by

Tim Gabungan Akan Tertibkan Kafe Esek Esek Jampan

-Daerah, Regional-591 views

Kabarone.com, Bangka Barat – Terkait keberadaan warung esek-esek atau biasa disebut “kafe” tetapi liar yang sudah menahun milik Kariadi alias Bigo di Dusun Jampan Desa Kelabat, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) pada Kantor Camat Parit Tiga Rusli, mengatakan untuk penanggulangan kafe liar dimaksud pihaknya harus berkoordinasi dengan banyak pemangku kepentingan seperti Muspika dan Pemerintah Desa setempat. “Ini merupakan penyakit masyarakat (pekat). Keberadaan kafe liar tersebut sudah cukup lama. Untuk mengambil tindakan diperlukan tim. Sejumlah pihak akan dilibatkan”, kata Rusli dikantornya (28/8).

Lebih lanjut dikatakan, untuk koordinasi penanggulangan, selain tim Pemerintah Daerah seperti Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) dan Pemerintah Desa juga akan berkoordinasi dengan pihak masyarakat, LSM dan jugaTokoh Agama. “Selain tim pemerintah, kami juga mesti berkoordinasi dengan masyarakat, LSM dan Tokoh Agama”, katanya.

Sementara dilain tempat, Plt Kades Kelabat Rusma, mengatakan pihak Pemerintah Desa Kelabat siap bekerjasama dengan pihak kecamatan untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Menurutnya pihak pemilik kafe liar itu tidak ada melapor ke Desa. Dirinya bahkan baru mendengar keberadaan kafe liar itu. Rusma bahkan berjanji segera turun ke lokasi. “Kami siap bekerjasama dengan tim gabungan. Atas laporan ini saya beserta staf segera menindak lanjuti”, kata Rusma.

Sebelumnya tim Kabarone.com pernah menemui pemilik kafe liar itu yang persis dipinggir jalan dan berhadapan dengan pabrik smelter timah, yaitu Kariadi alias Bigo. Saat kedatangan tim sekira tengah hari, dari bilik warung tampak beberapa lelaki dengan sejumlah botol bir ditemani beberapa wanita. Menurut Bigo dulu usahanya ada ijin untuk tempat hiburan karaoke dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Barat. Tapi sejak tahun 2012 sudah habis masa berlakunya. “Sudah habis ijinnya dan belum diperpanjang lagi”, ujar Bigo.

Sementara status tanah dan bangunan kafe tanpa surat tanah sama sekali. Untuk keberlangsungan usahanya, dia cukup berkoordinasi dengan sejumlah aparat. “Tentu saya sudah koordinasi dengan sejumlah aparat”, katanya. Bigo mengakui warungnya memang menyediakan minuman beralkohol dan sejumlah wanita penghibur. “Sekarang agak sepi. Ada beberapa pelayan wanita yang berasal dari Palembang (Sumsel)”, ujar Bigo. Sedikit menantang, Bigo mengatakan tidak takut usahanya ditertibkan. “Silahkan saja ditertibkan. Saya dapat makan bukan dari usaha ini saja. Saya juga ada usaha lain seperti unit tambang timah (ti) kok”, katanya. (Shd)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *