabung air melalui lobang resapan. Tujuanya kalau musim kemarau ini adalah air kan masuk diserap tumbuh-tumbuhan yang besar-besar itu.

Dan kalau disamping biopori itu terdapat sumur otomatis kemungkinan ndk bakalan habis. Semakin banyak biopori semakin bagus. Sumber air di dalam tanah ini semakin lama semakin berkurang dan sumber airnya dipompa melalui sumur bor sumur gali. Dengan adanya lobang biopori itu. Pada musim penghujan kita menabung, kalau ndk ada biopori melalui got langsung hilang. Menabung tidak harus uang tapi perlu juga menabung air untuk persiapan ketika kemarau”, terang Agus Winarto juri bagian kesehatan DLH.

” Pada kesempatan ini Sumardi Kepala Kelurahan Sukorejo saat ditanya soal anggaran kegiatan lomba LGC, ia menjawab bahwa anggaran tersebut murni dari swadaya masyarakat dan tidak ada subsidi dari pemerintah. Hal ini sudah menjadi budaya menjadi kebiasaan dan merupakan panggilan moral bukan karena perintah, karena kepedulian dalam melaksanakan LGC ini.

Jadi semacam budaya dan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dua tahun yang lalu masih dibantu dari Bante(Bantuan RT) dan baru dua tahun ini tidak ada. Masyarakat kita sudah menjadi kebiasaan mulai dari konsumsi, semuanya dari anggaran swadaya. Saat ditanya untuk bantuan anggaran kurang lebih satu Miliar yang ada di kelurahan saat ini, nantinya baru bisa untuk memberikan bantuan sedikit sebagai sentuhan berupa cat, tanaman dan pupuk dan sudah direalisasikan dan itu sebagai pancingan, 10 kg cat dari dana kelurahan tapi pihak sudah nambah 100 sampai 200 persen pengecatan.

Di Ngaglik Timur seluruhnya ada 24 RT dan 8 RW. Ngaglik Timur satu lingkungan terdiri dari 4 RT satu RW. Dan saat ini penjurian Mandiri ke kencana ada 5 RT. Di Ngaglik Timur 2, di Ngalik Barat 2, di Groyok 1 dan ini penilaian yang terakhir. Tanggal 17 itu ada RT kencana 2 RT. Penilaian di Ngaglik Timur ini katagori kencana (mandiri ke kencana) untuk tanggal 17 dari kencana ke Comunity dan lebih atas lagi lebih bergengsi lagi”, terang Lurah Sumardi.

Hal senada dipertegas oleh Drs.Fathur Rozi, MM Camat Kecamatan Lamongan, ” Dalam lomba LGC kali ini melibatkan dari semua RT di Kecamatan Lamongan dengan akomulasi 98℅ dari RT yang ada di Kecamatan Lamongan. Ada satu dua yang ndk ikut/kebetulan tahun ini absen, tapi pada prinsipnya semua RT di Kecamatan kota ikut. Alhamdulillah kita bisa lihat dilapangan, para kader lingkungn itu tidak malah surut tapi semangatnya luar biasa. Yang kita lihat ini bukan semangatnya dalam menjaga lingkungnya luar biasa tetapi kebersamaan dan kekompakkan semakin bagus.” Menurut Camat yang panggilan akrabnya Rozi, hal seperti itu yang tidak dimiliki di tempat RT lain.

Komponen yang terlibat dalam penjurian (penilaian) dari surabaya. Yang diketahui Camat Ada dua Tim juri dari surabaya. Harapan Camat, cuma satu saja, bahwa lingkungan pemukiman di Kecamatan Lamongan kota makin hari semakin sejuk, semakin hari semakin bersih, semakin hari semakin teduh sehingga impian kita untuk mewujudkan lingkungan yang Green And Clean itu betul-betul menjadi kenyataan.

Saat ditanya apakah ada wacana untuk merubah jadwal waktu penilaian lomba Green Clean dari kemarau semacam ini ke musim penghujan. Camat Rozi mengatakan, terkait hal itu sudah kami komunikasikan dengan pihak DLH kabupaten karena yang mengatur segala macam soal jadwal waktu penilaian adalah dari DLH, tetapi ini ada hikmahnya juga, di musim seperti ini kemudian di lakukan penilaian, ini tantangan tersendiri bagi para kader lingkungan. Kalau di musim penghujan biasa-biasa saja kan, tapi kalau di musim kemarau ini kita bisa tahu kader-kader lingkungan nantinya diharapkan bisa mengambil sisi positifnya”, pungkas Camat Rozi (Pul/As).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *