UMB Lakukan Pemberdayaan Forum Komunikasi Adat Desa Sawarna Melalui Program PKM

Daerah, Regional1,123 views

Kabarone.com, Banten – Berlokasi di Kabupaten Lebak, Banten, dan berjarak sekitar 150 km dari kota Rangkasbitung, Desa Sawarna lebih dikenal sebagai desa wisata. Keindahan pantainya dan nuansa alamnya, sangat menarik untuk dikunjungi. Misalnya saja Pantai Karang Taraje, Pantai Pulau Manuk, dan Pantai Ciantir, semuanya memiliki deburan ombak yang besar, dikenal juga dengan nama Pantai Sawarna. Begitu cantiknya, hingga sudah mulai dikenal oleh banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun ironisnya, desa ini masih banyak ketertinggalan dalam segi pembangunan, baik infrastruktur, maupun sumber daya manusianya. Itulah sebabnya, Universitas Mercu Buana (UMB) terpanggil untuk turut serta membangun desa ini, melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Tim PKM Magister Ilmu Komunikasi UMB pada bulan Februari 2019 lalu, dengan mengusung tema “Pemberdayaan Tokoh Masyarakat dan Forum Komunikasi Adat Sebagai Media Komunikasi Harmonis dan Pembangunan Desa Sawarna”, yang diketuai oleh Dr. Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan, S.Sos, M.T., CPR, CICS, atau yang akrab disapa Bunda Rossa.

Menurut Bunda Rossa, tema tersebut bukan hanya saja sebagai solusi atas masalah yang berhasil diidentifikasi, tetapi juga untuk menambah pengetahuan, menyamakan persepsi, dan menambah kreativitas para tokoh masyarakat dan pemuka adat masyarakat Desa Sawarna, tentang peran tokoh masyarakat dan forum komunikasi adat sebagai media komunikasi harmonis dan pembangunan masyarakat Desa Sawarna Lebak Banten.

“Selain itu, juga sebagai cara untuk melindungi dan mengembangkan budaya yang menjadi kearifan lokal, yang mengandung nilai-nilai luhur bagi tata kehidupan masyarakat Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten. Hal tersebut sungguh penting, selain karena nilai-nilai moral dan religius serta etika yang terkandung dalam budaya lokal sering memberikan petunjuk yang sangat berharga bagi perlindungan masyarakat setempat, juga untuk pelestarian lingkungan hidup. Itulah sebabnya, perlu untuk mengaktifkan dan memaksimalkan fungsi forum komunikasi adat masyarakat Desa Sawarna,” ungkap Bunda Rossa kepada KabarOne, (27/3).

Apalagi akhir–akhir ini, lanjutnya, ada banyak wilayah di negara ini diterpa konflik perpecahan akibat isu suku, agama, maupun ras. Agar hal tersebut tidak terjadi pada masyarakat Desa Sawarna, yang mulai ramai dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri, menurut Bunda Rossa, perlu kiranya diantisipasi sedini mungkin. Diantaranya dengan mengaktifkan dan memaksimalkan forum komunikasi adat masyarakat desa, agar berfungsi bukan hanya untuk keharmonisan masyarakat Desa Sawarna saja, tetapi juga untuk pembangunan masyarakatnya.

Apakah hal tersebut efektif ? Tentu butuh waktu untuk dapat membuktikannya. Namun setidaknya, Dr. Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan beserta Dr. Ahmad Mulyana, Dr. Heni Gusfa, Dr. Inge Hutagalung, Dr. Suraya, Dr. Laila Mona, Dr. Syaifuddin, Dr. Nurkholisoh, dan para mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UMB, sudah bertindak nyata bagi Sawarna. Mari berbagi dan peduli nyata melalui kegiatan PKM. (Rhp/Vv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *