by

Ketua GNPK RI Kokab Cirebon Dilantik : Korupsi Lebih Berbahaya Dari Teroris dan Narkoba

-Politik-1,379 views

 

Kabarone.com, Cirebon – Tindak pidana korupsi – suap – gratifikasi bukanlah sesuatu barang baru. Akan tetapi sudah menjadi tradisi buruk yang ada sejak lama, bahkan sebelum republik ini berdiri. Tepatnya pada masa kolonial bahkan pada masa kerajaan-kerajaan yang tersebar dipelosok nusantara.

“Korupsi, kolusi & nepotisme (KKN) merupakan suatu kebiasaan yang selalu ada yang dilakukan penyelenggara negara, ” kata Ketua Gerakan Nasional Pencegaan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Kota / Kabupaten Cirebon, Kasno Hardiwan, SH seusai dilantik Sabtu, (23/04) di Cirebon.

Menurutnya, KKN biasanya dilakukan oleh pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan keuangan negara untuk maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain yang merugikan keuangan negara.

“KKN juga biasanya sering kali dilakukan melalui persengkokolan atau permufakatan jahat oleh beberapa oknum untuk memperoleh keuntungan diatas penderitaan rakyat,” tegas Kasno.

Dijelaskan, korupsi-suap-gratifikasi-kolusi & nepotisme adalah merupakan suatu penyakit mental, penyakit moralitas sebagai penyumbang terbesar atas kemiskinan, ketidakadilan sosial, diskriminasi & penderitaan bagi rakyat dan disisi lain juga telah nyata-nyata merusak kehidupan berbangsa & bernegara.

Selain itu, korupsi lebih berbahaya  dari teroris dan narkoba. “Kita semua sadari & sepakat bahwa korupsi adalah suatu kejahatan luar biasa yang menjadi musuh bagi kita bersama, ” ungkap Ketua Umum GNPK-RI DPW Propinsi Jawa Barat, NS.Hadiwinata.

Saat ini korupsi tumbuh subur di berbagai negara terbelakang & negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Dampak korupsi dapat merusak kehidupan berbangsa & bernegara, maka bahaya korupsi lebih berbahaya  dari teroris dan narkoba.

Sementara Ketua Umum GNPK-RI DPP Pusat HM Basri Budi Utama, menyatakan sebenarnya kondisi Indonesia ini tak bedanya pada masa kolonial. “Hanya bedanya sekarang dijajah oleh bangsa sendiri,” ungkapnya.

Kemerdekaan yang sebenarnya belum dapat dinikmati masyarakat. Faktanya bisa dilihat yang katanya bumi nusantara ini sangat subur (tongkat, kayu bisa jadi tanaman) justur daerah penghasil itu masyarakatnya masih tertinggal bahkan dibawah garis kemiskinan.

“Contohnya daerah-daerah penghasil tambang emas, tambang minyak, tambang batu bara, ironisnya warga masyarakatnya masih tertinggal dibanding daerah lain yang bukan penghasil tambang. Sebab banyak pemimpin di negeri kita justru  menjadi “pencuri” di rumahnya sendiri,” pungkasnya. (Mulbae)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *