Legitimasi Masyarakat dan Buramnya Masa Depan Pendidikan di Desa

Opini422 views

Jakarta.Kabarone.com-pendidikan seyogyanya memiliki visi kritis terhadap sistem yang dominan sebagai bentuk pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistem sosial baru dan lebih adil, menjadi agenda tersendiri bagi pendidikan. Perkara demikian diperoleh dari hasil pengejawantahan antara pendidikan yang diatur dalam konstitusi dengan sikon sistem pendidikan pada realitas sosial saat ini.

Kultur pendidikan dari masa ke masa baik yang terjadi di desa maupun di kota nampak memiliki kesamaan utamanya dalam hal metode pendidikan. Metode yang dikembangkan dalam dunia pendidikan dan pelatihan terhadap masyarakat mewarisi pikiran positivisme seperti objektivitas, empiris, tidak memihak pada peserta, berjarak dengan objek belajar, rasional dan bebas nilai.

Pemecahan persoalan pendidikan seharusnya tidak dilakukan secara parsial per kasus, tetapi haruslah dilakukan secara menyeluruh untuk semua masalah dalam konteks kebersamaan. Dengan begitu, sungguh tidak bijak, jika memecahkan satu masalah di atas dengan meninggalkan masalah yang lain. Sebagai misal, untuk memecahkan persoalan pertama, jangan dilakukan secara parsial dan dikontraskan dengan pemecahan masalah yang lain. Jika hal itu dilakukan, maka yang akan terjadi adalah kekbijakan yang satu akan dengan sendirinya menghambat pada penuntasan masalah yang lainnya.

Paradigma Pendidikan:

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).

Sementara itu, Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekaligus; pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat di masa mendatang. Kedua, mentransfer (memindahkan) ilmu pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan peradaban.

Lebih lanjut, pendidikan di mata Freire merupakan sebuah pilot project dan agen untuk melakukan perubahan sosial guna membentuk masyarakat baru. Menjadikan pendidikan sebagai pilot project, berarti kita berbicara tentang sistem politik kebudayaan (cultural politics) yang menyeluruh dan melampaui batas-batas teoritis dari doktrin politik tertentu, serta berbicara tentang keterkaitan antara teori, kenyataan sosial dan makna emansipasi yang sebenarnya.

Pendidikan dan Persepsi Masyarakat Desa:

Pendidikan sebagai salah satu modal utama yang memiliki kontribusi penting terhadap kemajuan bangsa tentu harus didukung pula oleh sarana-prasarana pendidikan yang memadai dan yang tidak kalah penting adalah akses pendidikan yang terjangkau. Pada hakikatnya pendidikan itu sangat penting akan tetapi kendala terbesarnya adalah akses pendidikan yang memerlukan biaya tinggi.

Budaya dan corak metropolitan modern di perkotaan menjalar masuk ke pemukiman masyarakat desa. Perkara tersebut juga didukung kuat oleh orientasi dunia modern yang bergerak pada poros industrialisasi dan yang terpenting adalah poros tersebut membutuhkan SDA agar tetap langgeng. Lingkungan desa yang masih tetap asri dan rindang menjadi sasaran utama para investor yang bergerak pada bidang industri. Desa dengan wajah kota adalah keniscayaan.

Masyarakat desa yang tergiur dengan panorama kehidupan masyarakat kota tentu akan bergerak ke sana selain karena pengaruh obsesi, segala sesuatunya telah disediakan oleh wadah industri. Masyarakat desa hanya perlu bekerja untuk mendapatkan nominal lebih untuk ditukar dengan segala macam kemewahan yang ditawarkan dunia industri. Tak ayal, gotong royong dan segala hal yang berhubungan dengan kekerabatan semuanya berubah menjadi money interest. Membantu tetangga untuk menanam padi di sawah tidak cukup hanya dengan ucapan “terima kasih” melainkan harus dengan nominal pula.

Pendidikan bukanlah lagi menjadi perkara utama bagi masyarakat desa melainkan bekerja untuk kehidupan yang lebih layak. Masyarakat desa yang konsumtif adalah masyarakat yang tercipta dari tatanan dunia dengan prioritas profit-oriented seperti ruang pendidikan yang tampil sebagai kendaraan memperoleh keuntungan bukan lagi sebagai sarana memanusiakan manusia.

Perkara demikianlah yang menjadi polemik bagi dunia pendidikan saat ini dari privatisasi hingga kapitalisasi pendidikan. Maka pendidikan justru akan tampil sebagai mesin pencipta kesenjangan dan ketidakadilan. Pendidikan sebagai sarana pengasahan diri manusia menuju konsep kemanusiaan dan memanusiakan seperti yang termaktub dalam UUD 1945 tentang tujuan pendidikan nasional adalah merupakan sebuah jawaban atas segala polemik di atas, lantas pertanyaannya adalah apakah para aparatur pendidikan berniat dan berusaha untuk menyelaraskan dan menerapkan kembali asa dan cita pendidikan yang termaktub dalam UUD 1945 pada dunia nyata? Kiranya, tidak ada yang mustahil jika diusahakan dengan sepenuh hati untuk kemajuan bangsa dan negara.

Penulis: Fathan Faris Saputro*

*) Penulis juga peraih Award lomba menulis Kemenag Kabupaten Lamongan, peraih juara lomba Hari Pers Nasional, dan kader IMM Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *