by

Puncak HJl ke 450, Perlu Di Luruskan Lamongan Memiliki Sejarah Besar Di Masa Lampau

Kabarone.com,Lamongan – Acara puncak Hari Jadi Lamongan (HJL) ke- 450 yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2019 tahun 2019 ini, Bupati Lamongan Fadeli tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya saat prosesi Pasamuan Agung di Pendopo Lokatantra, Minggu (26/5). Salah satunya terutama karena kini Kabupaten Lamongan Jawa Timur resmi memiliki Pakaian Khas Lamongan (PKL).

Sementara, dalam berbagai event resmi seperti HJL dan pelantikan pejabat, busana adat yang biasa dikenakan adalah Pakaian Khas Jawa Timur (PKJ).

“Nanti jika dalam setiap undangan resmi tercantum pakaian yang dikenakan adalah PKL, Bapak dan Ibu jangan bingung. Karena itu adalah busana adat kita, yang secara resmi kita kenalkan hari ini,” ujar Fadeli.

Memiliki busana adat khas sendiri Lamongan. Menurut Fadeli sangat penting bagi Lamongan yang memiliki sejarah besar di masa lampau, sejarah yang diukir oleh manusia-manusia gagah perkasa. Sejak era Airlangga, Majapahit, hingga Sunan Giri dan Sunan Drajat.

“Yang mengucapkan Sumpah Palapa adalah anak Lamongan. Karena Mahapatih Gajah Mada memang dilahirkan di Lamongan. Sejarah ini perlu diluruskan, agar anak-anak kita termotivasi dan memiliki kebanggan,” kata dia.

Terhadap sejarah ini, dia juga terbuka jika memang ada fakta baru terkait sejarah Lamongan. Karena ada satu literasi yang menyebutkan Panji Laras dan Panji Liris itu sudah ada sejak era Sunan Giri II. Epos Panji Laras Panji Liris yang dilamar dua putri Adipati Kediri, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi selama ini sangat lekat dengan sejarah Lamongan. Sementara Panji Laras Panji Liris sendiri disebutkan sebagai putra Adipati Lamongan.

Sedangkan penetapan HJL yang berlaku saat ini didasarkan pada diwisudanya Hadi oleh Sunan Giri IV menjadi adipati pertama di Lamongan dengan gelar Tumenggung. Puncak HJL Lamongan ditandai dengan pembukaan selubung pataka lambang daerah di Gedung DPRD. Pataka itu kemudian dikirab keliling Kota Lamongan.

Masyarakat cukup antusias menyambut kirab di sepanjang jalan. Karena panitia menyuguhkan delapan kesenian tradisional di setiap perempatan yang dilalui rombongan kirab. Ribuan takjil gratis juga dibagikan pada masyarakat yang hadir. ” Dalam kirab itu pula, PKL untuk pertamakalinya digunakan dalam event resmi. Seperti disampaikan Fadeli, dalam event resmi selanjutnya di Lamongan akan terus menggunakan PKL. Karena busana ini terinspirasi dari sejumlah budaya lokal. Seperti penggunaan batik singomengkok, dan aplikasi kowakan pada busana pria yang mengambil ciri khas busana adat tambal sewu”, papar Bupati Lamongan Fadeli di depan pendopo Lokatantra setelah acara Kirab pataka keliling kota Lamongan.
(Ful/ian)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *