by

Mahasiswa Sambut Antusias FGD BNN Di STP Sahid

Sebagai bentuk upaya penekanan terhadap maraknya peredaran narkoba di Indonesia, terutama di kalangan akademisi, maka BNN kembali melaksanakan program kegiatan Focus Group Discussion atau FGD untuk mendorong dan mengajak para mahasiswa, dosen, dan kalangan akademisi untuk beraksi nyata melawan, mencegah dan memberantas narkoba.

Kali ini, kegiatan FGD ini diselenggarakan di STP Sahid yang juga dihadiri oleh beberapa kampus seperti UNPAM, ITI, STP Sahid, UPN Veteran. Dari pihak tuan rumah STP Sahid dihadiri oleh Puket 1 Bidang Akademik STP Sahid dan dihadiri pula narasumber Dr. Sulistiana, M.Si.

Mengawali diskusi, pihak kampus yang  diwakili oleh Puket 1 Bidang Akademik STP Sahid yaitu Muhadi S.kom .MM, dalam sambutannya menjelaskan bahwa fenomena narkoba saat ini telah semakin banyak khususnya di lingkungan kampus.

“Pihak kampus merasa dengan adanya forum ini maka kita dapat mengetahui solusi dan cara mengatasinya. Pihak kampus berharap diskusi ini dapat bermanfaat dan UKM anti narkoba bisa terbentuk dengan adanya kerja sama dengan pihak BNN,”jelasnya.

Sementara itu Kasubdit Lingdik dan Yanmas BNN, Dr. Sulistiana, Msi, menjelaskan, Saat ini Indonesia dikatakan darurat narkoba dengan jumlah pemakaian jenis narkoba yang paling tinggi adalah ekstasi dan sabu, bukan lagi ganja yang harganya sudah mulai meningkat dan di produksi sedikit. Hal ini juga menurut Dr.Sulistiana dikarenakan pecandu dan pengguna narkotika yang semakin banyak, apalagi dikalangan pemuda.

“Penyebab lain Indonesia darurat narkoba disebabkan oleh perbedaan aturan secara regional, jaringan internasional, penjara yang over capacity, dan aturan yang harus diterapkan (Rehabilitasi atau Hukuman Penjara),” paparnya.

Dilihat dari kondisi saat ini, lanjutnya, para pemuda termasuk mahasiswa harus mengenali karakter diri dan karakter lingkungan. Karakter pemuda pengguna narkotika dilihat dari faktor internal dan eksternal, seperi merasa harga diri rendah, ketidak mampuan sosial, identitas diri tidak jelas (mencari status sosial), dan berkepribadian lemah.

“Sebagai pemuda yang mengenali secara sadar, mulailah mengenali karakter diri secara spesifik sehingga mencapai keyakinan yang absolut dengan melakukan aktualisasi diri dan membangun network,” paparnya.

Diskusi berjalan dengan interaktif. Para mahasiswa banyak yang mempertanyakan tentang sanksi dan rehabilitasi yang seharusnya didapatkan oleh mahasiswa pengguna narkoba.

Pihak BNN menjelaskan bagaimana proses yang harus dijalani mahasiswa pengguna narkoba dan bagaimana seharusnya sikap yang diambil dari pihak kampus. Dr. Sulistiana, M.Si menjelaskan, kampus wajib memfasilitasi mahasiswa yang menjadi korban penyalahguna narkoba, bukan di DO. Kemudian kampus juga bisa saja membuka rehab internal untuk lingkungan kampus dan sekitar kampun dengan bekerja sama dengan BNN. (Dn)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *