by

Wakil Bupati Kebumen dan Demak Tinjau Daerah Transmigrasi di Bulungan

Kabarone.com, Bulungan – Sebanyak 65 orang rombongan dari Pemda Kebumen dan Demak berkunjung ke wilayah Satuan Pemukiman (SP) 8 dan SP 6 Tanjung Buka pada Rabu siang (04/08). Kunjungan itu dalam rangka untuk melihat langsung rumah dan lahan transmigrasi yang telah disiapkan Pemkab Bulungan bagi transmigran lokal serta dari wilayah Provinsi Jawa Tengah dan DIY.

Rombongan yang dipimpin Wakil Bupati Kebumen dan Demak turut mengajak Direktur KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang mulai tahun ini mengirimkan mahasiswanya untuk melaksanakan kuliah kerja nyata di wilayah Kabupaten Bulungan. Untuk diketahui, para mahasiswa KKN dari UGM diterjunkan langsung ke daerah pelosok untuk membantu masyarakat. Para mahasiswa KKN UGM di antaranya membantu membuat penyaringan air bersih hingga saluran di daerah Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan.

“Kami menyambut positif kedatangan perwakilan Pemda dari Jawa Tengah untuk melihat langsung kondisi lahan transmigrasi di Bulungan sebelum mereka mengirimkan warganya ke sini,” ungkap Sekkab Bulungan, Drs Syafril.

Pada wilayah SP 8 diketahui telah dibangun sebanyak 250 rumah layak huni berukuran 6 x 8 meter yang diperuntukkan bagi masing-masing KK transmigran. Setiap KK transmigran mendapat alokasi lahan seluas 1 hektare berikut rumah layak huni. Alokasinya sebanyak 100 rumah berikut lahan bagi transmigran lokal dan 150 rumah dan lahan bagi transmigran asal Jawa Tengah dan DIY sesuai MoU yang telah disepakati sebelumnya. Para transmigran juga mendapat jaminan hidup selama 1,5 tahun pertama di mana tiap bulannya masing-masing KK mendapat jaminan hidup berupa sembako dan barang kebutuhan lainnya.

“Kita berharap para transmigran dari Jawa nantinya dapat mengembangkan pertanian di Bulungan sebab di Jawa sendiri lahan sudah sangat terbatas,” ucapnya.

Syafril menambahkan, Pemkab Bulungan juga berharap program transmigrasi ini dapat benar-benar melibatkan petani maupun orang yang memiliki keterampilan bertani dari Pulau Jawa. Sebab tahun-tahun pertama sebagai tranmigran sangat membutuhkan keuletan dan keterampilan bertani yang baik.

“Jangan sampai kegiatan ini hanya memindahkan tingkat kemiskinan dari Jawa ke Bulungan,” imbuhnya.

Menurutnya, salah satu persoalan transmigrasi biasanya ada beberapa KK yang tidak betah atau tidak memiliki keterampilan bertani kemudian menjual rumah dan lahannya lalu pindah ke tempat lain. Padahal program transmigrasi selain membantu penyebaran penduduk juga bertujuan meningkatkan taraf hidup melalui pertanian.

Selain mengunjungi lokasi SP 8 yang telah dibangun perumahan, rombongan turut meninjau lokasi di SP 6 yang masih berstatus calon daerah transmigran. Di wilayah ini belum dibangun perumahan namun telah dibuat kanal sepanjang 4 kilometer berikut lahan hutan yang siap dibuka untuk menjadi kawasan pertanian.(Mudi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *